Justisia.com – Selasa (20/08) Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, menyampaikan bahwa rasa nasionalisme harus berpedoman hak asasi manusia pada hari kedua Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di UIN Walisongo Semarang.

Acara dimulai pukul 7.30 dengan dibuka oleh pembawa acara yang berpakaian adat khas Jawa.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Jaya, Bendera, Tanah Airku.

Kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Dr. Muhsin Jamil mewakili Rektor UIN Walisongo.

Dalam sambutanya beliau mengungkapkan mahasiswa harus kritis, peduli terhadap situasi. Beliau berharap mahasiswa tidak hanya pintar dalam hal akademik saja, namun juga intelektual yang dapat peka terhadap lingkungan.

Dilanjutkan dengan orasi kemahasiswaan oleh Ketua Dema UIN Walisongo Semarang oleh Prio Ihsan Aji, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam itu menyoroti kasus-kasus yang bertentangan dengan HAM, yang terjadi akhir-akhir ini. Prio berharap agar para mahasiswa baru nantinya dapat menjadi insan yang berdikari.

Selanjutnya ada orasi ilmiah oleh Usmad Hamid. Beliau berpesan agar mahasiswa belajar dengan sesama manusia, walaupun dengan perbedaan latar belakang yang ada, baik ekonomi, pangkat, agama, suku, dan ras, beliau mengatakan demikian itulah ajaran kemahasiswaan.

Beliau juga menyinggung bahwa manusia tidak bisa dinilai baik buruknya hanya dengan tampilan luarnya saja.

“Tidak bisa kita memberikan stigma ekstremis atau teroris terhadap orang yang berjanggut, bercadar dan bergamis, begitu juga sebaliknya. Namun bagaimana dia berakhlak dan memperlakukan antar sesama manusia”, tuturnya.

Beliau menambahkan jika dalam Pancasila, semuanya berpihak kepada kemanusiaan mulai dari sila pertama yakni ketuhanan Yang Maha Esa, hingga sila kelima yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pria asal Jakarta tersebut mengajak agar mahasiswa menjadi kontrol sosial atas kejadian yang terjadi di sekitar kita.

Selanjutnya beliau menuturkan, rasa nasionalisme yang ada pada diri kita saja tidak cukup, namun harus rasa nasionalisme yang berlandaskan dengan kemanusiaan.

“Rasa nasionalisme sering dirusak oleh golongan yang hanya mementingkan ras, dan suku”, ungkapnya.

“Kesalahan fatal bagi mereka yang menyebutkan jika hak asasi manusia bukan produk dari agama Islam karena tidak mau mengkaji dalil-dalil yang ada dan tidak mau mempelajari sejarah-sejarah negara Islam terdahulu yang memperjuangkan kemerdekaanya berdasarkan hak asasi manusia”, tambahnya.

Pada akhir pidato beliau kembali menegaskan jika rasa nasionalisme harus berdasar atau berpedoman hak asasi manusia.

“Kita harus kritis terhadap fenomena-fenomena yang ada. Sebagai generasi muda kita harus meninggalkan budaya-budaya yang tidak selaras dengan hak asasi manusia itu sendiri seperti rasa nasionalisme yang sempit dan rasa religiusitas yang sempit, selain itu Rasulullah sendiri juga membawa pesan kemanusiaan, yaitu sang pembawa rahmat”, pungkasnya.

Setelah orasi ilmiah olah Bp. Usman Hamid dilanjutkan dengan penampilan Marching Band dari SmkN 10 Semarang, Jawa Tengah dilanjutkan dengan Parade Budaya yang memperlihatkan corak budaya dari berbagai macam Organisasi Daerah (Orda) yang ada di lingkungan UIN Walisongo kemudian ada penampilan ikonik masing-masing fakultas dan menyanyikan jingle PBAK 2019 yang dilanjutkan dengan penjemputan masing-masing fakultas.

Reporter : Haidar
Penulis: Haidar
Editor: Harly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here