Barong Kemiren, Potret Tradisi Kuno Suku Using yang Masih Terjaga

0
217
Barong Kemiren, Potret Tradisi Kuno Suku Using yang Masih Terjaga
Kelompok sanggar Sawah Art asuhan Samsul menampilkan pertunjukan Barong Kemiren. | Kredit foto: Dok. Sanggar Sawah Art.
Nisrina Khairunnisa

Suku Using Banyuwangi dengan sejuta pesonanya menyimpan banyak keragaman budaya yang belum terjamah di seluruh pelosok negeri. Salah satunya pertunjukan Barong Kemiren. Adanya keterkaitan cerita Barong Kemiren dengan adat Suku Using telah menciptakan kekuatan penuh bagi masyarakatnya untuk menjaga adat dan tradisi leluhur.

Justisia.com – Pria kelahiran Banyuwangi 1984, Slamet Diharjo atau kerap disapa Samsul terlihat sedang memeragakan gerakan tangan juga pinggulnya yang meliuk-liuk kepada para muridnya. Siang itu, seperti biasa ia memberikan pelajaran menari di salah satu SMK Banyuwangi. Selain itu ia juga mengajar menari di salah satu SD Banyuwangi.

Bagi masyarakat Desa Kemiren, reputasi Samsul telah melejit tinggi. Dia dikenal dengan kepiawaiannya dalam mementaskan tari Barong Kemiren. Selain menjadi penari, ia juga mengajari anak-anak muda menari.

Alasannya untuk melestarikan budaya dan sebagai bentuk regenerasi bangsa, agar kelak tetap dapat menjaga apa yang sudah diwariskan leluhur. Karena itu juga ia membuat sanggar tari pribadi agar anak-anak dapat latihan menari dengan leluasa.

“Sawah Art nama sanggarnya,” ceritanya sambil tersenyum pada reporter Justisia, Selasa (17/11/20).

Samsul mulai mengenal berbagai kesenian tari sejak 2003 lalu. Berbekal ilmu tari yang ia dapatkan di salah satu sekolah tinggi kesenian di Surabaya, Samsul telah meraih banyak prestasi dan penghargaan baik dalam kancah Nasional maupun Internasional.

Di antaranya seperti, peraih Juara II sub tema Janger dalam Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2011, Juara umum sub tema Barong dalam Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2012, menjadi penari di acara Opening Asian Games 2018, dan penari di Milan Expo-Italia 2015.

Namun di balik prestasinya, dulu Samsul pernah mendapat anggapan miring yang menyerang identitas seksualnya.

“Dulu itu kan saya pemain sepak bola. Tapi saat mulai menari saya dikatai seperti banci oleh keluarga, saudara, bahkan tetangga. Lalu saya berpikiran gini, apakah semua penari itu banci ta?” ungkapnya.

Awalnya respon yang tidak menyenangkan itu membuatnya ragu dan berpikir panjang. Tak lama kemudian ia berhenti memusingkannya. Baginya menari tidak hanya untuk perempuan, siapa saja boleh menyukai seni tari.

Barong Kemiren: sebuah ekspresi

Barong Kemiren merupakan salah satu kesenian dramatari yang dilakukan selama semalam suntuk. Masyarakat Suku Using yang berada di Desa Kemiren mempunyai pola kehidupan agraris, sehingga berdampak pada pengekspresian seni yang bercorak agraris pula.

Melihat letak geografisnya yang berdekatan dengan Pulau Bali, menjadikan style keseniannya cenderung energetik, seperti halnya pada kesenian Barong Kemiren yang esensi ceritanya menggambarkan semangat juang dalam peperangan.

Baca juga:  Dirjen Pendidikan Islam: Pembangunan Infrastruktur Jadi Fokus Utama

Dalam pertunjukannya, Samsul mengatakan sebelum pertunjukan Barong dimulai harus diawali dengan ritual khusus seperti membakar kemenyan dan memberikan beberapa sesajen.

“Kalau ritual biasanya ada sesajen, ubo rampe, bunga, lalu mendatangi makam leluhur namanya Mbah Buyut Cili. Mbah Buyut Cili itu dhanyang-nya barong,” ucapnya.

Perlahan iringan bunyi gamelan seperti bonang, peking, saron, gong, gendhang, dan gambang mulai bersahutan.

Sembari melukis wajahnya, Samsul mulai bercerita tentang tokoh Butho yang sering ia perankan. “Saya paling suka menari Jaranan Butho, karena merasa totalitas aja njoget e, juga harus punya kreatifitas masing-masing,” ujarnya.

Filosofi Butho yang ia perankan bukan menggambarkan Butho yang bengis dan menyeramkan. Melainkan terdapat nilai-nilai agama yang terkandung di dalamnya.

“Butho itu artinya Nyebutho Marang Hang Kuoso. Butho juga bisa dikatakan, ‘iku hawa nafsu sing kudu dikendalikan oleh manungsane‘,” ceritanya.

Pementasan Barong Kemiren yang biasanya diadakan setiap bulan selain bulan puasa, dimaksudkan untuk melaksanakan upacara bersih desa. Kata Samsul, Barong Kemiren juga ditampilkan pada acara pernikahan, khitanan, festival kesenian, dan acara-acara lainnya.

Tentu dalam menjalankan perannya Samsul menemukan beberapa kendala. Seperti halnya menyalahi aturan dalam ritual sebelum pertunjukan Barong. Namun, apabila tirakat menarinya kuat dan berhasil menghibur orang lain, pastinya akan berjalan lancar.

Samsul menambahkan, bahwa dalam melestarikan dan memperkenalkan budaya jangan pernah memikirkan uang apalagi menjadi ladang komersial.

“Niat dan tujuan kami cuma satu, tradisi Barong Kemiren bisa dikenal orang banyak, dan dapat dikembangkan dengan baik serta jangan lupa mencintai leluhur. Pasti akan berdampak baik pada diri kita,” ujar Samsul.

Genggam erat adat istiadat Using

Cerita dalam pertunjukan Barong Kemiren yang menggambarkan wacana relasi gender merupakan representasi dari kehidupan Masyarakat Using. Salah satu tokohnya memiliki karakter yang menunjukkan bagaimana adat di Suku Using dalam hal perkawinan mempunyai cara tersendiri untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Seperti pada tokoh Singa Lundaya.

Singa Lundaya merupakan sosok makhluk halus yang mengubah wujudnya menjadi manusia. Dalam ceritanya, Lundaya jatuh cinta pada perempuan bernama Siti Ambari yang sudah berumah tangga. Sehingga timbul konflik saat keduanya menjalani hubungan secara diam-diam, Lundaya menculik Siti Ambari untuk dijadikan istri.

Hal ini disampaikan oleh Wiwin Indiarti yang menjadi bagian dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) PD Osing. Mbok Wiwin, begitu sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa tokoh Singa Lundaya menampilkan perkawinan adat pada Masyarakat Using yang disebut dengan sistem perkawinan ‘Colongan’ atau ‘Kawin Colong’.

Baca juga:  Pemuda Perlu Dibekali dengan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara

Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Banyuwangi ini bercerita bahwa Kawin Colong merupakan adat yang ditempuh saat pihak laki-laki menculik pihak perempuan karena tengah dijodohkan dengan seorang laki-laki lain yang tidak ia sukai. Adat Kawin Colong inilah jalan alternatif atas permasalahan tersebut.

“Di Using tidak ada paksaan dalam memilih pasangan. Perempuan berhak menentukan pilihannya sendiri dan adat memberikan jalan keluarnya,” ucap Mbok Wiwin saat dihubungi melalui pesan teks.

Menurut Mbok Wiwin Masyarakat Using tidak suka membesar-besarkan masalah yang sedang terjadi. Mereka cenderung pasrah dan mengikhlaskan. Hal ini juga diceritakan dalam kesenian Barong Kemiren, yaitu saat suami Siti Ambari melepaskan ikatan pernikahan, dan menyerahkannya kepada Singa Lundaya.

Realita Masyarakat Using yang terkandung dalam cerita tersebut ialah pada retaknya suatu hubungan rumah tangga. Apabila salah satu dari pasangan baik suami maupun istri sudah merasa tidak cocok lagi, mereka cenderung akan langsung berpisah. Tidak pernah ada sikap memaksakan. Karena hal tersebut diyakini sebagai takdir.

“Masyarakat Using itu ndak suka ribut-ribut. Ya legowo aja gitu kesannya. Kan masalah hati ndak bisa dipaksakan, haha,” katanya dengan tertawa lebar.

‘Warna’ Barong Kemiren

Ragam keunikan yang terdapat pada pertunjukan barong tidak hanya sekadar prototipenya yang mana tidak dijumpai pada bentuk-bentuk barong manapun, sehingga Barong Kemiren lebih dikenal sebagai hewan berkaki empat.

Keunikan lainnya yaitu pada pemeran barong. Bahwa dari mulai penabuh gamelan hingga penari hanyalah laki-laki dan transgender saja yang memerankan.

“Di [kelompok sanggar] Barong Trisno Budoyo semua pemeran ya laki-laki dan transgender. Tidak ada yang perempuan,” tukas Samsul saat diwawancarai melalui panggilan Whatsapp.

“Di Using sendiri, gak masalah kalau pemerannya ada yang transgender, mereka sangat diterima keberadaannya. Justru dari kreativitas mereka, kearifan lokal di sini dapat berkembang dengan baik. Mereka sangat menyenangkan,” lanjutnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan Cantika, seorang transgender yang memerankan tokoh Ja’ripah dalam pertunjukan Barong Kemiren. Di Suku Using sendiri, peran transgender sangat dibutuhkan dan diutamakan kepentingannya disebabkan untuk menjaga keutuhan adat dan tradisi Suku Using, Banyuwangi.

“Kalo di Suku Using, keberadaan kita bener-bener dibutuhkan. Apalagi peranku menjadi Ja’ripah yaitu sang tokoh utama sangat berperan kuat dan Jaripah itu kan menyuarakan keadilan,” katanya dengan mantap.

Baca juga:  Putusan yang Berujung Kebahagiaan

Sensasi yang dirasakan Cantika seusai memerankan Ja’ripah semalam suntuk terbayar sudah dengan rasa bangga dan syukur.

“Bangga banget rasanya sudah diamanahi untuk memerankan lakon Ja’ripah. Karena gak semua orang bisa menguasai peran itu, adegannya sangat panjang apalagi isinya pertarungan,” katanya dengan suara terputus-putus dikarenakan sinyal yang buruk.

Dalam naskah dialog yang dijelaskan Cantika, Ja’ripah merupakan sosok perempuan cantik dan manja sehingga mampu memikat hati para lelaki. Disamping itu, Ja’ripah juga sosok manusia yang kuat, mempunyai kesaktian, dan mampu bertarung mengalahkan rivalnya serta dapat menaklukkan Sinar Udara, yaitu binatang peliharaannya.

Berkurangnya stratifikasi sosial

Terlepas dari pertunjukan Barong Kemiren, penggunaan bahasa di Suku Using dinilai menunjukkan kesetaraan oleh Mbok Wiwin. Menurutnya, bahasa yang dipakai sehari-hari tidak lagi melihat klasifikasi strata sosial apalagi gender.

“Nggak ada itu yang namanya unggah-ungguh bahasa. Jawa krama, ngoko sudah jarang terpakai. Mau yang tua ke muda, muda ke tua, perempuan, laki-laki, dan transgender ya sama aja penggunaan bahasanya,” tukas Mbok Wiwin.

Wujud solidaritas dapat disimak kala pendistribusian tugas antara perempuan dan laki-laki di Suku Using Banyuwangi berlangsung dengan harmoni. Mbok Wiwin bilang, mereka hidup berkesalingan dengan membantu satu sama lain.

“Perempuan biasanya masak di dapur, yang laki-laki menyiapkan wadahnya. Kan kalau di Using itu tempat makan masih pakai dedaunan. Jadi yang ngambilin pelepah kelapa itu ya laki-laki,” kata Mbok Wiwin dengan nada semangat.

Sektor kepemimpinan perempuan pun turut berkontribusi dalam mengatur dan mengelola desa dengan baik. Tidak ada yang dipermasalahkan ketika seorang perempuan menjabat sebagai birokrat desa, Mbok Wiwin bilang yang terpenting mampu menjalankan tugas dengan baik.

“Kebetulan, periode lalu yang jadi kepala desa itu perempuan. Yang penting amanah dan mampu aja gitu,” pungkasnya dengan tersenyum lebar.

Rengkuhan hangat menyapa Suku Using Banyuwangi akan indahnya ragam tradisi yang masih terjaga. Menyemai perdamaian dan toleransi antar insan. Surga yang masih terbayang-bayang kini hadir di tengah Masyarakat Using dan menandakan adanya peradaban besar di negeri ini. [Red. Afif]

Baca juga liputan keberagaman lainnya: 14 Tahun Perjuangan Umat Baha’i Catatkan Perkawinan, Adakah Toleransi Beragama di Ujung Barat Pulau Jawa, dan Menjaga Asa Pembangunan Gereja Tlogosari Jawa Tengah

***

Tulisan ini bagian dari program Workshop Pers Mahasiswa yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) kerja sama dengan Friedrich-Naumann-Stiftung fur die Freiheit (FNF) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here