Semarang, Justisia.com – Pendidikan di Indonesia terbilang gagal membawa masyarakat pada kemampuan berpikir kritis. Dalam kondisi memprihatinkan itu, Syamsul Ma’arif dalam acara pengukuhan guru besarnya menyampaikan, perlu melakukan penelitian mengenai sistem dan metodologi secara komprehensif untuk merumuskan kebijakan yang nantinya diterapkan.

“Percuma gonta-ganti kebijakan mengenai sistem tapi tanpa disertai penelitian, bagaikan tanaman bunga, setiap pendidikan bisa mekar dan berkembang jika sesuai dengan kondisi geografisnya, namun sebalikya, bisa layu dan tidak berdaya jika tidak sesuai. Karena itu, perlunya penelitian mengenai sistem pendidikan yang hendak diterapkan,” kata Syamsul Ma’arif dalam pidatonya berjudul Pendidikan Dalam Pusaran Neoliberalisme Dan Gerakan Ultra-Right; Restorasi Local Genius Pesantren di Audit 2 UIN Walisongo, Kamis (4/7/2019).

Syamsul Ma’arif menyinggung bahwa kebijakan pendidikan Indonesia sekedar memperkuat prioritas politis dan struktur kekuasaan semata. Sementara penelitian yang mengarah pada kebutuhan sosial dan realitas cenderung dinomorsekiankan.

“Makanya hasil penelitian meskipun sudah diterapkan tapi kurang relevan dengan kebutuhan,” ujar ayah tiga anak itu.

Pria yang juga menjabat Kepala Pusat Penelitian Dan Penerbitan UIN Walisongo menilai, negara selama ini  belum memperhatikan penelitian merupakan hal serius untuk digelorakan. Untuk menyeriusi itu, kata ia, negara perlu mendukung pendanaan dalam bidang penelitian. Sehingga Indonesia tidak kalah dengan negara lain yang punya basis akademis bereputasi internasional.

Paradigma penelitian di Indonesia menurutnya, terjebak pada persoalan yang bersifat administratif ketimbang pengembangan akademik. Tak heran hasil yang didapat kurang optimal dan tidak menjawab masalah yang dihadapi masyarakat.

“Seandainya para dosen diberikan lingkungan akademik yang mendukung untuk melakukan kerja riset, di samping tugas mengajar dan pengabdian pada masyarakat, pasti tidak akan terdengar lagi Indonesia kekurangan publikasi dan kalah dengan negara lain seperti Malaysia dan Thailand,” Ia berandai.

Sebagai jalan keluarnya jika pemerintah menganggap penelitian sesuatu sangat penting, Syamsul berpendapat pemerintah harus segera hadir, menfasilitasi, mengawal secara penuh dari proses penelitian, mengitensifkan klinik-klinik penulisan artikel Jurnal, membuat program residensi penulisan publikasi ilmiah di luar negeri, menghidupkan kembali asosiasi bagi ilmuan, dan mendesain penelitian kolaboratif dengan luar negeri.

Selanjutnya langkah yang tak kalah penting harus diperhatikan negara, kata alumnus Program Megister Pendidikan Islam IAIN Walisongo itu, pemerintah harus meningkatkan dana penelitian dan berani menggelontorkan reward bagi para dosen yang bisa tembus jurnal bereputasi internasional.

“Semua itu bisa dilakukan dengan didukung kebijakan yang tidak menjebak para dosen pada persoalan tekhnis dan administratif. Sehingga dosen bisa fokus dan konsentrasi pada pengembangan ilmu pengetahuan,” pungkas suami Laylatul Undasah. (Rep:Ink/Ed:A.M)

Reporter:Inunk
Penulis : Inunk
Editor : A.M

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here