Semarang, Justisia.com – Ruangan Serba Guna (GSG) UIN Walisongo Semarang begitu meriah saat pertandingan ASEAN Schools Games (ASG) XI cabor volleyball putra mempertemukan Indonesia dengan Singapura.

Ultras Garuda, begitu sebuah suporter fanatik timnas bola voli Indonesia menamakan dirinya, ingin menjadi motor penyuntik semangat bagi para atlet yang bertanding, sekaligus sebagai bentuk perwujudan nasionalisme dan cinta tanah air yang mereka miliki.

Gedung berukuran dua kali lebar lapangan voli dan hanya cukup digunakan untuk satu lapangan futsal itu sesak dengan gegap gempita para penonton. Atmosfir nasionalisme menyelimuti gedung GSG kampus tiga UIN walisongo semarang. Tidak kurang dari 1000 orang memadati ruangan itu. Selain pelajar dan warga Indonesia, Ultras Garuda juga sengaja datang untuk memberikan dukungan kepada Vito dan kolega.

Ultras Garuda, yang lahir dari rahim Ultras Syariah ini merupakan suporter yang beranggotakan dari kumpulan mahasiswa Hukum UIN Walisongo yang biasanya memeriahkan di agenda Orsenik (perlombaan semacam ASG namun khusus hanya untuk mahasiswa baru UIN walisongo).

Sebagai Ultras Garuda, mereka mendukung Indonesia bukan karena imbalan atau apapun itu. Alasan mereka datang adalah berasal dari hati dan jiwa untuk mendukung timnas Indonesia.

“Inisiatif sendiri. Kita bangga dengan timnas, makanya kami dukung,” Ujar Co Founder Ultras Garuda, Hilda Yusri Abda, Sabtu (20/7/2019).

Seperti artinya, Ultras, dari Bahasa Italia adalah “di luar kebiasaan”. Kalangan Ultras Garuda tidak pernah berhenti menyanyi, mendengungkan yel-yel lagu kebangsaan di luar kebiasaan suporter-suporter secara umum lakukan. Mereka juga rela berdiri-berdesakan di sepanjang pertandingan berlangsung.

Dari tribun sebelah timur GSG, beberapa kali lagu-lagu nasional terdengar; Indonesia Pusaka, Indonesia Raya, ataupun lagu-lagu daerah, seperti Gundul-Gundul Pacul dan Sue Ora Jamu.

Kelompok Ultras yang secara genetik –karena berasal dari Ultras Syariah– berdiri tahun 2017 itu memeriahkan GSG bermodalkan alat snare bass dan snare drum.

Lagu pertama yang dinyanyikan dengan alunan suara snare bass bertempo sedang. Lengkingan suara Ultras Garuda dan penonton menyanyikan lagu Indonesia Pusaka pun terdengar menggema di dalam GSG. Seorang pemandu berdiri di depan dengan peran memberi intruksi dan memimpin Ultras Garuda. Mereka mengenakan kaos oblong berwarna hitam yang sengaja dipesan dengan tulisan Ultras dan lambang Toa menghadap ke atas.

Jatuh Bangun

Setelah timnas Indonesia unggul di set pertama dengan dengan permainan gemilang, memperoleh skor 25-23. Keadaan itu hampir dibalikkan oleh timnas Singapura. Tim Singapura memanfaatkan kesalahan yang dilakukan oleh timnas Indonesia yang sering melakukan smash dan servis keluar lapangan.

Singapura sempat unggul 24-23 atas Indonesia, melihat kondisi itu Ultras pun menyanyikan lagu, “Kami di sini slalu bersamamu, Bangga mengawal kau kebanggaanku, Tak kenal lelah dan jangan menyera, Di sini kamu slalu bersamamu, Ayolah Indonesiaku, Kami slalu ada untukmu.”

Lirik-lirik yang membakar semangat selalu Ultras nyanyikan bergantian dengan lagu nasional, Indonesia Raya dinyanyikan saat permulaan set ke dua. beberapa kali pemain Singapura melihat kearah Ultras Garuda yang menyanyikan lagu pembangkit semangat, bukan lagu-lagu cacian kepada suatu kelompok.

“Itu adalah nilai-nilai Ultras” tutur pria berkacamata, saat diwawancarai via pesan daring, Sabtu (20/7/2019)

Ultras tidak akan menyerang jika tidak diserang terlebih dahulu, dan tidak akan menolong jika tidak diperlukan. Terbukti saat pemain Singapura bermain tepat di hadapan Ultras Garuda berdiri, tidak ada lemparan botol atau flash dari kamera, laser ataupun yang sebagainya, serta alat-alat yang menggagu jalannya pertandingan.

Memberi dukungan moril terhadap pemain timnas juga bukan hal yang mudah. Banyak tantangan dan godaan. Jika tidak karena sepenuh hati dan rasa nasionalisme Ultras tidak akan mampu berdiri sepanjang permainan berlangsung, bernyanyi untuk membangkitkan semangat.

Tenggorokan yang kering karena bernyanyi juga salah satu tantangan, apalagi ketika melihat timnas ketinggalan poin membuat ultras tidak bisa bernyanyi dengan lepas, dengan diliputi rasa was-was. Maka tugas seorang leader yang berdiri di depan, layaknya seorang dirijen pemimpin ultras harus punya rasa percaya yang tinggi. Walaupun ketinggalan point dia harus yakin bahwa tim yang ia dukung mampu mengembalikan kedudukan. Hilda tidak henti-hentinya mengajak teman-teman ultras untuk tetap bernyanyi. Agar pemain mendapat dorongan mental.

“Kami mendukung bukan meneror, lagu-lagu yang kami nyanyikan bertujuan untuk menyuport dan menambah mental,” ujarnya.

Anggota Ultras Garuda, Sugeng (26), mengatakan, Ultras Garuda menjadi salah satu kunci untuk membuat atmosfir yang berbeda untuk timnas, jika untuk lawan mungkin sebagai kurungan namun bagi timnas adalah tempat bermain. Tanpa support, timnas yang ketinggalan poin, akan kehilangan kepercayaan diri.

“Ultras Garuda akan terus mengawal, dengan begitu ada semangat-semangat untuk bangkit ketika sudah down,” ujarnya.

Rasa Nasionalisme

Rofi baru tahu akan ada pertandingan ASG di GSG UIN Walisongo kurang dari satu minggu, dia tidak ada konsepan sebelumnya untuk menjadi suporter, namun setelah pertandingan antara Filipina dan Malaysia dia menyuruh tim media Ultras Untuk membuat Pamflet dukungan buat Timnas Indonesia, ia mencoba mengganti embel-embel identitas Ultras Syariah demi menghilangkan kecenderungan dukungan kepada kelompok tertentu saja, hingga akhirnya jadilah Ultras Garuda.

Burung Garuda yang menjadi lambang Indonesia menarik perhatian Rofi. Dari sana ia memilih menamai Ultras Garuda sebagai sebutan supporter yang terdiri dari beberapa mahasiwa, masyarakat, ataupun pelajar sekalipun.

Kelompok yang diinisiasi Akhmad nur Fadlullah ini akan terus menyampaikan rasa cinta tanah airnya melalui lagu-lagu yang mereka bawakan. Fadlullah berusaha, agar di pertandingan selanjutnya penampilannya dan kolega bisa lebih kompak dan terkonsep.

Bagi fadlullah menjadi supporter sama dengan berjuang untuk bangsa, Ingarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Semboyan yang dituturkan Raden Kartini ini kiranya tepat untuk menggambarkan; yang di depan adalah pemain, ia memberi contoh, dengan permaianan yang baik, yang di tengah pelatih, memberi semangat memberi arahan dan petunjuk, dan yang di belakang, suporter, memberi dorongan dari belakang. Entah dorongan mental atau semangat.

Nyanyian supporter Ultras Garuda terus menggema sampai akhir set ke-3 dengan poin 25-15 kemenangan untuk Indonesia.

Tidak terasa mentari sudah mulai condong ke barat, suasana yang tegang berubah menjadi kebahagiaan. Beribu-ribu ucapan terima kasih kepada atlet akhirnya bisa diucapkan, sebagai bentuk bangga dan bahagia.

Seperti alunan lagu yang disenandungkan oleh Ultras Garuda,“Terima kasih, terima kasih, kepada para atlit yang telah berjuang.” (Rep:Zain/Ed:A.M)

Reporter: Ahmad Zainul Fuad
Penulis: Ahmad Zainul Fuad
Editor: Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here