Thomas Djamaluddin: Hisab dan Rukyat Bukan Hal yang Terpisah

0
196

Semarang, justisia.com-Thomas Djamaluddin selaku pakar astronomi LAPAN menyatakan bahwa penentuan awal bulan Ramadhan dan awal waktu hari raya seringkali terjadi perbedaan.

Ketika terjadi perbedaan antar negara contohnya antara Arab Saudi dengan Indonesia dalam penentuan hari raya Idul Adha dapat menimbulkan masalah.

Menurutnya ketika terjadi perbedaan seperti ini, penyelesaian baik secara regional maupun global harus diupayakan.

“Perlu diketahui juga bahwa Kalender bukan kepentingan sipil saja, hari raya bukan hanya masalah ibadah, tetapi masalah ini juga terkait dengan aktivitas sosial di Indonesia,” ungkapnya.

Ia juga memaparkan bahwa penentuan awal bulan seperti Dzulhijah dulu hanya didasarkan pada rukyah. Dalam hadis Rasul dijelaskan apabila melihat hilal maka segera berpuasa dan melaksanakan hari raya apabila melihat hilal juga.

Namun dalam perkembangannya, dulu apabila hilal tidak terlihat maka dalil yang digunakan.

“Aabila tertutup oleh awan maka istikmal kan atau digenapkan menjadi syaban tiga puluh. Bila terjadi pada akhir ramadhan maka ramadhannya digenapkan menjadi tiga puluh dan hari idul fitrinya dilaksanakan pada hari berikutnya,” ujar pria yang kerap disapa pak Thomas tersebut.

Baca juga:  AJI Semarang Gelar Diskusi Media Online

Ia kemudian mengungkapkan ketika ilmu hisab berkembang yang digunakan adalah memperkirakan sehingga memperkirakan ilmu hisab dapat menjadi alasan dapat dilaksanakan hisab awal dan akhir Ramadhan.

“Hisab digunakan untuk memperkirakan rukyat. Hisab dan rukyat bukan hal yang terpisah. Cara menyatukannya adalah hisab didasarkan pada kriteria-kriteria rukyat,” tambahnya.

Ia kemudian mengatakan bahwa apabila pencarian hilal diseragamkan maka umat Islam di Asia Tenggara tidak akan berselisih.

“Pada dasarnya suatu konsep kalender didasarkan pada tiga unsur utama pertama adalah kriteria tunggal, kedua kesepakatan tanggal dan ketiga harus ada otoritas tunggal. Pembentukan kriteria yang disepakati dapat menjadi suatu masalah tetapi apabila bisa dicapai oleh otoritas tunggal maka perbedaan itu dapat diatasi,” ujarnya saat menjadi pemateri di Auditorium 2 Uin Walisongo Semarang pada Selasa (12/11/2019).

Reporter: Fira
Penulis: Fira
Editor: Harly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here