Tanggapi Penjual Depan Kampus, Kasubag RT: Agar Kesannya Bukan Kampus Cilok

0
239
Website | + posts

Semarang, justisia.com-Beberapa hari yang lalu, di depan kampus UIN Walisongo terasa ada yang aneh. Suasana depan kampus yang biasanya ramai dengan interaksi penjual jajan dan pembeli sekarang tidak terlihat di kala pagi dan siang hari. Para penjual tidak lagi berjualan di depan kampus di pagi dan siang harinya.

Namun ada beberapa penjual yang beralih tempat jualan di depan pondok Al-Ihya 2, dekat penujual tahu bulat. Tetapi ada juga yang memilih tidak berjualan pada waktu pagi dan siang.

Saat dikonfirmasi oleh Kru Justisia, para penjual hanya diperbolehkan berjualan di depan kampus setelah ashar atau sekitar jam 3 WIB.

“Bolehnya setelah Ashar, jam 3an”, jawab salah satu penjual.

Ada penjual yang mengatakan bahwa tidak diperbolehkan satpol PP, dan ada penjual yang bilang pihak kampus yang bekerja sama dengan satpol PP untuk tidak mengizinkan para penjual berjualan di depan kampus. Juga ada beberapa penjual yang tidak berani memberikan pernyataan.

“Belum bisa ngasih jawaban, takut salah faham. Pokoknya pihak dari sana bolehinnya sore”, ujar penjual yang tidak mau menyebutkan nama.

Alasan beberapa penjual yang pindah tempat ke depan pondok Al-Ihya 2, karena hanya di depan kampus (sisi kanan dan kiri) yang tidak diperbolehkan. Namun, masih banyak mahasiswa yang belum tahu kalau ada beberapa penjual yang pindah tempat di depan Pondok Al-Ihya 2.

Beberapa mahasiswa langganan jajan depan kampus pun terheran-heran. Ada yang mengira para penjual tersebut melakukan libur masal.

“Aku mikirnya mereka libur. Ya udah aku gak mikir sampai kesana, mereka dilarang atau apa lah”, jawab Elva, mahasiswa jurusan ilmu Gizi.

Kasubag Rumah Tangga UIN Walisongo memang tidak memperbolehkan para penjual tersebut berjualan di wilayah kampus dan meminta bantuan satpol PP untuk menertibkan para penjual. Namun pihak kampus tidak memiliki wewenang untuk mengatur penjual yang pindah berjualan di depan Pondok Al-Ihya 2.

Bukan hanya pagi dan siang hari, sore dan malam pun tidak diperbolehkan berjualan di depan kampus. Alasannya agar kampus terlihat bersih, aman, tertib, dan tidak menggangu lalu lintas di wilayah kampus.

Muhin, sebagai kasubag Rumah Tangga UIN Walisongo tidak mempermasalahkan para penjual berjualan, asalkan bukan di wilayah kampus.

“Ya pokoknya jangan di wilayah kampus lah, silahkan keluar 100 meter atau 200 meter. Biar kesannya bukan kampus cilok”, imbuh lelaki berumur 45 tersebut.

Banyak juga mahasiswa yang kecewa atas kejadian ini. Karena keberadaan para penjual tersebut membantu mahasiswa untuk meredakan haus dan lapar. Apalagi para pelanggan setia jajan depan kampus, seperti Mawar (nama samaran).

“Kalo siang tuh susah, jadi semisal mau naik kampus, itu kan mau beli minum dulu biar menyegarkan, tapi karena sudah tidak ada kalo siang ya kasihan mahasiswanya kalo mau beli, jadi bingung mau beli kemana,” jelas Mawar.

Namun mulai kemarin Senin (21/10/2019), para penjual tersebut kembali berjualan di depan kampus sebelum jam yang ditentukan Satpol PP.

Reporter: Ayu, Sonia
Penulis: Ayu, Sonia
Editor: Harly

Baca juga:  Dimanakah Tempat yang Aman untuk Perempuan ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here