Analisis Semiotika Pragmatis atas si “Radikal”

0
510

Oleh: Rusda Khoiruz

Beberapa waktu yang lalu, kata radikal sempat kembali naik daun. Kali ini, kemunculan kata yang semula dulunya mempunyai makna positif-revolusioner dan digunakan untuk menyebut perubahan secara ‘mendasar’, sampai ‘akar’, ‘fundamental’, akan tetapi, di era kiwari ini tafsiran kata ‘radikal’ berputar balik mengarah pada hal yang negatif, dekaden, dan reaksioner. Dalam paham keagamaan, orang yang dicap sebagai orang yang radikal disetarakan dengan gerakan terorisme, bughot, sesat maka dari itu pantas diberangus dari muka bumi.

Bagi orang ultra-nasionalis, kata itu menjadi momok menakutkan yang dianggap mengancam ideologi, nusa dan bangsa. Bahkan disepadankan dengan upaya makar, kudeta, pemberontak sehingga ramai-ramai dimusuhi orang yang mengaku nasionalisnya nasionalis. Bayangkan, sinonim radikal adalah teror, makar, sesat dan kawan-kawannya.

Konon katanya, kata ‘radikal’ mampu menyatukan hampir seluruh elemen birokrasi pemerintahan mulai dari kemeterian, TNI, Polri, sampai tingkat kedaerahan untuk berperang total dengannya. Apalagi seorang menteri agama yang baru saja dilantik berasal dari jajaran purnawiran jenderal angkatan darat yang besar kemungkinan merupakan salah satu langkah untuk menggebuk apa yang disebut ‘radikalisme’.

Lantas, apa sebab sampai terjadi deformasi makna radikal seperti sekarang ini? Padahal sejarah mengatakan bahwa semangat ‘radikal’ telah mengilhami rakyat Perancis untuk menggulirkan Revolusi. Pada 1802 di Inggris, salah satu faksi di tubuh partai liberal menamai dirinya “kaum radikal”. Mereka memperjuangkan reformasi parlemen, hak pilih dan dipilih bagi semua orang tanpa kecuali. Di Amerika Serikat, kata “radikal” muncul seiring dengan perjuangan penghapusan perbudakan dan penegakan keadilan sosial. Pasca perang sipil (1861-1865), kata “radikal” dipergunakan secara luas di Amerika (Hartono, Rudi 2017).

Rentang waktu 1912-1928 di Jawa, jargon radikalisme dipakai untuk menandai setiap gerakan yang memegang prinsip non-kooperatif/tidak mau bekerja sama dengan kolonialisme  seperti SI (Sarekat Islam), PNI (Partai Nasional Indonesia), PKI (Partai Komunis Indonesia) dan lain sebagainya (Shiraishi, Takashi 1997: 65).

Perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme di awal abad ke-20 inilah yang disebut dengan masa Radikal. Kata “radikal” mendapat marwahnya ketika Sukarno mendengungkan: hak merdeka! (Soekarno dalam Mencapai Indonesia Merdeka 2019: 82). Bahkan dalam bentuk makna paling fundamental “terbebas sepenuhnya dari”.

Radikal dalam Bahasa
Menilik kembali definisi ‘radikal’. Secara etimologi, kata radikal berasal dari serapan bahasa Perancis radical yang berasal dari kata latin radix/radici yang artinya “akar”. Dalam politik, istilah “radikal” mengarah pada individu, gerakan massa atau partai yang berjuang untuk merubah kondisi sosial atau sistem politik sampai dasarnya (akar) atau keseluruhan.

Baca juga:  Trending Tagar #uinwalisongomelawan, Rektor UIN Walisongo Sebut Itu Akun Buzzer

Menelusur ke berbagai kamus mainstream. Dalam Merriam Webster makna “radikal” yaitu perilaku atau opini yang erat berhubungan dengan akar, fundamental, perubahan ekstrem, khususnya dalam pemerintahan atau politik. Selanjutnya, dalam Oxford Dictionary mengartikan “radikal” sebagai orang yang mendukung suatu perubahan sosial ataupun politik secara menyeluruh. Kamus Cambridge, memaknai kata “radikal” yaitu mempercayai atau mengekspresikan suatu kepercayaan yang dapat menjadi spirit perubahan besar atau perubahan politik dan sosial yang ekstrem dan mendasar. Sementara jika membuka KBBI, arti kata “radikal” jauh dari konotasi mengerikan, malahan bernada progresif yaitu menghendaki perubahan secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip), maju dalam berpikir atau bertindak (Hartono, Rudi 2017).

Analisis Semiotik Pragmatis Charles Sanders Pierce atas Deformasi Makna Radikal
Konotasi makna positif “radikal” porak poranda seketika saat Orde militerisme Harto sepanjang tahun 1980an-1990an mencap para aktivis Islam yang menggelar perlawanan terhadap asas tunggal pancasila dituduh sebagai “kelompok radikal”. Kata ini makin bejat maknanya ketika pemerintahan sedunia menabuh genderang perang melawan terorisme yang juga dicap sebagai “kelompok radikal” berjubah Islam (Dahlan, Muhidin M 2019). Bayangkan, sinonim kata “radikal” adalah “teror”, bukan “akar”, “primer”, “dasar”, “pokok”. Bermula dari sinilah hingga saat ini deformasi itu terus berlanjut.

Untuk menganalisa apa sebenarnya yang ada dibalik makna radikal yang kadung terdefromasi itu, kiranya dapat kita gunakan analisis semiotika Pierce. Semiotik adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia (H Hoed, Benny 2014: 15). Artinya, semua yang hadir dalam kehidupan kita dilihat sebagai tanda, yakni sesuatu yang harus diberi makna. Dalam semiotika pragmatis, proses semiosis dapat dilihat melalui tiga tahapan. Tahap pertama, ialah aspek representament atau proses mengenali tanda (pertama melalui pancaindera). tahap kedua, mengaitkan representament secara spontan dengan pengalaman (objek) dalam kognisi manusia. Ketiga, menafsirkan objek sesuai keinginannya, setelah menyambungkan pengalaman dengan kognisi, tahap ketiga ini disebut interpretant (H Hoed, Benny 2014: 8-9).

Baca juga:  Audiensi UKT berakhir di Meja Makan Restoran Gama, Mijen

Jadi, semiosis adalah proses pemaknaan yang bertolak dari representament yang secara spontan dikaitkan dengan (object) dalam kognisi manusia dan kemudian diberi penafsiran tertentu oleh manusia yang bersangkutan sebagai interpretant. Bagi Pierce, tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu.

Kata “radikal” ditempatkan sebagai representament atau tanda yang dikenali, kemudian otomatis terhubung langsung dengan objek (pengalaman kognisi manusia tentang radikal), selanjutnya ditafsirkan sebagai interprentant.

Berdasarkan hubungan antara representament dan objeknya (kognisi manusia), ada tiga jenis tanda yakni ikon, indeks, dan simbol (W Hasna dan R Indriyana 2019: 106-107). Kata “radikal” erat kaitannya dengan tanda model ke tiga yaitu simbol, alasannya karena jenis simbol berada langsung di tengah-tengah kehidupan sosial dan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.

Pertama-tama yang harus dipahami, bahwa sistem simbolik pasti didasari oleh konvensi sosial yang berarti harus melihat kembali konteks kebudayaan suatu masyarakat atau subkultur dalam komunitas. Ini berarti bahwa sistem simbolik adalah suatu konsep sosial dan budaya. Kedua, sistem simbolik mengacu pada berbagai jenis representament, baik itu realitas fisik, kognitif, maupun virtual (H Hoed, Benny 2014: 11). Namun, terjadi kegamangan saat tanda berubah menjadi sistem simbolik, secara tidak sadar, tanda seperti ini telah menjelma menjadi sebuah label sosial. Seperti kata ‘radikal’.

Padahal, Pierce memperkenalkan proses semiosis secara berlanjut bahkan sampai tak terhingga. Ketika proses semiosis mencapai tahap interpretant, sebagai contoh kata “radikal” yang sudah mencapai tahap interpretant, bisa saja menjadi representament baru dan dikaitkan secara spontan dengan pengalaman objek (kognisi manusia) yang baru dan kemudian muncul interprentant baru. Akan tetapi, interpretant ‘radikal’ di era kiwari ini sebatas menjelma menjadi “label sosial” yang pemaknaannya berhenti. Proses semiotik sosial seperti ini secara tidak langsung mengikis nalar kritis dan sama sekali tidak mendidik (H Hoed, Benny 2014: 197).

Parahnya, “lebel sosial” (kata “radikal”) dipakai untuk mencap suatu golongan yang dianggap berbahaya, mengancam, tidak pro kebijakan pemerintah. Mulai dari sinilah, kata “radikal” menjadi suguhan politis untuk melanggengkan status kekuasaan pemerintah.

Baca juga:  Pendidikan Karakter Nirkekerasan (2)

Interpretant kata “radikal” pada masa lampau erat kaitannya dengan perjuangan perubahan secara mendasar, sampai ke akar, fundamental, pokok, asas dan lainnya. Maka seharusnya, dengan segera, kata “radikal” di abad millenial ini menjelma sebagai simbol perjuangan yang baru dan kontekstual sejalan dengan semangat zamannya. Akan tetapi, yang terjadi adalah deformasi yang mengerikan. Apabila kata “radikal” disematkan kepada suatu aliran paham keagamaan maka bayang-bayang yang muncul adalah “teror”, “bom bunuh diri”, “sesat”. Apabila kata “radikal” dikaitkan dengan konteks sosial dan kenegaraan maka gambaran yang muncul ialah “pemberontakan”, “makar”, “kudeta”.

Nampaknya, yang telah berubah dari pemaknaan awal kata “radikal” terjadi akibat pengalaman objek (kognisi manusia) yang telah berubah sama sekali ketika orde militerisme Harto menggunakan kata ‘radikal’ untuk mencap golongan yang tidak setuju dengan asas tunggal pancasila waktu itu. Sehingga mengakibatkan proses semiosis yang bermula dari simbol berhenti pada label sosial dan tidak terjadi lagi proses semiosis alias berhenti. Dengan kata lain “radikal” sekedar menjadi label sosial.


Anehnya, ketika makna kata “radikal” sudah terdeformasi. Pemikiran kritis (fundamental, pokok, akar dan lain-lain) atas realitas sosial yang timpang, ikut terseret ke gelanggang pemaknaan kata “radikal” yang sudah terlanjur dianggap berbahaya.

Akhirnya, tak tersisa satu tempat pun untuk pemikiran kritis. Dugaan penulis, deformasi kata “radikal” terjadi akibat pengalaman objek (kognisi manusia) yang telah berubah dan diubah oleh yang pertama, akibat dari kegagapan memahami sejarah dan kedua, akibat suguhan politis yang mengkambinghitamkan kata “radikal” untuk mempertahankan status quo kekuasaan.

Daftar Refrensi
Shiraishi, Takashi. Zaman Bergerak Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Diterjemahkan oleh Hilmar Farid. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997. Cet, Pertama.
Soekarno. Mencapai Indonesia Merdeka. Bandung: 2019. Cet, Keempat.

H Hoed, Benny. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Jakarta: Komunitas Bambu, 2014. Ed, ketiga.

W, Hasna dan R, Indriyana. Postmodernisme. Yogyakarta: Sociality, 2019.

Dahlan, Muhidin M. 2019. Ramai-ramai Ngawur Menggunakan Kata Radikal. https://tirto.id/ramai-ramai-ngawur-menggunakan-kata-radikal-ek65. Diakses 13 Januari 2020, 08:45).

Hartono, Rudi. 2017. Menyelamatkan Istilah “Radikal”. http://www.berdikarionline.com/menyelamatkan-istilah-radikal/#comments. Diakses 12 Januari 2020, 13:54).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here