Al-Muhafazatu ‘Ala Al-Qadim Al-Shalih Wa Al-Akhdzu Bi Al-Jadid Al-Aslah, Kultur Pesantren di Indonesia (4)

0
80
Kredit foto : Umarul Faruq /ANTARA FOTO

Oleh : Ridhallah Alaik (Mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo)

justisia.com Upaya-upaya yang dimaksud adalah mengembangkan sejumlah khazanah-khazanah keislaman yang toleran dan terbuka terhadap perbedaan serta kontekstualisasi dengan zaman kekinian.

Adapun Sebagai salah satu organisasi Islam moderat di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) adalah penarik gerbong utama sebagai pelopor Islam yang sangat menjunjung perdamaian dan toleransi. Secara garis besar NU mengupayakan tiga hal yang harus dilakukan generasi mudanya, apalagi yang satusnya sebagai santri di pondok pesantren untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan.

Pertama, membangun pemikiran Islam yang berbasis kultur Indonesia yang dipadukan dengan modernisasi, yakni dengan mengembangkan sejumlah pemahaman dan sikap yang ramah, santun, dan berbasis tradisi-tradisi Indonesia disatu sisi dan memahami modernitas zaman kekinian disisi lain.

Kedua, mengupayakan gerakan keislaman berbasis ekonomi, yakni dengan membangun sebuah tatanan aktivitas perekonomian yang memberikan sejumlah keterampilan serta memberdayakan masyarakat dalam berekonomi. Upaya ini dirasakan begitu penting, dimana sejumlah tindak kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Islam radikal adalah karena motif himpitan ekonomi. Ketiga, menciptakan ruang dialog inklusif (terbuka) baik dengan kelompok-kelompok atau aliran-aliran internal dalam Islam maupun dengan berbagai kalangan pemuka agama non-Islam.

Baca juga:  Muadalah dan Lahirnya Legalitas Pesantren

Tindak kekerasan tidak jarang timbul karena adanya sikap saling mencurigai (su’udzon). Yakni menaruh kecurigaan dan kebencian terhadap orang lain yang berbeda keyakinan. Oleh sebab itu, membuka dialog inklusif adalah solusi efektif dalam meredam kecurigaan, kebencian, dan tindak kekerasan.[1]

Berdirinya suatu pesantren mempunyai latar belakang yang berbeda, yang pada intinya adalah memenuhi kebutuhan masyarakat yang haus akan ilmu. Pada umumnya diawali karena adanya pengakuan dari suatu masyarakat tentang sosok kiai yang memiliki kedalaman ilmu dan keluhuran budi.

Kemudian masyarakat belajar kepadanya baik dari sekitar daerahnya, bahkan luar daerah. Pesantren sebagai salah satu sistem pendidikan indegenous yang telah berabad-abad berperan membentuk karakter dan watak umat Islam di Indonesia.

Pesantren seharusnya memiliki potensi menjadi salah satu basis baik secara diskursif maupun moral-praktis dalam menyemaikan nilai-nilai perdamaian di Indonesia. Bila ditelusuri lebih jauh, pendidikan pesantren pada awal kemunculannya memiliki basis pendidikan perdamaian yang komperhensif.

Pesantren seharusnya menjadi inklusif dan tidak menutup diri pada sesuatu yang datang dari luar, sekaligus menjadi penjaga tradisi yang bernilai baik adalah sebuah keniscayaan.

Baca juga:  Nasib Buruh Ditangan Pemerintah

Pesantren harus mampu mendialogkan kepentingan agama dengan perubahan zaman, mencari jalan tengah antara tradisionalis dan yang modernis, antara yang konservatif dan yang progresif, antara yang tekstualis dan kontekstualis.

Pemikiran modernis yang lebih menekankan kebebasan berfikir dan mengadopsi istilah-istilah asing atau kebudayaan lain belum tentu sesuai dengan situasi sosial masyarakat kita, sementara pemikiran konservatif yang menutup diri dari kebudayaan atau dunia luar merupakan sebuah sikap pengingkaran terhadap amanah sejarah.

Apalagi memunculkan sikap fanatisme berlebihan dan menganggap paling benar serta menuding / mengklaim pihak lain sebagai bid’ah dan kafir.

Editor : Afif

KONTEN MERUPAKAN KOLABORASI RAMADHAH BERSAMA NUJATENG.COM X JUSTISIA.COM


[1] Lihat,  http://djavaspot.blogspot.com/2014/02/moderasi-karakteristik-islam-ala.html, diakses 13 Oktober 2019. Pukul 22.30 wib.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here