Antara Senang dan Derita Kuliah Daring Saat Pandemi COVID-19

0
103
Website | + posts

Justisia.com – Saat ini, kasus penyebaran virus COVID-19 telah memasuki 287 ribu kasus. Bahkan, hari ini pun (01/10) kasusnya kian meningkat sampai 4.284 kasus! Saya pun merasa was-was karena kondisi seperti ini sudah tidak aman lagi, mengingat saya berada di Depok, Jawa Barat. Berat rasanya apabila terlalu lama di rumah. Awalnya senang karena dirumah, namun lama-kelamaan menjadi derita.

Flashback ke Februari 2020, semuanya berjalan dengan lancar. Kuliah luring pun masih berjalan dengan aman. Beberapa hari kemudian, berita penyebaran virus di Wuhan telah dipublikasi oleh beberapa media. Saya pun biasa saja dan tidak bersuudzon dengan kemungkinan terburuk. Gegernya saat penyebaran virus pertama di Indonesia, berlokasi di Depok. Waduh! Saya berpikir tidak bisa pulang. Teman-teman telah pulang ke kampung halaman dan saya masih tinggal sampai akhir maret.

Selama kuliah daring, saya pun merasa senang kembali pulang dan kangen dengan suasananya. Makanan, rumah, dan lain-lain. Seiring berjalannya waktu, kelamaan di rumah perlahan menjadi derita bagi sebagian mahasiswa. Bisa nih kalau dirangkai menjadi tiga alasan kuliah daring menjadi hal yang dipusingkan:

1. Overthinking dengan tugas yang menumpuk
Selama kuliah daring, dosen pun mengupayakan pembelajaran lebih efektif meski via virtual. Senang sih enak rebahan di rumah, ternyata… bam! Tugas diberikan ke mahasiswa tanpa henti dan nggak kaleng-kaleng. Makalah, paper, dan lainnya membuat diri ini merasa lelah dengan semuanya. Akibat cuek dan malas mengerjakan, tugas semakin menggunung. Terlalu lama mengasingkan, pikiran mulai ikut kusut. yang bisa dilakukan adalah ngebut ngerjain meski H-1 deadline. Sebenarnya, sistem kebut semalam menjadi kebiasaan yang buruk lho! Yuk sekarang menyicil tugas.

2. Sering disuruh melakukan hal oleh orang tua
Disaat kita lagi kuliah virtual nih, terkadang orang tua menyuruh kita untuk melakukan sesuatu, seperti membeli galon, belanja, dan lainnya. Karena kita sering di rumah dan nggak kemana-mana, posibilitas disuruh orang tua kian tinggi. Nggak apa-apa kok, setidaknya kita sudah membantu orang tua kita dengan sepenuh hati.

3. Multitasking dengan kesibukan lain
Selain kuliah, kita sering diterjang oleh organisasi, bisnis, kerjaan, dan kesibukan lainnya. Saking pusingnya, kuliah menjadi keteteran. Nahloh! Yang dipertanyakan adalah manajemen waktunya. Padahal, manajemen waktu ini sangat penting lho. Multitasking itu nggak sepenuhnya buruk kok, namun ditakar ya.

Karena sudah dipaparkan tadi, kita sebagai mahasiswa diupayakan untuk tetap aktif meski rebahan adalah jalan ninja. Tetaplah semangat kuliah daring dan selamat mengerjakan tugas!

Penulis : Haryana Hadiyanti
Editor: Nur Hikmah

Baca juga:  Menilik Ruang Kosmologi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here