Orang memanggilku Mizan. Di kisah ini, aku berperan sebagai aku, aku yang kesepian, aku yang terbang mengawan, aku yang tak bisa menahan, menahan rindu dan akan terus merindukan, merindukan dia yang selalu berdiri disaat lemah, selalu tegak dan indah laksana setangkai bunga.

Namanya Tsaqila, nama yang indah, yang selalu membuat tanganku menadah, menadah berharap agar aku selalu dekat, sering terngiang mata indahnya, sangat lugu pembawaanya, dan aku ingin menundukkan kepala dengan berdekap, berdekap di bahu tegaknya.

Ingin kuceritakan kisah singkatku dengannya, dan aku selalu ingin membisikkan ke telinganya dan mengatakan “aku selalu berharap banyak padamu”.

Aku akan bernostalgia tentang kisahku dengannya melalui coretan di kertas tipis pemberian sahabatku dan sahabatnya, Ainun. Aku mengawali kisah ini dengan cerita unik dan indah. Kisah dimana aku dan dia berkenalan lewat chatting, berbagi kisah melalui telpon, menanyakan kabar melalui coretan status di media sosial. Sekali lagi, yang mengenalkan dia padaku adalah Ainun.

Aku mulai dekat dengannya ketika kita masih ada di pondok pesantren, namun dengan pondok pesantren yang berbeda, namun pesantrenku dan dia jaraknya lumayan dekat, sekitar 15 menit perjalanan sepeda motor bebek tua. Dia mengenyam pendidikan di Pondok Hasan Jufri, sedang aku berkutat dengan kitab kuning di Pondok Ats-Tsaqalain.

Hari itu adalah Idul Adha, kebanyakan pondok pesantren di sekitar Bawean liburan, dan kebetulan sekali kita sama-sama pulang ke rumah selama 3 hari. Seperti biasa, santriwan atau santriwati langsung bermain dengan gadget, langsung membuka aplikasi facebook, aplikasi paling keren dan paling melekat bagi santri ketika pulang pondok.

Aku chattingan basa-basi dengan Ainun, dari hal penting sampai hal yang tidak penting sekalipun, misalnya menanyakan sudah makan atau belum, pertanyaan yang memang nampaknya menjadi pertanyaan paling sering ada ketika tidak ada bahasan lagi saat chattingan. Sampailah pada chattingan Ainun mengenalkan seorang teman cantiknya bernama Tsaqila, seorang wanita tercantik yang pernah aku temui langsung.

Namun, ketika Ainun mengenalkan dia padaku, aku awalnya tidak tertarik, karena pada saat yang sama, aku masih punya pacar dan aku sedikit menaruh perasaan pada Ainun, tidak sama sekali kepada Tsaqila. Pacarku Sahiya, dia mengira kalau aku punya hubungan spesial dengan Ainun. Pantas saja dia mengira demikian, karena aku sering chattingan dan telponan dengan Ainun, dan Sahiya juga pegang akun facebook-ku.

Aku memang menaruh perasaan pada Ainun, dan aku tidak terlalu peduli dengan itu. Namun, akan tetap kumulai kisahku dimana Tsaqila mengechat aku saat malam hari ketika aku ada masalah dengan pacarku. Aku memang sering ada konflik dengan pacarku, namun setelah itu, konflik sering mereda dengan sendirinya.

Di saat yang sama, dimana aku dan pacarku sedang marah-marahan, Tsaqila mengechat melalui facebook “Hai Kak!” Kemudian aku balas “Siapa ya?” Dia lanjut meneruskan pesan chat “Ini benar Kak Mizan? Temannya Kak Ainun?” Aku balas saja dengan cuek “Iya”, karena aku paham, ada hati yang perasaannya aku jaga, Sahiya. Dan chat tersebut spontan berhenti di kata “Iya” itu, karena memang sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi dengan Tsaqila.

Keesokan harinya, seperti biasa, aku dengan Ainun telponan sambil bercanda, kemudian telpon Ainun tersebut dipinjamkan ke Tsaqila saat telpon masih tersambung. Kemudian aku menerima telpon Tsaqila, aku terkenal dengan guyonan-guyonan lucu, makanya kita seperti sudah kenal lama, padahal bertemu saja tidak.

Dia mulai dengan kata “Assalamualaikum”, kemudian saja aku jawab. Suaranya indah, seketika itu juga langsung menggema di pikiranku, terus ingin sering menanyakan kabar padanya, ingin selalu mendengarkan suaranya, mulai saat itu, aku juga akan selalu mengingat namanya, Tsaqila.

Penulis: Jejek
Editor: Harly

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here