Justisia.com “Amin Ya Allah, aman desone, ora rusak tandurane. Aman saking balak lan belahi. Bakal entek bumi Wadas nek dirusak. Alhamdulillah wong (sebelumnya) yo cukup nggo nyekolahke anak anak,” suara Mbah Rokiban lirih, petani yang sehari hari menggarap lahan di Wdas seraya mengangkat tangan saat Gus Fayyadl memanjatkan doa untuk keselamatan Desa Wadas dari kerusakan.   

Pagi itu nampak beda, seluruh warga desa Wadas seolah meliburkan segala aktifitasnya. Jumat (22/02) seluruh warga desa Wadas dari tua maupun muda bahu membahu menyiapkan acara Kenduri Durian. Acara itu juga diisi dengan pengajian akbar dan Istighosah memohon doa untuk keselamatan desa. Panggung yang didirikan warga tepat berada di antara masjid Nurul Huda dan halaman rumah Kiai Bahrudin, tokoh agama desa Wadas. 

Menuju desa Wadas yang terletak 10 kilometer dari pusat kota menuju arah utara dapat ditempuh sekitar 25 menit dengan kendaraan pribadi. Perjalanan menuju Desa Wadas banyak disuguhi panorama alam. Mulai deretan rumah penduduk- dan disusul deretan ladang garapan warga desa.

Udara sejuk ditambah kicauan burung yang masih beragam bertenggeran di dahan pepohonan menggambarkan kekhasan daerah dataran tinggi.

Siang itu 500 durian terbaik yang menjadi tiga gunungan sudah disediakan  untuk para tamu yang datang ke desa Wadas.  Lahan seluas 154 hektar di atas bukit desa Wadas memang menghasilkan banyak hasil bumi yang cukup banyak dan beragam. Acara kenduri durian ini dipersembahkan oleh warga desa Wadas untuk membuktikan bahwa desa Wadas merupakan desa dengan tanah yang subur. Jauh dari kata gersang, apalagi tanah yang tidak mengasilkan apa apa.

Jumat siang terlihat banyak tamu yang hadir ke desa Wadas. Kehadiran mereka tak lain untuk turut bersolidaritas dan melihat berbagai perform dari berbagai kalangan yang mendukung perjuangan desa Wadas. Solidaritas dari berbagai komunitas memang sangat terasa. Dari grup musik, drama teater hingga para pelukis yang turut serta berkontribusi dalam berbagai bentuk dukungan.

“Kita bergerak bareng ketika ada satu masalah dan ada kemauan untuk melawan. Ini solidaritas yang sangat berarti. Momen ini bisa kita manfaatkan untuk memberikan dukungan secara luas dan penolakan tambang ini bisa berhasil,” ujar Aldi pemuda asal Purworejo, salah satu personil Pagar Bambu yang turut memainkan drama pada pentas seni acara Kenduri Durian.

Acara Kenduri Durian sendiri sebagai upaya warga desa Wadas untuk membuktikan bahwa tanah mereka adalah tanah yang subur. Sembilan puluh persen kehidupan warga di Wadas juga bergantung pada pertanian. Yang tengah menghadapi ancaman kerusakan alam karena penambangan batu andesit yang ada di tanah garapan mereka.

“Acara ini kita undang bupati hingga gubernur, tak lain kita (warga desa Wadas) ingin membuktikan bahwa desa Wadas ini sebagai desa yang subur. Kenduri Durian sebuah ikon untuk membuktikan sebagai tanah yang produktif, karena setiap tahun yang menjadi andalan hasil bumi warga sini adalah durian. Acara seperti ini maksud dan tujuannya supaya dari pemerintah itu menyaksikan sendiri kemakmuran warga disini. Dan menyatakan penolakan warga atas rencana pengambilan batu di desa Wadas,” ujar tokoh agama Desa Wadas, Kiai Bahrudin saat diwawancari justisia.com disela sela acara.

Seniman Purworejo Umar Farq tengah membuat Mural perjuangan Save Wadas dalam solidaritas lintas komunitas untuk perjuangan warga Wadas. foto: Mufti

Proyek Bendungan Bener

Warga Wadas yang selama ini hidup sejahtera dengan hasil bumi mereka tak pernah menyangka akan dihadapkan pada situasi seperti saat ini. Hamparan tanah seluas 154 hektar di atas bukit yang subur, ternyata jauh 25 meter dari permukaan tanah terdapat hamparan batu andesit yang menggiurkan. Batu di bawah tanah garapan mereka inilah rencana akan diambil untuk bahan baku pondasi pembuatan bendungan Bener yang direncanakan tertinggi di Indonesia setinggi 169 meter.

Desa Wadas adalah salah satu desa yang terdampak proyek pembangunan bendungan Bener. Meski  bukan area genangan air namun pengambilan Quary (batu) akan diambil dari desa Wadas.  Proyek ini merupakan bagian dari proyek strategis nasional untuk mewujudkan ambisi besar rezim infrastuktur era Jokowi senilai 3 triliyun.  

Muhammad Bahrudin, sebagai yang dituakan di Wadas bercerita bahwa beban berat itu benar benar dirasakan masyarakat Wadas. Karena mereka menghadapi ancaman kerusakan setiap waktunya setelah ada kabar penambangan batu di Wadas. Namun pria yang sehari hari juga bertani itu mengatakan kini tekad masyarakat menolak tambang sudah bulat. Seakan kini sudah tidak ada rasa takut lagi pada masyarakat untuk berjuang menghadapi segala kemungkinan.

“Alhamduillah selama ini hasil bumi kita sangat mencukupi kehidupan warga. Jadi semua warga disini sepakat menolak, rasa takut kita kepada siapa saja itu sudah habis,” ujarnya.

Meski Wadas cukup jauh dari pusat kota, ia mengatakan bahwa warga disini jarang yang pergi keluar desa untuk bekerja, apalagi menjadi buruh di luar. Mereka sudah cukup dengan aktifitas mereka mengolah lahan di Wadas, karena semua sudah bisa tercukupi.

Salah satu tokoh Gempadewa, Marsono, mengatakan hal ini sebagai bukti keinginan besar warga Wadas untuk tetap mepertahankan kelestarian lingkungan dari kerusakan, karena menghilangkan pekerjaan mayoritas warga Wadas dan merusak sumber air. “Lalu apa yang bisa diwariskan untuk anak cucu kami kelak,” tanya Marsono. Megingat selain durian yang dihasilkan dari Wadas ada kemukus, manggis, vanili, kopi, dan rempah lainnya. Warga juga menanam kayu keras untuk tabungan saat terdesak kebutuhan.

Rencana pembangunan bendungan Bener, sudah sejak lama. Pada 2013, namun baru satu tahun terakhir ini perjuangan warga benar benar kuat. Mereka lantas membentuk Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempadewa) untuk wadah perjuangan mereka. Terhitung mereka dua kali melakukan aksi, di Gubernuran Jawa Tengah pada tanggal 8 November dengan maksud menyampaikan aspirasi warga desa Wadas kepada Gubernur Jateng, namun tak mau menemuinya. Dan kedua pada tanggal 10 Januari di Kantor Bupati Purworejo namun lagi lagi mereka gagal menemui Bupati.

“Kami mendukng rencana pembangunan Bendungan Bener, namun jangan sampai batunya diambil dari Wadas. Kami sampai kapanpun akan menolak tambang batu,” imbuh Marsono.

Bersama Menjaga Alam

Acara Kenduri Durian ini sebagai bentuk gotong royong seluruh warga Wadas.  Semua bahu membahu memabantu semampu mereka. Mulai dari ikut memberi durian terbaik dan sekedar meminjamkan karpet untuk duduk para tamu yang hadir. Dengan begitu sangat terasa bahwa seluruh warga telah satu suara, untuk satu tujuan menjaga kelestarian alam mereka dari kerusakan.

“Semua ini hasil dari uiran warga. Tidak ada sedikitpun orang luar yang turut campur tangan. Karena ini adalah bentuk shodaqoh warga dalam berjuang,” kata Bahrudin.

Bahkan menurut Bahrudin dalam menjaga alam yang menghasilkan untuk kehidupan mereka tidak hanya yang hidup saja. Namun, para leluhur yang telah tiada dan para penjaga alam di Wadas juga bersama menjaganya.

“Kalau masyarakat disini itu percaya, pokoke kudu di openi kowe seng manungso kudu berusaha aku seng barang ora ketok tetap berusaha melo jogo bareng bareng. (kamu yang manusia harus berusaha menjaga dan kita yang tidak terlihat juga menjaganya bersama),” imbuhnya.

Dampak terburuk ketika area produksi hasil bumi Wadas diambil batunya, akan terjadi bencana berupa kelangkaan pangan, hilang mata pencaharian dan hilangnya sumber air.

Kopi Wadas yang dihasilkan dari perkebunan warga, dengan jenis kopi robusta mulai diproduksi oleh masyarakat dan siap untuk di pasarkan. foto: Mufti

Kopi Wadas dan lahan yang Terancam Hilang

Pada acara kali ini juga dikenalkan kopi hasil desa Wadas yang tidak kalah dengan kopi kopi lainnya. Dalam satu tahun, kopi yang dihasilkan dari Wadas bisa mencapai satu ton. Meski belum banyak dipasarkan keluar desa, namun warga Wadas mulai belajar untuk mengolahnya hingga menjadi kopi siap saji yang tak kalah saing dengan kopi daerah lainnya. Namun rencana penambangan batu dari bukit Wadas juga akan menghilangkan ribuan pohon kopi apabila hal itu terealisasi. 

 “Kopi Wadas termasuk jenis robusta. Selama ini kita konsumsi sendiri. Inisiatif teman dalam rangka pengenalan kopi Wadas untuk membuktikan bahwa desa mempunya hasil kopi yang bagus,” terang Irfan salah satu pemuda Wadas di stand kopi Wadas.

Batu Lemosoh. Julukan warga untuk batu berwarna hitam tersebut. Atau yang biasa disebut dengan batu Andesit. Batu ini terletak di perut perbukitan Desa Wadas tempat dimana di atasnya tumbuh berbagai jenis tanaman dan buah buahan. Berbeda dengan batu sungai umumnya yang berbentuk bulat, batuan ini seolah tak terputus. Bentuknya lebar nan besar.

Batu Lemosoh yang selama ini dipertahankan warga dari kerusakan. Dan batu ini juga yang menjadi incaran Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak untuk kebutuhan meteril pembangunan Bendungan Bener. Dimana BBWS merupakan pemrakarsa proyek Bendungan Bener, di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Warga tak menolak pembangunan bendungan. Mereka hanya tak ingin batu, material bendungan diambil dari desa Wadas. Karena selama ini tumpuan hidup warga pada sektor perkebunan.

Sehari-hari panen gadung, kimpul, ketela, kencur, menyadap karet, kelapa, vanila, dan nira. Kemukus, tanaman rempah ini banyak merambat di pohon-pohon yang mencengkeram tanah perbukitan. Selain itu, puluhan ribu pohon durian akan terancam ditebang. Padahal desa Wadas sendiri terkenal dengan hasil perkebunan duriannya.

Durian Wadas terjual hingga kota-kota sekitar Purworejo seperti Kebumen dan Yogyakarta. Belum ada data pasti berapa pohon durian di desa itu. Seorang perangkat desa ketika ditemui terpisah menyebut ada ribuan. Jika panen tiba, pagi bisa sampai tiga kali pikul. Satu keranjang bisa 25 durian. per lima hari warga bisa meraup keuntungan sebesar Rp. 800.000 per orang.

Bagian perjuangan menegakkan agama

Gus Fayyadl dari Front Nahdliyin Untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) dalam tausyiahnya juga semakin menguatkan perjuangan warga Wadas. Ia menegaskan bahwa perjuangan mempertahankan lingkungan adalah sebagai bentuk perjuangan menegakkan agama dan negara. Hubbul Wathon Minal Iman.

 “Kata ulama, tanda negeri makmur yaitu tumbuhan hijau dan subur, insyaallah Wadas akan selalu seperti itu. Dan tanda dicabutnya rahmat suatu daerah ketika gersang dan tidak ada tumbuhan, sama seperti saat suatu daerah itu ditambang,” jelas Gus Fayyadl.

“Sebenarnya Allah menciptakan bukit, gunung, dan lautan agar semua mahkluk disekitarnya itu dapat menikmatinya. Untuk menjaga semua makhluk yang hidup di dalamnya menjadi sejahtera dan makkmur, maka kita wajib mempertahankan Wadas untuk anak cucu kita. Alam ini akan selalu memberikan berkah dan rahmat karena alam ini ditugaskan Allah untuk memberikan kehidupan,”, pungkasnya. (red: Mufti, ed:AM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here