Tari Sufi: Metode Terapi dan Dakwah

0
328

Semarang, justisia.com-JQH menggelar acara UIN Walisongo Mengaji di lapangan utama kampus 3 UIN Walisongo Semarang pada Rabu (16/10).

Dengan mengangkat tema yang berkearifan lokal, JQH mengundang penari sufi yang diampu oleh KH Budi Harjono untuk menampilkan tarian uniknya.

Tarian sufi ini berasal dari Turki yang dibuat oleh Sayyid Maulana Jalaluddin Rumi.

“Fisolofinya kalau topinya itu adalah batu nisan, bajunya menggambarkan kain kafan, gerakannya muter ke kiri seperti arah perputaran bumi, posisi tangan kanan mengadah sebagai simbol meminta rahmat, kasih sayang, cinta kepada Allah, sedangkan tangan kiri menghadap ke bawah yang berarti ketika sudah mendapat rahmat jangan untuk diri kita sendiri tapi disebarkan ke seluruh alam, kemudian sabuk itu kan menggambarkan daerah nafsu, jadi sabuk itu simbol untuk menahan nafsu duniawi,” ujar Yanuar, salah satu penari sufi.

Di balik tariannya yang unik, tari sufi juga dapat melepas racun dalam tubuh bahkan untuk kasus medis yang sulit.

“Bisa terapi bagi mereka yang korban narkoba atau minuman keras, malah sembuh,” ujar KH Budi Harjono yang telah mengenalkan tarian sufi sejak tahun 2009 tersebut.

Baca juga:  Impikasi Penyalahgunaan Tafsir terhadap Intoleransi

Selain digunakan untuk terapi, tarian ini juga berfungsi sebagai metode dakwah dan penerapan sunnah taqririyah yang pernah dilakukan oleh Abu Bakar.

Tarian ini menarik perhatian jama’ah yang hadir, seperti Fia dan Nabila.

“Menarik, juga kagum sih, kalau dibayangin kok lama banget muternya dan kalau tari sufi kan ada tirakatnya, ya kagum aja sih kok bisa ngelakuin itu,” ujar Nabila, mahasiswi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Walisongo Semarang.

“Kejahatan adalah kebaikan yang belum mendapatkan ruang. Nah, tari sufi ini menjadikan suatu ruang agar tercapai kebaikan,” harap KH Budi Harjono.

Reporter : Popo, Sabil, Riska, Fajri, Musyaffa
Penulis : Popo, Sabil
Editor: Harly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here