Sekolah Teknik Menengah (STM) yang selama ini memiliki citra buruk di mata masyarakat seakan mulai pudar. Keikutsertaan pelajar STM dalam aksi menolak RKUHP di Senanyan menjadikan masyarakat bangga.

Kelompok masyarakat muda yang selama ini dianggap hanya berbuat keonaran nyatanya memiliki empati untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

Perbincangan mengenai fenomena anak STM yang ikut demonstrasi tak ayal membuat jagat dunia maya ramai akan pembahasan tersebut. Bahkan Rabu 29 September 2019 topik mengenai STM menjadi trending di Twitter. Banyak dari warganet menuliskan cuitannya yang bernada bangga dan mendokan semoga perjuangan mereka didengar oleh para elit politik.

Sejatinya apakah STM itu? STM merupakan salah satu bentuk lembaga pendidiikan di Indonesia yang sederajat dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). Orientasi yang diterapkan pada pendidikan sekolah teknik menengah adalah lulusan yang kompeten dan siap untuk bekerja. Berbeda dengan SMA yang lebih diarahkan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi setelah lulus..

Pelajar STM yang rata-rata masih berumur belasan tahun dianggap belum bisa banyak ikut andil dalam gerakan-gerakan sosial. Mengapa demikian? Sebab lagi-lagi citra negatif seperti suka membolos, tawuran antar sekolah, dan banyak lagi kenakalan remaja melekat pada diri golongan masyarakat muda ini.

Tawuran yangt kerap dilakukan oleh antar kelompok pelajar sejatinya adalah tindakan karena kebutuhan eksistensi. Ada pula dendam senior yang diwariskan kepada juniornya menjadikan antar sekolah memiliki rival abadi.

Tidak ayal ketika antara dua sekolah yang memiliki riwayat rivalitas jika bertemu di jala, maka sudah pasti akan pecah keributan. Sebut saja Budi Utomo atau dalam khazanah aliansi pelajar sering disebut dengan Boedoet adalah salah satu kelompok pelajar yang namanya mafhum setiap kali ada kejadian tawuran antar pelajar.

Padahal jika kita melihat fenomena yang ada, acap kali tawuran bukan hanya dilakukan oleh pelajar. Antar kelompok masyarakat pun kerap kali juga terjadi, bahkan institusi yang dianggap mengayomi masyarakat pun juga terkadang terjadi gesekan hingga menimbulkan penyerangan antar markas.

Penyebab terjadinya tawuran antar pelajar disebabkan oleh dua faktor, internal dan eksternal. Faktor internal yang menyebabkan seorang pelajar turut serta dalam tawuranada banyak, salah satunya adalah terbatasnya perspektif mereka. Sehingga mereka sulit untuk menunda bentuk pemuasan keinginan seketika yang muncul dalam diri.

Tak ayal benar jika banyak masayarakat beranggapan bahwa pelajar STM lebih mirip anak kecil berbadan besar ketimbang orang dewasa. Hal itu murni muncul dari diri sendiri, namun tidak serta merta adanya faktor internal langsung dapat mendorong mereka untuk melakukan tindakan tawuran.

Ada peran eksternal, salah satunya adalah peran tekanan kelompok sebaya. Jika seorang pelajar menolak untuk ikut tawuran sudah pasti konsekuensi yang akan mereka terima adalah dikucilkan dari pergaulan. Oleh sebab itu berangkat dari keterpaksaan untuk ikut tawuran kemudian menjadi sebuah kebiasaan.

Penulis memahmi kedekatan emosional antar pelajar dalam satu lingkup STM sangatlah tinggi. Kesetiakawanan yang tinggi akan menimbulkan balas dendam terhadap siswa sekolah lain yang dianggap merugikan seseorang dari kelompoknya atau mencemarkan nama baik sekolah tersebut.

Dengan adanya demonstrasi besar-besaran di berbagai kota besar di Indonesia tanpa disadari ternyata dapat menyatukan pelajar dalam sebuah aliansi. Di mana alisansi-aliansi pelajar yang ada, mendukung penuh gerakan penolakan RKUHP yang pasal-pasalnya dianggap tidak masuk akal. Sekolah yang selama ini berseteru kini dapat membaur, melebur menjadi satu untuk mendukung demonstrasi.

Ketika beberapa media menanyai pelajar yang turut berdemonstrasi memberikan keterangan bahwa tidak ada satupun dari mereka yang dimobilisasi. Keterangan ini jelas membantah golongan-golongan yang gencar memberikan statement jika demonstarasi mahasiswa dan pelajar ada kepentingan yang menungganginya.

Bahkan akun-akun buzzer istana, entah istana apa yang dimaksud, beberapa hari yang lalu menampilkan tangkapan layar percaapan whatsapp group. Dalam WA group tersebut intinya seolah mereka ingin memberitahu pada publik bahwa tindakan pelajar STM yang ikut demonstarasi dan masyarakat banggakan ternyata ada yang memobilisasi.

Nyatanya dalam tulisan yang di-publish oleh Tirto.Id dapat menelusuri kontak yang tergabung dalam WA group tersebut. Hasilnya sungguh mengejutkan, ternyata nomor telepon yang ada dalam WA group tersebut disinyalir adalah milik para polisi. Hal ini juga tidak luput jadi perbincangan warganet. Apakah benar polisi melakukan rekayasa fakta tersebut. Ataukah mereka ingin mengajak masyarakat beropini bahwa STM adalah lekat dengan keributan saja.

Singkat kata, stigma yang boleh melekat pada diri pelajar STM hanyalah citra yang buruk. Bisa jadi ini adalah sebuah bentuk kekalahan institusi kepolisian dalam menciptakan pengayoman bagi masyarakat. Mengapa demikian? Karena masyarakat juga mafhum bagaimana tindakan yang polisi tunjukan ketika meredam aksi demonstarsi beberapa waktu lalu.

Bagaimanapun, penulis yang merupakan alumni sebuah STM tidak memungkiri citra negatif yang diberikan kepada kami. Tapi yang perlu digaris bawahi STM juga manusia. ketika ada sebuah ketimpangan yang merongrong keadilan, tidak ada alasan untuk tinggal diam saja. Justru kini citra pengayom masyarakat yang melakat pada diri kepolisianlah yang perlu dipertanyakan. Atau yang baik hanya ada di reality show saja. SIAP 86.

Penulis : M. Rifqi Arifudin

Editor : Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here