Berawal dari Ide Kreatif, Sampah Disulap Menjadi Karya

0
162
Fadlu Rahman dengan salah satu buah karya lukis berbahan plastiknya / sumber: Abd. Faiz

Pembicaraan atau pembahasan tentang larangan untuk penggunaan plastik kemasan atau plastik sekali pakai seperti tidak akan pernah berakhir. Tarik ulur antara kemanfaatan dan kemadharatannya menjadi pertimbangan yang sangat serius. Hal ini bukan lagi masalahdi indonesia saja, namun juga menjadi keluhan di berbagai negara di dunia.

Misalnya, Gubernur Bali mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Bali No.97/2018 tentang pembatasan sampah plastik sekali pakai. Dan sebagian besar sudah diakui di berbagai daerah dan menjadikan larangan tersebut tertuang dalam Pebup, Pergub, dan Perwali.

Ada juga yang tidak langsung melarang akan tetapi dengan meminimalisir. Kebijakan semacam ini lebih ambisius melarang penggunaan plastik dengan alasan penyelamatan lingkungan.

Kantong plastik yang lebih kuat dan tahan lama diproyeksikan dapat dipakai berulang kali sehingga lebih menarik dibanding kantong kertas. Namun kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan kantong plastik, justru membuat tren penggunaan kantong plastik hanya menjadi sekali pakai.

Dampaknya, sampah plastik jadi menumpuk dan mulai digembar-gemborkan sebagai material yang mengontaminasi lingkungan.

Baca juga:  Apatisme Mahasiswa terhadap Politik

Sebenarnya pelarangan penggunaan plastik idealnya harus diimbangi dengan pengelolaan sampah yang baik dan intensif finansial untuk mengubah kebiasaan konsumen dan pelaku industri sehingga nantinya bisa mendorong sirkular dalam produksi plastik, tidak hanya menyoal tentang pelarangan kantong plastik saja namun meminimalisir segala bentuk yang terbuat dari plastik.

Dalam model sirkular produksi plastik pada fase pemakaian plastik bisa digunakan berulangkali sebelum menjadi sampah seutuhnya dan ketika sudah menjadi sampah pun plastic masih bisa digunakan, bisa menjadi bahan penguatan energy dan juga bisa menjadi kerajinan tangan sehingga menjadi karya kreatifitas. Langkah-langkah penanggulangan sampah plastik inilah yang menjadi solusi penanganan masalah plastik.

Meski demikian pelarangan pengunaan plastik tidak menjadi solusi akhir, sebab plastic bukanlah masalah, persoalannya adalah apa yang kita lalukan itu adalah tanggungjawab kita bijak mengolah benda plastik.

Menyulap sampah plastik menjadi karya

Berangkat dari keprihatinan sampah yang berserakan di jalan membuat Fadlu Rahman (24) pria asal Desa Tegal Gubug, Cirebon ini menyadari bahwa dampak plastik pada lingkungan sangat bahaya. Sampah plastik yang berserakan di jalanan menjadikan ia berpikir kreatif untuk mengolah sampah plastik menjadi sebuah karya yang berharga.

Baca juga:  Pendiri UIN Walisongo, Ismail Abdullah Tutup Usia

Ia memanfaatkan sampah plastik tersebut dengan melukis kolase yang pewarnaannya menggunakan dengan potongan plastik-plastik tadi. Sehingga menjadi karya seni yang unik dan menarik banyak konsumen.

“Ya miris saja lihat sampah berserakan apalagi kalau dibuang sembarangan sampah plastik kan susah terurai. Terus saya cari inspirasi dan ya jadinya lukisan dari sampah plastik ini,” ungkap Fadlu.

Lukisan tersebut ia tawarkan melalui media sosial, kemudian terjadi tawar-menawar karena melihat hasilnya ternyata unik dan jarang sekali orang-orang berpikiran sampai di situ. Ia mengaku tidak menyangka dari bahan yang remeh bisa menjadi berharga, pelajaran ini baik untuk diaplikasikan dimanapun agar kecintaan kita pada lingkungan semakin bertambah.

Permasalahan sampah di 60 negara dibelahan dunia, lebih mengambil langkah praktis yaitu dengan melarang penggunaanya dan sebagainya dengan meminimalisir dan mengganti kantong plastik dengan kantog kertas. Namun kebijakan itu belum berhasil karena kantong kertas lebih bahaya dari pada kantong plastik.

Komunitas Peduli Lingkungan

Di samping itu ia juga aktif di berbagai organisasi peduli lingkungan di antaranya organisasi PETANG yang saat ini sedang ia tekuni. Anggotanya sekarang mencapai 130 orang dari pemuda-pemuda di desanya.

Baca juga:  Si Jek, Lebih Baik Membuat Aplikasi daripada Membeli

“iap anggota PETANG tiap minggu wajib iuran 2000 dengan perincian tertentu. Sedangkan kegiatan ro’an atau bakti sosial bersih-bersih desa setiap hari minggu,” ungkapnya.

Berawal dari organisasi PETANG ia berharap lingkungan kita tetap terjaga dan mengajak para pemuda untuk peduli lingkungan. Kebermanfaatanya untuk jangka panjang, mulai dari hal yang paling sepele seperti tidak membuang sampah sembarangan.

Mengenai sampah plastik, menurutnya plastik bukanlah persoalan namun pengelolaanya yang tidak bijak yang akan menjadi masalah kemudian jangan lupa memanfaatkan barang bekas agar dapat digunakan kembali, seperti menggunakan botol plastik untuk dijadikan hiasan atau pot bunga selain itu masih banyak lagi ide kreatif anda demi menjaga lingkungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here