Budaya Ngarot: Jembatan Penyampai Nilai-Nilai Luhur Lintas Generasi

0
200

Desa Jambak, sebuah lokasi yang bertempat di wilayah kabupaten Indramayu, letaknya jauh dari hingar bingar kota. Desa ini dikelilingi pematang sawah yang hijau membentang, menyejukkan pandangan mata sekaligus menjadi ujung tombak mata pencaharian penduduk sekitar. Tak ayal orang-orang dari daerah lain menyebut kabupaten Indramayu sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Menurut para sesepuh desa Jambak, fakta di atas kemudian melahirkan kebudayaan yang dirawat hingga kini, yakni budaya adat Ngarot. Di samping beberapa adat istiadat di desa Jambak yang juga berkaitan dengan pertanian seperti Mapag Sri, Munjung, dan Sedekah Bumi, adat Ngarot ini masih menjadi prosesi yang banyak diminati masyarakat, sebab melibatkan peserta dan penikmat dari lintas generasi.

Adat Ngarot ini diselenggarakan pada waktu akan di mulainya musim tanam di daerah sekitar, seperti pada bulan Desember atau selambat-lambatnya bulan Januari. Semenjak awal mula diadakannya hingga saat ini, adat Ngarot selalu dilaksanakan pada hari Sabtu, sebab menurut kepercayaan masyarakat sekitar, apabila adat tersebut dilaksanakan di hari lain maka akan ada malapetaka yang menimpa desa Jambak.

Beberapa minggu sebelum hari hajat Ngarot terlaksana, para pedagang sudah lebih dulu tumpah ruah di sepanjang jalan raya desa Jambak, sehingga pada bulan tersebut masyarakat sekitar disuguhi suasana yang lebih ramai daripada biasanya, sebab pengunjung rangkaian adat ngarot ini bukan hanya dari masyarakat setempat, namun juga warga desa lain. Hal tersebut sedikit banyak memberikan hiburan yang mampu menepis jenuh di masyarakat.

Baca juga:  PPB Terbitkan Surat Pengumuman Agenda UAS Semester Genap 2019/2020

Pada puncak acara adat Ngarot ini rombongan muda-mudi desa yang melibatkan diri sebagai peserta kirab budaya atau yang disebut “kasinoman” diiring dari rumah kepala desa sampai ke balai desa Jambak.

Mereka didampingi oleh para perangkat desa dan beberapa penari topeng serta pengisi acara kirab budaya tersebut. Lantunan musik menambah meriah suasana pengiringan hingga berlangsungnya rangkaian acara puncak adat tersebut.

Pada mula-mula adanya budaya Ngarot ini, para kasinoman pria mengenakan busana berupa pakaian komboran hitam dilengkapi beberapa atribut seperti keris yang melambangkan bahwa para lelaki nantinya akan mampu melindungi kaum wanita.

Sementara para kasinoman wanita mengenakan busana yang disebut “Mbak Wangi”, busana asli dari desa Jambak dengan model potongan budaya kodok yang konon menjadi awal adanya gaya kebaya. Dilengkapi pula dengan aksesoris berupa perhiasan emas seperti gelang besar diikuti anting dan kalung yang serba mencolok, kemudian ikat pinggang yang terbuat dari logam serta diikatkan benda-benda bulat, hal-hal tersebut menyimbolkan status kekayaan.

Baca juga:  Feminisme Bukan Untuk Memarginalkan Kaum Adam

Sementara riasan kepalanya menggunakan bebungaan asli seperti bunga cempaka, bunga kantil, bunga kenanga, bunga karniyem pudak, dan bunga kertas yang disusun di atas sanggul. Penggunaan bunga asli tersebut konon sebagai perlambangan kesucian dan kehormatan kaum wanita. Seiring berkembangnya zaman, busana yang dikenakan para kasinoman pun mengikuti kemajuan gaya berbusana.

Seperti pakaian komboran hitam yang mulanya digunakan oleh seluruh kasinoman pria, namun kini hanya digunakan oleh salah seorang pemimpin kasinoman pria, sementara yang lainnya menggunakan busana batik. Kemudian dari sisi kasinoman wanita, kini busana yang mereka gunakan adalah kebaya modern yang masih dilengkapi dengan aksesoris tersebut di atas, namun untuk riasan di kepala tidak lagi menggunakan bunga-bungaan asli melainkan diganti dengan bebungaan sintetis.

Simbol-simbol yang menjadi ciri khas adat Ngarot ini bukan hanya pada saat acara iring-iringan pengantin cilik, namun juga pada saat penyerahan benda-benda atribut pertanian dari perwakilan generasi tua kepada perwakilan generasi muda yang melambangkan bahwa generasi muda tersebut nantinya siap menjadi penerus generasi tua dalam melestarikan warisan leluhur tersebut.

Setelah sampai di balai desa Jambak, para kasinoman wanita disuguhi persembahan tari topeng, sedangkan kasinoman pria menikmati suguhan organ tunggal. Pada saat penari topeng melangsungkang tarian, orang tua yang mendampingi para kasinoman putri akan menyawer salah seorang penari yang disukai.

Baca juga:  Solidaritas Rakyat Di Musim Pandemi Wujud Hidupnya Rasa Empati

Cara menyawernya pun terbilang unik. Orang tua kasinoman putri akan menarik penari dengan kain sewet, kemudian kain sewet tersebut diikatkan pada selendang penari. Setelah itu saweran diberikan berupa uang kertas yang telah disusun membentuk kalung, lalu dikalungkanlah saweran tersebut pada sang penari.

Hal itu menyimbolkan ketertarikan orang tua kasinoman putri kepada penari topeng jejaka yang tampil. Begitulah interaksi tersebut berlangsung terus hingga para penari topeng selesai melangsungkan persembahannya.

Pada hakekatnya, budaya Ngarot mengandung makna-makna simbolik yang dapat tersampaikan dalam berbagai bentuk penerimaan; sarana untuk berkumpul, bergotong royong, mempererat silaturahmi, dan lain sebagainya yang tercermin mulai dari persiapan diadakannya adat Ngarot hingga acara puncaknya.

Budaya memang menjadi jembatan yang tepat bagi para generasi penerus dalam menelisik sejarah leluhurnya. Dalam konteks budaya Ngarot sendiri, diharapkan para generasi penerus ini mampu menjaga kehormatan mereka serta mewarisi nilai-nilai luhur dari para pendahulu juga sistem-sistem pertaniannya.

Sebab secara tersirat, budaya Ngarot mengandung makna-makna berupa pelajaran berharga bagi masyarakat desa Jambak.

Penulis: Ikey
Editor: Harly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here