Tetaplah Tegar

0
601

oleh: Nona Senja

Pagi ini aku dengan semangat bersiap ke tempat kerja. Entah mengapa sepertinya hari ini aku begitu bangga dengan pekerjaanku. Bukankah hari ini akan sama seperti hari-hari kemarin. Aku duduk, aku berkeliling, lalu tanpa sadar aku tertidur. Aku kembali mengencangkan sabuk yang melingkar di perutku, lantas segera mengikat sepatu boothku. Tiba-tiba ketika aku berada di teras depan dan telah bersiap berangkat, ada seseorang yang memelukku dari belakang. Ia hanya memeluk kakiku saja. Sebab ia tak cukup tinggi.

“Aya, kau belum mandi anakku?”, ucapku seraya menggendongnya.

“Aya libur pah, katanya guru-guru mau ada acara,” sambung istriku yang baru keluar dari dalam rumah.

Ia terlihat membawakan sesuatu, “Jangan lupa bekalmu pah,” sembari memasukannya ke dalam tas kerjaku.

Tak lama kemudian, aku segera melaju ke tempat kerjaku dengan sepeda motor yang baru lunas bulan kemarin. Aku rawat sedemikian rupa, sebab aku sadar membelinya lagi akan membutuhkan kerja yang teramat keras lagi. Di tengah jalan aku terngiang-ngiang ucapan anakku yang masih berumur lima tahun itu. Ia meminta dibawakan ice cream ketika aku pulang. Dan dengan senang hati aku anggukan kepalaku.

Setiba di tempat kerja, teman-teman langsung menyapaku. Mereka telah siap di tempat kerjanya masing-masng. Dalam hatiku, “wah sepertinya aku terlambat.”

Aku segera merapikan kembali bajuku. Lalu segera melengkapi atribut seragam kerjaku. Namun, ada sesuatu yang membuatku panik. Salah satu atribut kerjaku sepertinya ada yang tertinggal. Aku kembali mengacak-acak tas kerjaku, mengecek kembali barangkali terselip di dalam. Namun ternyata nihil, barang tersebut tak kutemukan dalam tasku. Aku berlari ke depan gedung, menanyakan temanku apakah mereka melihatnya, atau mungkin mereka memiliki cadangannya, namun nihil pula. “Ya sudahlah, kali ini aku bekerja dengan seragam yang tak lengkap.”

Tiba-tiba, ada wanita yang melambaikan tangannya ke arahku. Ia terlihat menggendong anak kecil. Lantas ia menghampiriku.

“Pah, kamu ceroboh sekali si,” ucapnya setiba di depanku.

Ternyata wanita itu istriku, dengan Aya yang belum mandi. Aku tertawa kecil melihatnya.

Istriku merogoh tasnya, lalu mengeluarkan sesuatu. Barang berwarna biru, dan aku kenal apa yang dipegang istriku itu.

“Topiku!” dengan wajah senang aku mengatakannya.

Dengan hati-hati ia mengenakannya di kepalaku. Lalu merapikannya.

Aku melihat cermin kecil yang dibawa istriku. Tertulis “SATPAM” di topiku.

“Kau tampan sekali Suamiku, lain kali jangan ceroboh ya, nanti kau tak lagi tampan lagi.”

Tanpa sadar aku meneteskan air mataku.

“Kenapa kau kesini hanya untuk topi ini sayangku? Kau tak seharusnya seperti ini. Padahal aku tak pernah memberikan apapun yang spesial kepadamu, tapi kenapa kau tak pernah marah, kau justru perhatian sekali kepadaku. Maafkan aku sayang. Aku janji, aku akan bekerja lebih keras lagi, agar aku dapat memberikan apa yang kau mau.”

Istriku menggelengkan kepalanya, “Kau sehat dan selalu ada untukku saja aku sudah bahagia. Tak usah kau berpikir seperti ini. Semangat!”

Beberapa menit kemudian, istriku dengan anakku pamit pulang. Lalu aku dengan segera berlari menuju depan gerbang. Ya. Inilah tempat kerjaku, menjaga sebuah kampus. Mungkin banyak yang memandang pekerjaanku ini remeh, namun aku tak mempermasalahkan itu. Biarkan mereka mengatakan apapun. Bukankah tak semuanya dapat menjadi satpam. Harus melewati segala pelatihan dan itu tidaklah mudah. Menjaga keamanan. “Bukankah yang berseragam itu gagah?” Itu lah yang dikatakan istriku. Aku diam-diam tersenyum mengingatnya.

Telingaku sepertinya mendengar sesuatu yang tak biasanya kudengar. Suara keras terdengar dari arah jauh sana, dan lama kelamaan semakin terdengar mendekat. Tak lama kemudian, terlihat segerombolan manusia berjalan ke arahku, lebih tepatnya ke arah kampus yang sedang kujaga. Mereka membawa berbagai macam bendera dan tampang mereka menampakan wajah marah. Aku bingung, lalu saling berhadapan dengan teman kerjaku.

“Pasang posisi!” teriak temanku.

Dengan cepat aku berlari ke gedung utama kampus tersebut.

Inilah tugasku yang sebenarnya. Berada pada garda terdepan ketika terjadi seperti ini, agar tak tejadi kericuhan.

Terlihat tampang-tampang bengis menuju ke arahku. Aku semakin bingung, tapi harus tetap tegas menghadapi ini. Ternyata dugaanku benar, mereka menuju gedung utama kampus ini. Aku segera menajaga pintu-pintu ruangan penting agar tertutup. Serta mengamankan apa saja yang sekiranya penting dalam gedung ini. Itu sudah prosedur, dan inilah pekerjaanku. Namun mereka para mahasiswa semakin membabi buta, hingga terlihat mereka mambakar sebuah ban bekas di depan gedung. Dan bernyanyi-nyanyi serta melantangkan beberapa ucapan aksi.

Namun mereka tak puas hanya dengan melakukan itu. Tiba-tiba, dengan aba-aba mereka menggerudug badanku yang sedang menjaga pintu. Mereka memaksa masuk ruangan yang benar-benar harus dijaga.

“Sekali lagi inilah tugasku. Aku harus menjaga pintu ini sekuat tenaga. Aku harus kuat. Jangan lemah, jangan takut, walaupun kau sendiri dan di depanmu ribuan manusia melawanmu,” ucapku dalam hati ketika mereka dengan sangat buas mendorong-dorongku.

Aku meninggikan suaraku, namun aku harus menjaga pula mulutku ini agar tak menimbulkan kericuhan lagi. Tetap saja gagal, mereka tak mendengarkan suaraku sedikitpun. Ketika mereka mendorongku, aku lantas berbalik mendorong mereka agar menjauhi pintu. Sungguh, ini sangat berat apabila kalian berada di poisiku. Aku juga manusia, kawan-kawan. Aku tak dapat melawan ribuan massa sendirian. Sedangkan apabila aku mengalah dan diam, maka aku telah gagal menjalankan tugasku.

Ada yang aneh terasa di kepalaku. Seseorang dengan cara tidak sopan menyerobot mengambil topiku. Aku mencoba meraihnya, namun ia justru melemparkan ke arah lebih jauh. Dan mereka tertawa melihatku. Aku benar-benar marah dengan situasi ini. Aku tak marah ketika kalian mendorong-dorongku, namun lain dengan hal ini. Seketika aku teringat istriku yang mengantarkan topi tersebut tadi pagi.

Saat aku mencoba merebut topiku, masa dengan sangat cepat menyelundup ke pintu. Aku telah berusaha dengan sisa-sisa tenagaku. Namun tetap saja gagal. Kalian kupersilahkan masuk.

Tak berselang lama, terdengar suara sirene mobil polisi mendekat. Aku sedikit lega, akhirnya ada satpam yang menghubungi polisi. Dan itu termasuk prosedur satpam. Aku sedikit lega, akhirnya ada pihak yang membantu.

Demo mereka semakin menjadi-jadi. Segala penjuru ruang mereka masuki tanpa permisi. Aku hanya bisa terdiam. Namun tetap berjaga-jaga apabila mereka melakukan kericuhan di dalam sini. Mereka segera meluncurkan segara aksi mereka, mengumandangkan suara lantang sebab ketidakpuasan terhadap atasan mereka.

Adzan dhuhur terdengar, dan aksi demo semakin surut. Hingga akhirnya, jam menunjukan pukul 16.00 dan situasi kampus semakin kondusif dan bersih dari para mahasiswa demontrsan. Kami para satpam mengadakan rapat untuk mengantisipasi kemungkinan adanya aksi lagi. Setelah itu, kami bubar dan pergantian waktu kerja. Aku mengambil tasku dan melihat cermin di depanku sebentar. Lalu mengusap kepalaku yang tak tertutup apapun.

Aku segera berlari menggendong tasku menuju gedung tadi siang. Mataku menuju kesegala penjuru. Hingga akhirnya menangkap sebuah benda berwarna biru tergeletak lusuh di lantai teras depan gedung. Segera ku mengambilnya dan membersihkanya dengan tanganku.

“Tak apa topiku, kau sekarang menjadi lusuh, kotor bahkan tak lagi menawan. Tenang saja, istriku nanti akan mencucimu hingga bersih. Walaupun kau diinjak-injak, tetaplah tegar topiku, kau akan selalu berada di atas, di kepalaku. Walaupun secara tidak langsung kalian-kalian berarti telah menginjak kepalaku. Tetaplah tegar!”

Sesampainya di rumah aku baru teringat jika anakku satu satunya tadi pagi menitip pesan agar aku membawakan ice cream untuk dibawa pulang. Namun, ia tak marah. Justru ia menyuruhku duduk dan berpura-pura memijat kakiku. Aku dan istriku tertawa.

Tak selang beberapa menit, istriku memanggilku.

“Kenapa bekal yang ku bawakan belum kamu makan, sayang?” seketika itu pula aku sadar, bahwa aku belum makan seharian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here