Al-Muhafazatu ‘Ala Al-Qadim Al-Shalih Wa Al-Akhdzu Bi Al-Jadid Al-Aslah, Kultur Pesantren di Indonesia (3)

0
75
Kredit foto : Umarul Faruq /ANTARA FOTO

Oleh : Ridhallah Alaik (Mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo)

justisia.com Dalam situs nu.or.id, terdapat artikel “Sembilan Alasan Pesantren Tepat Dijadikan sebagai Laboratorium Perdamaian”. Pertama, prinsip maslahat (kepentingan umum) merupakan pegangan yang sudah tidak bisa ditawar lagi oleh kalangan pesantren. Tidak ada ceritanya orang-orang pesantren meresahkan dan menyesatkan masyarakat.

Justru kalangan yang membina masyarakat kebanyakan adalah jebolan pesantren, baik itu soal moral maupun intelektual. Kedua, metode mengaji dan mengkaji. Selain mendapatkan bimbingan, teladan dan transfer ilmu langsung dari kiai, di pesantren diterapkan juga keterbukaan kajian yang bersumber dari berbagai kitab, bahkan sampai kajian lintas mazhab.

Tatkala muncul masalah hukum, para santri menggunakan metode bahts al-masa’il untuk mencari kekuatan hukum dengan cara meneliti dan mendiskusikan secara ilmiah sebelum menjadi keputusan hukum. Melalui ini para santri dididik untuk belajar menerima perbedaan, namun tetap bersandar pada sumber hukum yang otentik.

Ketiga, para santri biasa diajarkan untuk khidmah (pengabdian). Ini merupakan ruh dan prinsip loyalitas santri yang dibingkai dalam paradigma etika agama dan realitas kebutuhan sosial.

Keempat, pendidikan kemandirian, kerja sama dan saling membantu di kalangan santri. Lantaran jauh dari keluarga, santri terbiasa hidup mandiri, memupuk solidaritas dan gotong-royong sesama para pejuang ilmu. Kelima, lahirnya beragam kelompok diskusi dalam skala kecil maupun besar. Setting kamar kebanyakan pesantren relatif padat. Satu kamar berukuran kecil bisa ditempati oleh 8 orang lebih.

Baca juga:  Agama dalam Tirani Politik Kapital

Kondisi ini membuat mereka sering membuat forum kecil untuk membahas hal-hal remeh sampai yang serius. Dialog kelompok membentuk santri berkarakter terbuka terhadap hal-hal berbeda dan baru.

Keenam, gerakan komunitas seperti kesenian dan sastra tumbuh subur di pesantren. Seni dan sastra sangat berpengaruh pada perilaku seseorang, sebab dapat mengekspresikan perilaku yang mengedepankan pesan-pesan keindahan, harmoni dan kedamaian.

Ketujuh, penanaman spiritual. Tidak hanya soal hukum (fikih) yang didalami, banyak pesantren juga melatih para santrinya untuk tazkiyatun nafs, yaitu proses pembersihan hati. Ini biasanya dilakukan melalui amalan zikir dan puasa, sehingga akan melahirkan fikiran dan tindakan yang bersih dan benar. Makanya santri jauh dari pemberitaan tentang intoleransi, pemberontakan, apalagi terorisme.

Kedelapan, kesadaran harmoni beragama dan berbangsa. Perlawanan kultural di masa penjajahan, perebutan kemerdekaan, pembentukan dasar negara, tercetusnya Resolusi Jihad 1945, hingga melawan pemberontakan PKI misalnya, tidak lepas dari peran kalangan pesantren. Sampai hari ini pun komitmen santri sebagai generasi pecinta tanah air tidak kunjung pudar.

Baca juga:  Al-Muhafazatu 'Ala Al-Qadim Al-Shalih Wa Al-Akhdzu Bi Al-Jadid Al-Aslah, Kultur Pesantren di Indonesia (2)

Sebab, mereka masih berpegang teguh pada kaidah hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman). Kesembilan, merawat khazanah kearifan lokal. Relasi agama dan tradisi begitu kental dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pesantren menjadi ruang yang kondusif untuk menjaga lokalitas di tengah arus zaman yang semakin pragmatis dan materialistis.[1]

Di era globalisasi sekarang, sungguh pesantren dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih kompleks jika dibanding dengan periode-periode sebelumnya. Maka, menurut Gus Solah menempatkan pesantren menjadi inklusif dan tidak menutup diri pada sesuatu yang datang dari luar, sekaligus menjadi penjaga tradisi yang bernilai baik adalah sebuah keniscayaan.

Pesantren harus mampu mendialogkan kepentingan agama dengan perubahan zaman, mencari jalan tengah antara tradisionalis dan yang modernis, antara yang konservatif dan yang progresif, antara yang tekstualis dan kontekstualis.

Pemikiran modernis yang lebih menekankan kebebasan berfikir dan mengadopsi istilah-istilah asing atau kebudayaan lain belum tentu sesuai dengan situasi sosial masyarakat kita, sementara pemikiran konservatif yang menutup diri dari kebudayaan atau dunia luar merupakan sebuah sikap pengingkaran terhadap amanah sejarah. Apalagi memunculkan sikap fanatisme berlebihan dan menganggap paling benar serta menuding / mengklaim pihak lain sebagai bid’ah dan kafir.[2]

Baca juga:  Menanggulangi Tekfin Bodong yang Merajalela

Masih mengutip buku yang sama,      sementara landasan yang melatarbelakangi keterbukaan pesantren adalah Kiai Hasyim Asy’ari, yang senantiasa menganjurkan untuk mampu bersikap terbuka dan fleksibel dengan tuntutan globalisasi.

Beliau dianggap telah mengajarkan banyak hal terkait kemampuan untuk beradaptasi dan menjawab tantangan perubahan. Justru karena sikap keterbukaan inilah yang menyebabkan pesantren ini (tebuireng) tetap bertahan dan mencapai puncak kesuksesan hingga sekarang.

Bahkan kalau selama ini terdapat sikap tarik menarik dalam dunia Islam antara tradisionalisme dan modernisme, dikotomi antara ilmu agama dan non agama justru –dengan kekenyalan dan keterbukaan pesantren Tebuireng dapat diselesaikan dengan cara menjadikan tradisionalisme sebagai wadah untuk mengakomodasi modernisme.

Meskipun harus diakui, nampaknya melakukan pembaharuan pesantren telah menempati proporsi yang cukup dominan, daripada menjaga tradisi pesantren yang telah lama berkembang.[3]

Editor : Afif

KONTEN MERUPAKAN KOLABORASI RAMADHAH BERSAMA NUJATENG.COM X JUSTISIA.COM


[1]https://www.nu.or.id/post/read/97458/sembilan-alasan-pesantren-tepat-dijadikan sebagai-laboratorium-perdamaian, diakses 12 Oktober 2019, pukul 21.00 wib.

[2] Syamsul Ma’arif, Pesantren Inklusif Berbasis Kearifan Lokal, (Yogyakarta : Kaukaba Dipantara, 2015), h. 229.

[3] Syamsul Ma’arif, Pesantren Inklusif …, h. 230

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here