Antara Grusa-Grusu, Gercep dan Semangat Berlebih

0
204

Oleh: Fia Maulidia

Kita semua tahu rasa semangat itu bagus, apalagi semangat liputan saat berproses di LPM macam Justisia ini, wuuh mangtap. Tapi eh tapi, ternyata semangat yang biasanya langsung saya sambung dengan gercep alias gerak cepat ndak selalu bagus.


Semangat berlebihan dan gercep kelewatan melahirkan kekecewaan pada diri saya sendiri, saat tabayyun perihal pencairan dana muawanah. Duh berat, urusan sama duit siapa sih yang gamau gercep? Tapi akhirnya saya sadar dengan segenap jiwa dan raga, jadilah manusia selow tapi nda klemar-klemer. Kalau kemarin hari berita yang saya garap gagal upload sebab lama pas transkip, keburu basi. Kali ini sebaliknya, hmm.


Setelah memantapkan hati, menentukan standing position untuk liputan agak serius perihal dana muawanah, isu yang sangat sensitif bagi jiwa-jiwa kaum mustad’afin macam daku ini, sampailah saya pada titik di mana menunggu adalah satu-satunya keniscayaan yang bisa dilakukan.


Iya, hanya bisa menunggu dan berharap proses verifikasi data para pendaftar segera clear dan bantuan (baca: uang) bisa segera didistribusikan.


Lha kok ya ndilalah, dalam masa hampir sebulan menunggu itu, pada pagi hari Minggu yang nggak cerah-cerah banget, muncul story WhatsApp teman sekelas saya berupa screenshoot dari beberapa orang yang isinya “Dana muawanah cair, monggo silakan dicek di m-banking atau ATM terdekat” judul snap berupa Dana Muawanah Cair” itu, di-caps lock plus bold, dong.

Baca juga:  Pesantren dan Runtuhnya Radikalisme


Porakyo sing maca (saya) langsung bungah tur bertanya-tanya, ini betul nda sih? antara harap cemas ingin segera mendapat kejelasan dan semangat ’45 langsung memenuhi rongga dada saya. Jiwa wartawan abal-abal saya muncul, gercep menghubungi senior yang biasa saya jadikan rujukan dalam belajar menulis berita dan liputan.


Beberapa menit, beliau memberi instruksi untuk meminta konfirmasi pada DEMA-U, SEMA-U, Wakil Rektor 3, dan beberapa mahasiswa yang mendaftar. Tanpa fa-fi-fu, saya langsung gass chat mas Presiden SEMA-U yang ramah dan selalu respon kalau diminta wawancara itu. Tak lama berselang, chat saya dibalas dengan voice note berdurasi sekitar 2 menit.


“Kabar terakhir SEMA-U koordinasi dengan birokrasi kampus dan kawan-kawan di DEMA-U menyatakan bahwa (dana Muawanah) memang sudah siap ditransferkan ke seluruh mahasiswa yang mendaftar,”


“Hanya saja, terdapat beberapa nomor rekening yang tidak valid dan ada oknum kawan-kawan mahasiwa yang mendaftar dengan dua nomor rekening, nah itu yang benar-benar difilter supaya kawan-kawan yang kemarin sudah ada di pengumuman segera mendapatkan (pencairan).” ungkap mahasiwa prodi Manajemen Pendidikan Islam tersebut.


Dalam pencairan nanti, kalau ada pendaftar yang belum menerima transfer, akan segera ada konfirmasi dari bank bahwa nomor rekening tersebut tidak valid, dan segera dilakukan verifikasi lanjutan supaya bisa ditransfer, begitu info dari Mas Presiden SEMA.

Baca juga:  Wangsit


Cukup memberikan harapan kalau dana muawanah betul-betul sudah cair (bagi saya) sebab info terakhir yang diterima SEMA, cuan sudah siap ditransfer. Oke, tapi saya tak bisa langsung menyimpulkan.


Sembari menunggu chat saya diread dan dibalas Mas Presiden DEMA-U, saya lanjutkan tanya-tanya ke beberapa teman yang mendaftar. Mulanya mereka girang saat saya tanya “Denger kabar muawanah cair ga?” namun kemudian jawabannya sama,


Nda ada sms dari m-banking fi” atau
“Belum ada yang masuk ke rekening mbak”


Saya bertanya pada empat orang pendaftar dan empat-empatnya bilang belum ada transfer masuk ke rekeningnya. Dahi saya jadi berkerut, kok belum ada yang nerima ya?.
Ragu-ragu, antara mau melanjutkan kejar info ke Wakil Rektor 3 seperti instruksi senior tadi pagi, atau disudahi sebab ini weekend, tentu sangat tidak etis menganggu Pak WR yang sedang me-time bersama keluarganya.


Saya jadi teringat satu hal penting yang terlewat, snap WhatApp ini saya tahu pertama kali dari teman kelas yang juga hasil screenshoot teman UKM-nya. Kenapa saya nggak tanya temannya teman saya itu aja biar lebih enak?


Akhirnya saya meminta kontak temannya teman saya itu untuk tanya-tanya, apa iya dia sudah menerima transfer dana muawanah? setelah menunggu hampir satu jam sebab doi sedang memasak, Inilah akhir dari semua teka-teki pagi itu. Saudara sekalian, tahukah kalian apa jawaban dari semua ketidak-jelasan dan harapan-harapan ini?
.
.
“Eh soal status yang di-repost sama **** tu aku cuma repost dari kating hehe, tapi cuma buat prank biar semangat gitu katanya”
.
.
Prank gais. Prank. Cuma prank, biar semangat hmmm.

Baca juga:  Global Bond Indonesia Kacamata Ekonom


Alhamdulillah niat mulia sang pembuat snap pertama diijabah oleh Allah, saya jadi semangat banget kejar tabayyun, uhuk.


“Iya gitu deh tak kira to kalo udah cair, aku bisa minta uang temenku yang utang ke aku, biasalah ya tanggal tua haha” tukasnya yang entah mengapa rasanya seperti menjadi ironman tahu kekasih hati blenjani janji, periih bosque.


Perih dalam hati saya itu, terasa seperti ditaburi garam ketika si mbak melanjutkan pengakuannya dengan,
“Keknya bikin heboh ya (emot tertawa)”


Sungguh saya tak habis pikir, ini saya yang tidak bisa profesional sebab saya juga pendaftar dana muawanah, baper diprank karena turut pula menunggu dengan cemas bersama teman-teman pendaftar lain, atau ini buntut dari semangat saya yang berlebihan dan gercep kelewatan atau grusa-grusu bahkan semuanya?


Ah, saya jadi ingin menertawakan betapa malang saya pagi itu, habis dikoyak semangat sendiri, mampus ditikam harapan sendiri.

Hiks, kumenangiis~

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here