Oleh: Mukhammad Ainul Yaqin

Mungkin kali ini saya agaknya terlalu ‘melo’ dalam membuat tulisan. Ini semua berawal dari teman yang beberapa waktu lalu yang bertanya kepada saya, kurang lebih begini pertanyaannya “Kok kamu jarang jalan sama si doi? Aku juga nggak pernah lihat kamu telepon dia? Kalian aneh nggak kayak pasangan yang lainnya”. Nah sekarang saya akan menjawabnya lewat tulisan sederhana ini.

Semoga bisa melegakan teman saya dan bisa jadi sepenggal pelajaran yang agaknya kurang begitu berfaedah juga sih menurut saya. Tapi saya mempersilahkan bagi kalian untuk untuk mengaplikasikannya jika menurut kalian benar.

Mungkin kita mulai dari kata ‘jatuh cinta’ terlebih dahulu sebagai prolognya. Heheh…! Jatuh cinta adalah pengalaman universal yang tidak bisa dibatasi oleh sekat-sekat ras, agama, etnis, dan ideologi. Bahkan menyangkut ormas sekalipun. Hal yang membuat pasangan saya selalu muak mendengar kata tersebut. Sampai dibuatnya antipati. Karena menurutnya semua berhak mencintai dan dicintai tanpa harus ada sekat-sekat yang menghalanginya.

Cinta dan Eksistensial

Oleh karenanya setiap orang di dunia ini pasti akan mengalami yang namanya ‘jatuh cinta’. Mungkin inilah hal yang tersulit diungkapkan dengan kata-kata, namun selalu terngiang di alam pikiran. Sebenarnya cinta sendiri merupakan sebuah proyek eksistensial yang berkelanjutan. Secara filosofis, cinta dipandang sebagai pencarian kebenaran yang terus berlanjut. Sebagi buah kehendak dan kesungguhan ikhtiar manusia, cinta juga punya hasil nyata dan konkret.

Dalam bentuk konkretnya, cinta adalah perwujudan janji bersama menjadi kenyataan. Sebuah proses langkah demi langka menghadirkan wujud nyata dari pernyataan-pernyataan yang dikandung dalam janji bersama. Pemikiran filosofis ini dikuatkan oleh hasil penelitian-penelitian empiris bahwa cinta berbeda dengan gairah atau nafsu seksual. Cinta dapat bertahan lama, abadi dan tetap intens melalui usaha pasangan untuk saling peduli, merawat dan mengembangkan hubungan satu sama lain.

Atas Nama Cinta dalam Relasi Kuasa

Hal yang selalu saya wanti-wanti saat menjalin hubungan alias pacaran adalah adanya relasi patriark maupun subordinasi. Ya meskipun ada salah satu komunitas yang lagi tren dengan slogan ‘Indonesia Tanpa Pacaran’-nya. Saya sih bodoh amat. Toh dalam prakteknya malah mereka menganjurkan berpoligami. Jadi serasa habis kentut dicium sendiri bau busuknya. Hahaha…!

Ingat, cinta itu tidak harus sarat kepemilikan, dominasi laki-laki dan harus memerdekakan perempuan sebagai individu yang otonom dan merdeka. Oleh karenanya hal pertama yang selalu saya katakan kepada diri saya sendiri dan pasangan saya adalah ‘kesadaran’. Sepele sih, tapi ini yang kadang selalu diabaikan dalam berpacaran. Maksud saya kesadaran di sini adalah suatu hal yang terkait dengan ego.

Saya selalu mengingat kata-kata dari Emma Goldman, “bila cinta mengharapkan bayaran, itu bukan cinta, melainkan sebuah transaksi”. Artinya jika kita mencintai pasangan kita hanya untuk mendapatkan sesuatu yang kita mau darinya lantas apa bedanya kita dengan seorang penjajah yang menjarah barang-barang kita. Saya selalu mengatakan kepada pasangan saya kurang lebih begini, “Indonesia saja sudah merdeka, masak iya kamu masih mau dijajah sama laki-laki termasuk aku”.

Hal itulah yang menjadikan dia merasa enjoy dan bebas bagaikan burung yang bebas mengepakkan sayapnya ketika terlepas dari sangkar. Karena menurut saya dia berhak mendapatkan setiap hak-haknya untuk bebas berekspresi. Toh kami juga punya kesibukan masing-masing. Masak iya harus kemana-mana barengan.

Saya justru merasa jijik jika itu terjadi. Persetan dengan orang yang mengatakan sinis kepada kami. Ngomongin ini jadi saya teringat dengan kata Alit Susanto salah satu anak muka terkemuka dalam dunia kreatif (vloger) yang kata-katanya selalu saya pakai jika ada orang yang menggunjing, begini “Aku tidak akan pernah peduli dengan ocehan orang yang tak pernah memberiku sesuap nasi”. Heheh…!

Kembali kepada ‘kesadaran’ tadi. Kenapa itu menurut saya penting? Karena tanpa adanya kesadaran, pertikaian menjadi tak terselesaikan, lantas akan berujung pada kekerasan verbal atau bahkan fisik. Memang, menjalin relasi dalam pasaran dengan penuh kesadaran tidaklah mudah. Jalinan kesadaran antar pasangan yang hidup dan tumbuh berarti juga menghilangkan perbudakan atas nama apapun di dalamnya.

Hal ini sejalan dengan yang Karl Marx sebut bahwa di antara keduanya tidak lagi diselimuti kesadaran-kesadaran palsu yang bisa menyebabkan terjadinya perbudakan. Mengamini perbudakan dan kekerasan dalam pasaran sama halnya kita melanggengkan sebuah kesadaran palsu. Memang kesadaran tidak datang secara tiba-tiba, melainkan hadir dari akal budi dan rasionalitas. Upaya memengaruhi cara pikir, usaha mengarahkan cara menilai, dan ikhtiar mengarahkan pada suatu tindakan tertentu, ketiga unsur tersebut lah yang merupakan upaya untuk mendominasi dalam relasi yang sedang terjalin.

Kekerasan verbal maupun non-verbal yang terjadi dalam pacaran biasanya sarat dengan adanya usaha untuk menaklukkan pasangan agar bisa tetap di bawah pengaruh kuasanya, hal demikianlah yang disebut dengan patriarki.

Bagaimana cara mendobraknya? Untuk keluar dari budaya patriarki tersebut setidaknya diperlukan cara pandang yang lebih kritis terhadap relasi yang sedang di bangun dalam hubungan tersebut. Kesadaran kritis dalam berpacaran berarti berupaya menghadirkan prinsip-prinsip egalitarian dan berkeadilan. Dan tolonglah hilangkan kata-kata ‘budak cinta’ alias bucin dari peradaban berpacaran. Oh, my God, sungguh itu guyonan yang sama sekali tak lucu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here