Apa Peran Santri dalam SDGs?

0
39
kredit foto: liputan6.com
Maulana Imtiyaz
Muamalah angkatan 17

Justisia.com – 25 September 2015 bertempat di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), para pemimpin dunia secara resmi mengesahkan Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) sebagai kesepakatan pembangunan global. Kurang lebih 193 kepala negara hadir, termasuk Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla turut mengesahkan Agenda SDGs.

Dengan mengusung tema “Mengubah Dunia Kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan”, SDGs yang berisi 17 Tujuan dan 169 Target merupakan rencana aksi global untuk 15 tahun ke depan (berlaku sejak 2016 hingga 2030), guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. SDGs berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa kecuali negara maju memiliki kewajiban moral untuk mencapai Tujuan dan Target SDGs.

Berbeda dari pendahulunya Millenium Development Goals (MDGs), SDGs dirancang dengan melibatkan seluruh aktor pembangunan, baik itu Pemerintah, Civil Society Organization (CSO), sektor swasta, akademisi, dan sebagainya. Kurang lebih 8,5 juta suara warga di seluruh dunia juga berkontribusi terhadap Tujuan dan Target SDGs.

Isu kemiskinan tetap menjadi isu penting bagi negara-negara berkembang, demikian pula dengan Indonesia. Penanganan persoalan kemiskinan harus dimengerti dan dipahami sebagai persoalan dunia, sehingga harus ditangani dalam konteks global pula. Sehingga setiap program penanganan kemiskinan harus dipahami secara menyeluruh dan saling interdependen dengan beberapa program kegiatan lainnya. Dalam SDGs dinyatakan no poverty (tanpa kemiskinan) sebagai poin pertama prioritas.

Baca juga:  Gus Dur dan Pemikiran Keislaman

Hal ini berarti dunia bersepakat untuk meniadakan kemiskinan dalam bentuk apapun di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali Indonesia. Pengentasan kemiskinan akan sangat terkait dengan tujuan global lainnya, yaitu lainnya, dunia tanpa kelaparan, kesehatan yang baik dan kesejahteraan, pendidikan berkualitas, kesetaraan jender, air bersih dan sanitasi, energy bersih dan terjangkau; dan seterusnya hingga pentingnya kemitraan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Pekerjaan Sosial mempunyai relevansi yang sangat kuat dengan masalah kemiskinan. Sudah berabad-abad profesi ini bergelut dan terlibat dalam penanganan kemiskinan. Secara historis profesi Pekerjaan Sosial boleh dikatakan lahir dari masalah kemiskinan. Profesi ini bahkan menempatkan masalah kemiskinan sebagai bidang utama yang ditangani Pekerjaan Sosial. Jika sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip Hak-Hak Azasi Manusia, pekerjaan sosial harus berada di garis depan dalam upaya mengatasi kemiskinan. MDGs yang kemudian bergeser ke SDGs merupakan tujuan bersama yang memerlukan pengawalan bersama baik vertical maupun horizontal.

Pemerintah Republik Indonesia menunjukkan komitmen dan keseriusan dalam melaksanakan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Hal ini dapat dilihat dari diintegrasikannya 169 indikator SDGs ke dalam RPJMN 2020-2024 dan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Perpres SDGs). Upaya Indonesia untuk melaksanakan agenda SDG’s dibangun berdasarkan pengalaman atas pelaksanaan  agenda  Millenium  Development Goals (MDGs) yang lalu.

Selama 15 tahun pelaksanaan MDGs, Indonesia berhasil mencapai 49 dari 67 target indikator yang ditetapkan. Pelaksanaan agenda SDGs menjadi langkah strategis pertama pembangunan nasional, SDGs merupakan agenda global Perserikatan Bangsa-Bangsa guna mendorong pembangunan berkelanjutan untuk mengatasi kemiskinan, kesenjangan, dan perubahan iklim dalam bentuk aksi nyatayang dicanangkan melalui Resolusi PBB pada 21 Oktober 2015. SDGs merupakan kelanjutan dari  MDGs yang berakhir pada tahun 2015  lalu. SDGs diberlakukan dengan prinsip-prinsip universal, integrasi dan inklusif untuk meyakinkan bahwa tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan (No-one Left Behind)  yang terdiri dari 17 tujuan dan 169 target dalam rangka melanjutkan upaya dan pencapaian.

Baca juga:  Analisis Semiotika Pragmatis atas si "Radikal"

Dengan mengintegrasikan agenda global ke dalam rencana pembangunan nasional Indonesia, Pemerintah mengambil kepemilikan dan tanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan agenda SDGs. Hal ini, menjadi legitimasi dan dasar hukum bagi pelasakanaan agenda SDGs di Indonesia ke depannya. Efektivitas pelaksanaan SDGs baik itu di  Indonesia maupun tingkat global, memerlukan revitalisasi kerja sama di tingkat internasional. Hal ini untuk memenuhi beberapa kriteria. Pertama, efektivitas harus mendukung pelaksanaan SDGs nasional berdasarkan kebutuhan aktual dan prioritas yang menjadi perhatian negara tersebut. Kedua, harus dapat meningkatkan implementasi di  negara berkembang. Terkahir, pelaksanaan SDGs membutuhkan bermacam-macam proses dan aktivitas internasional yang berjalan beriringan.

Namun selanjutnya muncul pertanyaan: apa peran santri dalam rangka menyukseskan SDGs di Indonesia?

***

Dalam kehidupan sehari-hari, santri selalu diharapkan agar menjadi garda terdepan dalam membela bangsa Indonesia, termasuk dalam memajukan bangsa Indonesia. Dalam hal ini, seperti yang sudah diajarkan pada kita, untuk menuju kesana, kita harus senantiasa menyeimbangkan antara hablum minAllah, hablum minannas, hablum minal alam, yakni menjaga hubungan dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam.

Baca juga:  Muse dan Ingatan Masa Kecilku

Maka, menjaga negara merupakan sebagian dari iman. Karena termasuk percaya akan adanya anugerah dari Tuhan yang diberikan dengan wujud sebuah negara. Sementara iman adalah hubungan masing-masing hamba dengan Tuhannya. Jika iman kuat maka hubbul wathon atau cinta tanah air pun akan kuat. Ibarat kata: jika cinta itu ada, pastilah tidak akan membiarkan apa yang dicintai dalam kesusahan.

Santri harus bisa menyeimbangkan hubungan sesama “sosial” namun juga tak melupakan hubungan dengan alam.

Ekonomi, Lingkungan, Sosial?

Tiga hal tersebut perlu dibenahi, namun jika kita ingin membenahi semuanya manakah yang lebih tepat untuk diperbaiki?

Ya, lingkungan. Hemat saya, lingkungan merupakan awal untuk membenahi semua. Mungkin, kita terlau termakan dengan godaan-godaan kapitalis, serta sering melupakan keadaan lingkungan sekitar. Padahal apa yang menopang kehidupan kita selama ini adalah alam.

Bagaimana kita masih ingin tetap hidup dengan ekonomi yang baik, bagaimana kita akan tetap hidup dengan keadaan sosial yang baik tanpa adanya lingkungan yang baik?

Kenapa kita tidak bisa membangun kehidupan di Mars? Karena lingkungan ataupun alam disana tidak dapat kita tinggali. Sebaik-baiknya perencaan ekonomi, sebaik-baiknya tatanan sosial jika kita mencoba bangunnya di Mars maka tidak akan tercapai kehidupan yang seimbang.

Kita harus menerapkan hablum minal alam mulai sekarang, menyadarinya dari sekarang, memiliki keinginan kuat dari sekarang, untuk membangun lingkuangan yang baik. Kita manusia diciptakan dengan dibekali akal untuk berpikir dengan bijak, bagaiamna kita hidup di bumi ini dengan memanfaatkan karunia Tuhan dengan bijaksana.

Dengan memberikan perhatian kepada lingkungan, perencaan ekonomi, tatanan sosial, bisa terbentuk secara seimbang setelahnya, sehingga memimpikan negara yang dicita-cita kan, tidak hanya mimpi belaka.

_______________

Sumber : Ishartono & Santoso Tri Raharjo, Vol.6, SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) DAN PENGENTASAN KEMISKINAN, Social Work Journal. Hal 154

_________

*Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah UIN Walisongo dan Santri di PP Darul Falah Besongo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here