Bicara Gender dari Tribun

0
87
Stadion Batakan. Kredit foto: Tribun Kaltim
Afif Maulana A.K
+ posts

Justisia.com – Tribun adalah tempat yang identik dengan olahraga. Khususnya sepakbola. Istilah tribun biasanya digunakan untuk mewakili bangunan atau kawasan yang berisi tempat duduk penonton. Pengalaman nribun, meski cuma sekali yang membawa tulisan ini bicara gender.

Kenapa gender? Saat itu laga Liga 2 antara Persinga Ngawi menghadapi Madiun Putra. Saya kelas 2 SMP. Waktu itu sore hari. Saat pertandingan perhatian saya berganti sekilas-sekilas: dari lapangan, kemudian ke tribun, lalu ke teman-teman. Saya terkejut ketika ada seorang lelaki yang berdiri tak jauh dari seberang sebelah depan saya mencoba meraih pinggang perempuan di hadapannya. Tidak ada reaksi selain sikap risih yang ditunjukkan perempuan tadi.

Peristiwa hampir sama saya dapati ketika “pura-pura nribun” di kala ajang Asean School Games tahun 2019. Acara itu terbuka untuk umum. Jadi cukup banyak penonton yang datang dari luar kampus, termasuk masyarakat umum. Kebetulan di UIN Walisongo dijadikan venue Bola Voli. Saya berangkat bersama satu teman perempuan saya. Karena kondisi tribun yang sempit alhasil penonton sampai membludak di samping-samping garis lapangan. Kebetulan belakang teman saya ada dua lelaki. Bisik-bisik dan reaksi yang mulai menempel teman saya yang membuat kami mengambil kesimpulan dua lelaki tadi berniat bejat, hingga kami pindah tempat.

Nada seksis dan komentar negatif juga kerap terlontar, hanya karena yang bermain adalah perempuan. “Ah perempuan, bisa apa sih”, “lah kan, memang yang perempuan tidak bisa diharapkan”, “perempuan sih”, dan sebagainya.

***

Berbicara gender adalah berbicara hak. Mengapa isu gender menjadi kencang berhembus belakangan? Karena pada dasarnya diilhami oleh kesadaran bahwa hak untuk merdeka dalam menentukan pilihan, merdeka dalam melakukan sesuatu, merdeka dalam membuat keputusan, dan sebagainya adalah hak siapapun tanpa terkecuali, termasuk yang datang dari belenggu gender.

Berbicara gender berbeda dengan berbicara apa kelamin kamu atau apa kelamin saya?! Sebagaimana ketika kita mencari maksud gender dalam kamus Bahasa Inggris (Oxford Learner’s Dictionary Pocket) ataupun Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Masing-masing mengartikan gender sebagai “is a fact of being male or female” dan “adalah kelamin, seks”.

Melainkan gender itu sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh faktor-faktor sosial maupun budaya, yang melahirkan anggapan bahwa peran perempuan adalah demikian-demikian sementara peran laki-laki adalah demikian dan demikian. Sehingga bisa dikatakan bahwa gender adalah konsep sosial yang membedakan –dalam arti memilih dan memisahkan- antara peran perempuan dengan peran laki-laki.

Sementara, gender yang diartikan seks dalam dua kamus Indonesia dan Inggris adalah lebih cenderung kepada arti seks atau alat kelamin. Dimana antara perbedaan kentaranya bahwa seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis melekat pada jenis kelamin tertentu. Secara biologis alat-alat tersebut melekat pada laki-laki dan perempuan selamanya, fungsinya tidak dapat dipertukarkan. Secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan biologi atau ketentuan Tuhan yang bersifat kodrati (Trisakti Handayani, 2006: 4).

Seperti misalnya, payudara pada perempuan untuk memberi air asi pada anak-anaknya kelak. Adanya jakun pada leher lelaki sementara pada perempuan tidak ada, adalah contoh perbedaan biologis dan juga fungsi biologis yang diberikan kepada manusia yang sifatnya kodrati dari sejak lahir. Dan ini disebut sebagai pembagian fungsi secara seks atau kelamin, bukan gender.

Sementara gender, seperti yang disebut sebelumnya, adalah pelaziman peran yang disematkan kepada seseorang karena adanya anggapan kesesuaian sosial budaya masyarakat, dan bisa berubah seiring waktu.

Gender juga bisa dimaknai dengan jenis kelamin laki-laki identik dengan maskulinitas sedangkan jenis kelamin perempuan identik dengan femininitas. Atau lebih jauh lagi bahwa seorang laki-laki yang feminin atau perempuan yang maskulin. Gender bukanlah sesuatu yang kita dapatkan sejak lahir dan bukan juga sesuatu yang kita miliki, melainkan sesuatu yang kita lakukan (Julia Cleves Mosse, 2007: 3).

Yang menarik mengenai peran gender adalah peran-peran itu berubah seiring waktu dan berbeda antara satu kultur dengan kultur lainnya. Peran itu juga amat dipengaruhi oleh kelas sosial, usia, dan latar belakang etnis (Julia Cleves Mosse, 2007: 3-4).

Menurut Julia Cleves Mosse, maskulinitas dan femininitas tidak hanya berimplikasi terhadap perbedaan karakter atau sifat tetapi lebih jauh lagi yaitu pada kekuasaan. Dari sinilah mengapa istilah keadilan gender kemudian timbul.

Di dalam masyarakat patrilineal, yang menempatkan laki-laki mendominasi perempuan, keadilan gender diperjuangkan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan yang didominasi laki-laki. Sebagaimana di dalam masyarakat matrilineal, keadilan gender diperjuangkan untuk memperjuangkan hak-hak laki-laki yang didominasi oleh perempuan. Karena, pada dasarnya baik lelaki maupun perempuan memiliki hak azasi yang sama, dan keadilan tidak ditentukan dari jenis gender tertentu.

Seperti yang disinggung sebelumnya, bahwa ternyata bentuk-bentuk ketidakadilan berbasis pada gender bisa mewujud, meruang, dan mewaktu kapan saja. Di dalam olahraga salah satunya. Ketidakadilan gender yang mewujud dengan lontaran-lontaran seksis baik kepada perempuan atau laki-laki biasanya muncul karena budaya sosial masyarakat masih menempatkan peran yang dominan seks tertentu atas yang lain, seperti misal laki-laki diatas perempuan atau sebaliknya.

Di ajang sepakbola yang dari awal memang didominasi oleh lelaki, budaya pelaziman bahwa sepakbola adalah olahraga lelaki kemudian muncul sebagai anggapan umum yang akhirnya melahirkan pemahaman bahwa gender yang satunya, femininitas tidak lazim untuk menjadi stakeholder lapangan hijau.

Padahal, andai diketahui, di dalam dunia sepakbola keberadaan perempuan di dalamnya adalah perkara yang tidak baru. Bahkan sepakbola yang mempertandingkan kesebelasan perempuan melawan kesebelasan perempuan sendiri sejatinya sudah lebih dulu ada, dibandingan dengan Futsal, yakni pada 1881. Sementara Futsal pertama kali diperkenalkan pada 1930 oleh Juan Carlos Ceriani, di Montevideo, Uruguay (Kompas.com).

Namun lantas kenapa Futsal lebih popular segera diterima beradaptasi dengan budaya sosial lokal sementara sepakbola perempuan tidak? Agaknya lantaran kurangnya pemahaman bahwa sepakbola bisa dinikmati tidak hanya oleh gender tertentu saja, masih belum menjadi pemahaman umum.

Di Eropa, football for unity, football has no gender, we are equal in football terus digaungkan dengan harapan sepakbola dapat dinikmati oleh siapa saja. Eropa juga yang pertama kali memperkenalkan kompetisi sepakbola perempuan pada 1984, yakni dengan format kompetisi antar negara ala ala Euro pada umumnya. Bahkan sekarang, kampanye together #WePlayStrong bisa dilihat mulai mengisi laman Euro Womens.

Mereka ramai-ramai memprotes adanya ketidakadilan yang dibasiskan terhadap gender tertentu. Seperti misal salah satu suporter perempuan dari Leicester City yang memprotes penerbitan galeri foto “Fans Terpanas di Piala Dunia 2018” yang menampilkan foto suporter dari tribun.

“Sangat mengecewakan media yang seharusnya bisa meruntuhkan stereotip itu malah terus mengembangkan cerita lama yang membosankan,” kata salah satu suporter perempuan Leicester City.

Bagaimana di tanah air? Indonesia boleh jadi sudah membuka peluang yang sama dengan menggulirkan Liga 1 Putri, 2019 lalu, tapi apakah kemudian momen tersebut dijadikan sebagai tonggak pemahaman bersama bahwa semestinya sepakbola tidak hanya milik gender tertentu? Apakah momen tersebut lalu bisa menjamin bahwa tribun nyaman dikunjungi dan aman dari diskriminasi gender tertentu? Coba tanyakan saja teman-teman kamu, khususnya yang suka nribun.

Kita sebagai fans layarkaca tentu masih ingat sportscaster Liga 1 yang ramai diperbincangkan di Twitter lantaran memberikan komentar bernada seksis terhadap suporter perempuan yang berdiri berderet di tribun saat laga Persita versus PSM Makassar Maret lalu.

Komentator yang notabene memandu jalannya acara justru secara tidak langsung menggiring pemahaman para penonton layarkaca bahwa memberikan komentar bernada seksis terhadap perempuan adalah hal yang samasekali wajar. Padahal kita tahu masyarakat Indonesia kebanyakan adalah “masyarakat televisi”, yang menggantungkan informasi dalam hidupnya pada tayangan yang ditampilkannya (Gustavo Guizzardi, 1989: 339). Sehingga siaran televisi sangat mempengaruhi penonton, sehingga sangat mudah menggeser makna suatu budaya.

Pengalaman buruk diraba anggota badan juga pernah dialami seorang Jak Angel di tribun dari sesama suporter. Perlakuan-perlakuan semacam ini dianggrap lumrah terjadi lantaran budaya Indonesia yang menempatkan gender tertentu sebagai panglima atas yang lain. Sehingga hal-hal yang mengarah kepada perlakuan diskriminasi gender tertentu dianggap suatu kewajaran belaka.

Maka tak heran jika seorang suporter perempuan Putri Rahmadani pernah berkata bahwa segila apapun suporter perempuan memberi dukungan kehadiran mereka tidak akan terlihat sebagai suporter. Lain halnya dengan suporter laki-laki, meski mereka tidak mendukung, atau hanya menonton, kehadiran mereka dianggap sebagai suporter.

Untuk alasan ini ia bergabung bersama kelompok suporter perempuan, dan karena “saya berpikir saya harus menyuarakan hak-hak mereka dan hak-hak saya juga sebagai perempuan. Lalu suporter perempuan ini cenderung takut menampilkan diri mereka kalau nggak bareng-bareng. Jadi kalau perbedaan dengan suporter laki-laki adalah suporter laki-laki akan tetap dianggap sebagai suporter meskipun dia nggak mendukung. Tapi suporter perempuan ini saat mereka mendukung mati-matian sebuah klub sepakbola mereka nggak dilihat sebagai suporter. Itu kadang perbedaan-perbedaan yang kadang kita harus luruskan. Harapan besarnya adalah tidak ada lagi perbedaan antara suporter laki-laki dan suporter perempuan. Harapannya adalah satu, suporter,” seperti yang dikatakan Putri kepada PPATK.

Sebelumnya, kita juga bisa melihat bagaimana reaksi yang diberikan suporter kepada Sekjend PSSI Ratu Tisha, hanya karena ia seorang perempuan. “Tidak becus”, “Perempuan, sih”, “Ah, cewek, sih. Nggak ngerti apa-apa”. Seksis sekali bukan? Padahal kinerjanya, mungkin, yang terbaik di tubuh PSSI.

Lalu, apakah demikian denganmu?

Baca juga:  Sebuah Pengantar untuk Berfilsafat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here