Al-Ghazali dalam Ilmu Kalam dan Falsafah

0
136
Website | + posts

Oleh : Rusda KZ (Alumnus PP Mambau Sholihin Gresik)

justisia.com Pasca Abu al-Hasan al-Asy’ari (w. 300 H/915 M) melerai kegaduhan sikap keagamaan dari yang paling deterministik sampai free will ansich, golongan ahl al-sunnah wa al-jama’ah sangat cepat mendapat tempat dan diterima sebagai rumusan ajaran pokok agama (ushul al-din) di seluruh dunia Islam tak terkecuali. Sebab hakikatnya ilmu kalam al-Asy’ari merupakan jalan tengah antara dogmatisme kaum Jabariyah dan liberalisme Qadariyah saat itu.

Untuk kali pertama setelah serbuan Hellenisme awal, ilmu kalam semakin mantap kedudukannya dalam bangunan khazanah intelektual Islam. Berbeda dengan ilmu kalam yang sering disebut intelektualisme memasyarakat, di sisi lain kajian falsafah tetap menjadi kesibukan pribadi-pribadi golongan yang sering menamai dirinya al-kawwash (orang-orang istimewa). Betapapun hebat problem solving yang ditawarkan al-Asy’ari kepada peradaban Islam dengan ilmu kalamnya, falsafah mulai memunculkan gelagatnya sejalan dengan tampilnya al-Farabi (w. 340 H/950 M).

Lantas, apa yang dikhawatirkan ketika falsafah menemukan momentumnya kembali? Tepat sekali, ditakutkan para golongan al-‘awaam (orang umum) ikut campur pula membahasnya. Konsekuensi logis darinya adalah akan terjadi kegaduhan pemahaman keagamaan dalam ummat Islam.

Meski begitu, sebagai seorang failasuf al-Farabi tercatat sebagai peletak sesungguhnya pondasi piramida falsafah Islam. Ia adalah penerus tradisi intelektual al-Kindi (w. 257 H/870 M) dengan kompetensi dan kebebasan berpikir dan tingkat sofistikasi yang lebih tinggi lagi. Tak heran bila ia kemudian dijuluki al-mu’allim al-tsani, second teacher dalam jagat intelektual Islam setelah Aristoteles sang “guru pertama”.

Tak lama berselang, gelombang Hellenisme kedua siap menginvasi dunia Islam, kira-kira tahun 340 H-660 H sekitaran tahun 950 M-1260 M. Sejalan dengan merosotnya pamor rezim Baghdad. Sehingga kegiatan intelektual pun tak melulu berpusat di kota besar seperti Basrah, Baghdad, dan Kufah akan tetapi mulai merambah ke kota-kota kecil. Di antaranya sebuah tempat di tepi pantai Selatan laut Kaspia, di kawasan Bukhara lahir seoranng Ibn Sina (w. 428 H/1037 M). Failasuf sekaligus penulis yang luar biasa produktif dan menuliskan karyanya dalam bahasa arab.

Sama halnya dengan al-Farabi, Ibn Sina pun menegakkan bangunan Neoplatonis di atas dasar kosmologi Aristo, dan menggabungkan konsep pembagian alam wujud menurut paham emanasi.

Betapapun kondang rekam jejak para failasuf itu dalam khazanah intelektual Islam—juga dunia, tetap saja menimbulkan kekacauan pemahaman bagi al-‘awwam. Banyak orang pada waktu itu mulai meninggalkan ibadat hanya karena sibuk urusan duniawiah karena dorongan free will, manusia adalah entitas superior yang bergerak atas dasar kemampuannya sendiri. Kondisi ini juga diperparah oleh derasnya gelombang Hellenisme kedua dalam sejarah peradaban intelektual Islam.

Tampilnya al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) membawa gagasan yang dahsyat seakan menjadi Oase di tengah gersangnya hamparan padang spiritualitas. Sekalipun al-Ghazali dengan tandas mengkritik filsafat Neoplatinisme al-Farabi dan Ibn Sina, ia juga mempelajari dan menguasai falsafah itu sedalam-dalamnya dengan kompetensi yang tidak dapat diragukan. Salah satu karya polemisnya adalah Tahafut al-Falasifah (kekacauan para failasuf).

Tujuan akhir al-Ghazali ialah membela dan menggiatkan kembali kajian keagamaan, karya monumetalnya yaitu Ihya’ Ulum al-Din (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama). Sehingga tidak berlebihan jika ia disebut penerus estafet al-Asy’ari. Bahkan ia mendapat gelar Hujjat al-islam (Argumentasi Islam) dan menjadi simbol kaum sunni.

Di tengah runyamnya arus Hellenisme kedua dan panasnya perdebatan ilmu kalam, pemikir sistematis dan rasional dari Thus itu berupaya menggabungkan keduanya—jika enggan menyebutnya mendamaikan. Tak ayal, tuduhan menyeleweng dan dicurigai tak dapat dihindari al-ghazali, nampaknya pengalaman al-Asy’ari juga berulang padanya. Sisi menarik yang perlu dicatat dari pembelaan al-Ghazali dalam membela agama ialah, bahwa dirinya memperkenalkan berbagai cara berpikir dan metode yang saat itu dicap heterodoks dan bid’ah.

Setali tiga uang dengan al-Asy’ari, al-Ghazali berhasil mengukuhkan kembali paham sunni untuk kali kedua. Untuk membendung Hellenisme yang kedua, ia meminjam metode dan logika lawannya; Neoplatonisme dan Aristotelianisme. Ia berhasil mengokohkan sunnisme sebegitu jauh tak terpatahkan.

Al-Ghazali dengan jelas mengakui keterbatasan falsafah dan ilmu kalam, ia lebih meyakini bahwa beragama haruslah terutama berupa pendekatan diri pribadi kepada Tuhan dalam bingkai kehidupan zuhud seorang sufi. Al-Ghazali memberikan tempat yang mapan bagi esoterisisme Islam. Maka kesenjangan antara sufisme dan bidang-bidang agama lainnya seperti ‘Aqidah dan Syari’ah makin menciut.

Editor : Afif

KONTEN MERUPAKAN KOLABORASI RAMADHAH BERSAMA NUJATENG.COM X JUSTISIA.COM

Baca juga:  Panjang Umur Para Pejuang Keadilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here