Berkeinginan Menikah Muda, Yakin?

0
252


Oleh: Nur Khasanah


Justisia.com – “Menikah muda, kenapa tidak?”, Jargon seperti itu sering terdengar diberbagai akun, pamflet, tulisan, dan media-media lainnya, yang tentu saja menarik perhatian para pemuda. Iya menarik, siapa sih yang tidak ingin menikah? Apalagi pada usia-usia pubertas, tentu keinginan untuk menikah (baca: melampiaskan hasrat seksual) sangat diidamkan para pemuda. Ditambah lagi dorongan dari lingkungan, media sosial, bisikan ditelinga yang tidak jelas dari mana asalnya (syaiton), dan lainnya. Segala cara dapat dilakukan demi memenuhi keinginan seseorang untuk segera menikah.


Alasan yang kerap diungkapkan dalam pernikahan muda adalah perintah agama. “Daripada berbuat zina, menikah saja lah” atau alasan lain misal “sudah terlanjur hamil, daripada nanti anak saya tidak punya ayah, lebih baik menikah lah”. Didukung pula dengan adanya dispensasi pernikahan yang diperbolehkan dalam undang-undang perkawinan (dengan syarat dan ketentuannya), memunculkan peluang bagi para pemuda untuk bisa kapan saja melangsungkan pernikahan.


Dibalik alasan-alasan yang mendorong dirinya untuk menyegerakan pernikahan, pernahkah terlintas dibenak saudara sekalian tentang resiko perkawinan muda? Laudya Cynthia Bella saja yang terlihat baik-baik saja dalam menjalin hubungan dengan suaminya Engku Emran bisa tiba-tiba bercerai, apalagi manusia-manusia yang tidak mempertimbangkan kedepannya. Ya, mereka percaya takdir Tuhan mungkin.


Jika melihat infografis dari Komnas Perempuan pada tahun 2020, kita mendapati bahwa kekerasan terhadap istri pada tahun ini mencapai 59%, dan menempati peringkat pertama sebanyak 6.555 dari 11.105 kasus ranah personal. Bahkan, jauh sebelum 2020 yakni pada tahun 2016, dalam laporan catatan tahunan Kompas Perempuan 2016, KDRT mendominasi dengan jumlah kasus 11.207, dan 60 persen korbannya adalah istri.

Baca juga:  Praktik Keberagaman Ala Jemaat Katolik dan Warga Tionghoa


Lebih mengejutkan lagi, bahwa usia yang banyak menjadi korban adalah usia 13-18 tahun yakni dengan jumlah korban 1.494 orang. Belum lagi, korban yang tidak tercatat dan melaporkan karena menganggap kasus ini adalah aib atau privasi keluarganya, atau bahkan mereka tidak menganggap kasus ini sebagai KDRT.


Masalah lain yang bisa saja timbul sebagai akibat pernikahan muda, tentu sangat banyak bukan? Lalu, bagaimana meminimalisir terjadinya pernikahan muda ini? Apa yang dapat dilakukan?


Memahami Perintah Menyegerakan Pernikahan dalam Islam


Islam memang memerintahkan untuk menyegerakan pernikahan. Bahkan Rasulullah saja juga menikah dengan Aisyah yang usianya masih belia. Pun beberapa ayat secara tidak langsung membolehkan pernikahan usia muda, seperti QS. at-Thalaq ayat 4, QS. an-Nur ayat 32, dan lainnya.


Pernikahan Rasulullah tidak bisa dijadikan sebagai acuan untuk mengajurkan bahkan memerintahkan pernikahan muda. Dalam perkembangannya, ada beberapa pendapat tentang pernikahan Rasul dengan Aisyah ini.


Seperti Ibnu Syubrumah yang berpendapat bahwa pernikahan belia Aisyah dengan Rasulullah adalah pengecualian yang tidak dapat diberlakukan bagi umatnya. Prof. Nadir Syah yang berpendapat bahwa pada saat itu, tradisi pernikahan usia muda merupakan suatu kebolehan. Berbeda konteksnya dengan kehidupan saat ini, yang mempertimbangkan banyak hal dalam pernikahan dini, seperti prinsip kemaslahatan dan juga kesehatan reproduksi.


Seiring dengan perkembangan zaman, diatur juga batas minimal seorang diperbolehkan untuk menikah di berbagai negara Islam, seperti Syiria, Indonesia, Maroko, Mesir, Bangladesh Iran, dan lainnya yang mayoritas minimal seseorang boleh menikah adalah diatas 15 tahun.

Baca juga:  Rekontruksi Hukum Masa Iddah untuk Laki-Laki (Bag-1)


Kebijakan-kebijakan dari berbagai negara ini tentu juga mempertimbangkan maslahat bagi laki-laki dan perempuan, baik dari aspek pendidikan, kemampuan fisik untuk bekerja, kecakapan bertransaksi, dan yang tidak kalah pentingnya adalah aspek kesehatan reproduksi. Seperti dalam salah satu kaidah fiqh “kebijakan pemerintah untuk rakyatnya adalah menjaga kemaslahatan untuk mereka.”


Konseling Pernikahan


Konseling Pernikahan adalah salah satu upaya pencegahan berbagai problem yang mungkin muncul dalam sebuah keluarga. Idealnya, pasangan yang akan melangsungkan pernikahan mendatangi konselor untuk memantapkan keputusannya sebelum rencana pernikahan dilangsungkan.


Klien yang mendatangi konselor dapat menyatakan masalah yang ia hadapi, kemudian konselor pun akan memetakan masalah tersebut untuk kemudian memberikan pemecahan masalah. Tahapan-tahapan konseling ini juga beragam, tergantung apa yang digunakan oleh sang konselor.


Manfaat dari konseling ini sangat banyak, seperti terbukanya pandangan ke depan yang tidak hanya memikirkan perasaan senang karena jatuh cintanya sekarang, tetapi juga memikirkan bagaimana kesiapan menghadapi berbagai kesalahpahaman yang mungkin muncul di masa yang akan datang. Seperti ketidakcocokan yang muncul setelah pernikahan, menghadapi cara pandang pasangan, memahami keluarga pasangan, sampai dengan perencanaan finansial di masa depan.


Berpuasa Demi Menahan Keinginan Menikah


Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud bahwasanya Rasul pernah berkata “Wahai para pemuda, siapa yang sudah mampu menafkahi biaya rumah tabgga, hendaknya dia menikah. Karena hal itu lebih menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa, karena puasa dapat meringankan syahwatnya”.


Korelasinya, dalam perspektif tasawuf adalah bahwa puasa akan menghantarkan manusia kepada kejujuran, pengakuan bahwa Allah Maha Memiliki, pengakuan bahwa ia hanyalah seorang hamba yang lemah, dan kesadaran akan kehinaan yang ada dalam dirinya.

Baca juga:  Gusdur dengan Kemuliaan dan Kemanusiaannya


Ketika berpuasa, seseorang mudah saja untuk melakukan penipuan, misal dengan meneguk segelas air. Namun, di sisi lain ia juga sadar bahwa Allah melihatnya. Sehingga, ia akan menyadari bahwa predikatnya hanyalah seorang hamba yang tidak bisa disandingkan dengan Allah yang memiliki predikat termulia dan tertinggi, sekaligus menyadari bahwa air yang tidak dapat ia minum, karena air itu hanya milik Allah semata, bukan miliknya.


Manfaat-manfaat lain tentu juga tidak kalah banyaknya. Artinya segala hawa nafsu yang ada dalam diri manusia akan ditekan dengan sendirinya karena kesadaran akan kelemahan-kelemahannya. Sehingga logikanya ia akan lebih mendekatkan diri kepada Allah.


Melakukan Kegiatan yang Dapat Melupakan Keinginan Menikah


Menyibukkan diri dengan hal-hal lain, seperti mendalami hobi, pendidikan atau karir adalah salah satu cara ampuh yang dapat mengatasi keinginan menyegerakan pernikahan. Termasuk didalamnya yakni memperluas jaringan pertemanan, dan yang tidak kalah pentingnya adalah mendekatkan diri kepada Sang Maha Mencintai, Allah subhanahu wata’ala dengan berpuasa dan lainnya.


Menikah muda bukan tidak diperbolehkan, tetapi pertimbangan-pertimbangan lain sebelum pernikahan perlu dipikirkan juga dibandingkan dengan gejolak hati yang ingin menyegerakan pernikahan. Karena pada hakikatnya, pernikahan bukan hanya sebuah pemenuhan hasrat seksual, akan tetapi juga menjaga keturunan yang sehat, mendirikan rumah tangga yang penuh kasih sayang dan saling membantu untuk kemaslahatan antara suami dan istri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here