Belajar yang Pintar Agar Roda Berputar

0
171
PBAK UIN Walisongo 2018 / Kredit foo: Afif/ Justisia

Oleh: Afif Maulana A

Beberapa waktu lalu ada unggahan menarik pada bilik status WhatsApp. Adalah perkataan Victor Serge, seorang Bolshevik. Yang mengatakan mau jadi apa kalian para mahasiswa? Jadi dokter untuk mengobati orang kaya? Atau jadi pengacara untuk membela kepentingan orang kaya? Lihatlah sekelilingmu dan periksa hati nuranimu! Tugasmu adalah untuk bersekutu dengan kaum tertindas dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam ini.

Sebagai seorang Bolshevik yang tentu merupakan bagian dari kaum Marxis, Serge menolak segala agenda yang berbau akumulasi kekayaan pada satu atau beberapa orang dalam lingkaran hubungan tertentu. Karena yang dicitakan adalah perwujudan masyarakat tanpa kelas.

Pesan Serge untuk memihak dan berjuang di garis rakyat (baca: buruh) adalah tiada lain dalam rangka menghapus sama sekali sistem kelas yang melanggengkan kemiskinan kaum buruh dan memperkaya para penguasa modal.

Namun di balik pesan Serge, tentu ada di antara para orangtua yang menaruh harap pada sederet cita itu. Menjadi dokter, pengacara, ataupun yang lainnya bukan berarti mendukung biaya rumah sakit yang semakin melangit atau hukum yang kian tumpul. Cita menjadi dokter, pengacara, atau profesi yang lainnya adalah cita yang dalam keyakinan mereka bisa memutar roda dari bawah ke atas.

Baca juga:  Jalan Tengah Pergulatan Tafsir Al-Quran

Cita mereka barangkali sederhana: agar pahit getir hidup yang selama ini merengkuh nikmatnya meminum segelas susu di pagi hari atau menonton sinetron di televisi tidak selamanya menjadi awan gelap yang selalu menyelimuti orang-orang yang kebetulan bernasib lemah dan dilemahkan. Agar mendung yang menyelimuti segera berganti dengan terbit terang matahari dan pelangi di esok hari.

Sehingga ketika datang kesempatan itu, sederet harap mereka sandarkan pada diri anak-anaknya: agar bersungguh-sungguh dan memanfaatkan kesempatan yang ada.

Karena pada sederet profesi nun elit itu mereka menaruh harap agar kelak anak-anak mereka bisa duduk sama tinggi dan tidur sama rendahnya drngan mereka para oligark. Agar dunia tahu bahwa sudah semestinya tidak ada lagi ketimpangan yang curam. Bahwa sudah semestinya kesejahteraan adalah hak setiap bangsa. Bukan orang-orang tertentu saja yang jika diteruskan tidak akan bertambah selain nominal nol dan koma nol dan koma di saldo rekening mereka.

Bahwa semestinya pajak ditarik bukan untuk memenuhi ambisi golongan tertentu saja. Bahwa semestinya itu untuk dialirkan kembali demi kesejahteraan bersama. Bahwa semestinya tidak perlu fasilitas yang berlebihan sehingga sektor yang lain yang mesti ditumbalkan.

Baca juga:  Pesantren dan Runtuhnya Radikalisme

Tentu harapan mereka tidak muncul seinstan mie instan –yang nyatanya masih dibutuhkan langkah-langkah untuk penyajian. Ataupun seujug-ujug cegatan di depan kampus karena lupa menyalakan lampu. Namun yang tumbuh lantaran terus terpupuk oleh keadaan.

Pada tahun 2018, data yang dirilis Global Wealth Report menunjukkan dari 46,6 % total kekayaan penduduk dewasa hanya dikuasai satu persen orang saja.

Sementara kualitas kehidupannya yang dilihat berdasar nomina atau angka-angka –dari 9 indikator: keterjangkauan, masyarakat ramah, pangsa kerja, keamanan, kesetaraan pendapatan, stabilitas politik, stabilitas ekonomi, sistem pendidikan, dan sistem kesehatan– pada tahun 2019 mendapat skor 1,8 dari 10 (2019 Best Countries dalam US News and World Report).

Dan ini terjadi di tanah yang konon katanya menjanjikan kesuburan pula kemakmuran. Yang konon di sebuah lagu katanya bagaikan kolam susu, tanahnya tanah surga.

Sehingga tak salah jika mereka menaruh harap pada sederet profesi itu. Karena mereka yakin dengan bersekolah, mendapat ijazah, kemudian bekerja dan mendapat gaji wah bisa mendekatkan anak-anak mereka kepada kualitas hidup yang jauh dari pahit dan getirnya kehidupan –yang seakan diciptakan secara sistematis melalui sistem maupun kebijakan.

Baca juga:  Revitalisasi Kesenian Gambang Semarang untuk Merajut Toleransi dan Kebhinekaan

Apalagi semakin hari bekerja sebagai petani, pekebun, ataupun nelayan, seperti dipaksa berlari namun dengan satu yang terikat. Lantaran sistem yang ada tidak lagi peduli dan memilih mengalihkan keberpihakan substansial sebagai negara berwawasan pandang maritim-agraris kepada keberpihakan simbolik saja. Jargon demi jargon boleh semakin nyaring tersiar. Tapi kenyataannya jauh dari istilah sumbut. Alih-alih untuk mendapatkan penghasilan yang memadai? Justru seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Susahnya bukan kepalang.

Bekerja di sektor informal pun sama saja. Dalih pembangunan kantor-kantor, perusahaan demi perusahaan, dan pembukaan keran investasi seluas-luasnya untuk meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat, harus diterima dengan hati yang lapang karena tidak sejalan dengab kenyataan bahwa peluang kerja tidak seluas bangunan perkantoran, perusahaan, dan insvestasi dibangun serta dibuka.

Namun, menaruh harap pada sederet cita itu bukan berarti memilih untuk tidak peka dan menutup mata terhadap lingkungan ataupun masyarakat –seperti salah satunya yang diserukan Victor Serge. Melainkan percaya bahwa perubahan bisa dilakukan dari lingkungan yang terkecil: diri sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here