Buaya Hewan Setia tapi Diidentikan dengan Lelaki Hidung Belang

0
429

Oleh: Ike Maya Sari

Buaya, hewan buas yang satu ini kerap menjadi buah bibir di kalangan para wanita yang tersakiti. Mereka acap kali menyelorohkan kata itu pada lelaki hidung belang yang memporak-porandakan perasaannya.

Buaya darat. Begitu kurang lebih frasa yang dilabelkan kepada para lelaki hidung belang yang hobinya mempermainkan perempuan, yang sukanya gonta-ganti pasangan, maupun yang sering kali punya selingkuhan.

Tunggu dulu. Padahal dalam budaya Betawi, buaya justru menjadi hewan yang namanya digunakan untuk menamai hidangan wajib pada tradisi pernikahan, yaitu roti buaya.

Konon, masyarakat Betawi memang sangat mensakralkan hewan yang satu ini, apalagi untuk jenis buaya putih, bukan main mereka sangat menghormatinya. Bahkan saking dianggap sucinya, masyarakat Betawi dahulu sangat menjaga kelestarian sungai/ kali demi buaya putih itu. Mitos buaya putih itulah yang disebut-sebut menjadi asal muasal hadirnya roti buaya dalam tradisi pernikahan Betawi.

Roti buaya sendiri menyimbolkan kesetiaan. Seperti halnya buaya yang menurut penelitian adalah hewan monogami yang hanya kawin satu kali seumur hidupnya. Apabila pasangannya mati, maka buaya tidak akan memiliki pasangan pengganti dan akan menyendiri selama sisa hidupnya.

Baca juga:  Sepertiga Siang

Selain itu, buaya juga selalu melakukan yang terbaik bagi pasangannya. Mereka membuat sarang, berupa lubang besar, di sisi sungai sebagai tempat bermukim bersama sejolinya. Buaya jantan juga menjadi pengintai yang ganas demi menjaga telur-telur mereka. Maka melalui roti buaya, tersimbollah doa-doa mulia yang dihaturkan bagi kedua mempelai.

Buaya hewan yang setia. Bahkan sains membenarkan fakta tersebut. Namun, ada satu  legenda lain yang secara signifikan mencoreng nama baik para buaya.

Menyadur pada sebuah tulisan di Brilio.net, konon dahulu kala di daerah Soronganyit, Jember, tinggallah seorang pemilik tambak yang memelihara sekelompok buaya jantan dan betina dalam tambaknya. Sehari-hari, para buaya tersebut mempunyai jadwal yang rutin, kapan harus berada di darat dan kapan harus di air.

Suatu ketika, pemilik tambak itu merasa kehilangan seekor buaya jantan. Peristiwa itu sontak menggegerkan seisi desa, sebab mereka khawatir buay tersebut bersembunyi dalam rumah mereka dan akan mengancam keselamatan warga.

Berbulan-bulan lamanya si buaya hilang itu tak kunjung ditemukan, hingga memasuki bulan ketiga akhirnya ia ditemukan di desa sebelah pada sebuah lingkungan yang tandus dan kering. Kendati demikian, buaya itu mampu bertahan hidup. Konon caranya bertahan hidup adalah ‘mandi kucing’ dengan buaya betina yang bukan pasangannya. Ironisnya, buaya betina tersebut masih seumuran dengan anaknya sendiri yang ada di tambak.

Baca juga:  Benteng Pemikiran Kaum Taqlid

Dari cerita abnormal si buaya tersebutlah kemudian menyebar dari mulut ke mulut tentang kisah perselingkuhan si buaya, yang pada akhirnya sebutan buaya darat disematkan pada laki-laki hidung belang.

Terlepas dari satu kisah tentang perselingkuhan buaya di atas, ilmu pengetahuan sendiri telah membuktikan bahwa sejatinya buaya adalah hewan monogami yang tidak suka gonta-ganti pasangan seperti halnya laki-laki hidung belang.

Namun perkembangan zaman yang disponsori cerita dari mulut ke mulut telah membawa image buaya pada judgment yang buruk. Padahal, seharusnya tidak perlu minder jika dilabeli buaya, kecuali jika memang hobinya mempermainkan hati wanita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here