Secara kelembagaan, perubahan gelar dari Sarjana Hukum Islam menjadi Sarjana Hukum bagi UIN Walisongo memang sangat menguntungkan. Namun secara substansi hal tersebut tetap saja menjadikan alumni UIN dikelas duakan.

“Ketika saya belajar di FSH, saya memang belajar ilmu hukum, tapi tidak ada pengakuan di culture, mereka menganggap orang-orang syari’ah ya gitu-gitu aja,” ujar Yamin dalam acara sarasehan alumni FSH di Auditorium 1 kampus 1 UIN Walisongo Semarang pada Jum’at (08/11).

Bahkan, dalam pidatonya beliau mengatakan bahwa orang-orang di dunia hukum, merespon alumni FSH UIN berbeda dengan merespon alumni FH Undip, Unnes, dan lain-lain.

Selain itu, lulusan FSH juga tidak dapat melanjutkan S2 keadvokatan. Karena S2 keadvokatan hanya menerima lulusan dari Fakultas Hukum saja.

Hal tersebut menjadi problem yang sangat besar bagi para alumni FSH UIN. Dekan UIN Walisongo, Arja Imroni mengharapkan agar sarasehan ini dapat berjalan rutin dan dapat menindaklanjuti problem tersebut.

“Usulan tersebut sudah kita tulis dan akan kita kaji dan kita klasifikasi. Kemudian untuk mengadvokasi alumni, kita akan mengupayakan untuk komunikasi dengan kemenag Dikti, dan nanti kemenag Dikti akan mengkomunikasikan dengan kementerian Kemendikbud untuk kesetaraan kita dalam semua bidang,” tutur pria berbaju batik itu.

Reporter: Sadad, Haidar, Maulana, Popo
Penulis: Popo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here