Sejarah dan Mitos Benteng Portugis

Setelah sempat kosong dan beberapa kali pindah tangan, benteng Portugis terkenal cukup angker oleh masyarakat setempat. Dipercaya para arwah korban masa penjajahan Portugis sampai Jepang bergentayangan dan mendiami Benteng.

0
1158
Foto: Winda Justisia

Indonesia memiliki banyak cerita sejarah masa lalu, mulai dari masa para wali, penjajahan dari berbagai bangsa, sampai menuju kemerdekaan Indonesia. Salah satu negara yang menjajah Indonesia adalah Portugis. Bangsa Portugis lebih dulu mendiami Indonesia dari pada bangsa Belanda. Tujuan bangsa Portugis memilih negara Indonesia sebagai negara jajahan adalah karena negara Indonesia kaya akan rempah-rempah.

Bangsa Portugis membeli dengan harga murah dari Indonesia kemudian dijual kembali ke negara mereka dengan harga tinggi. Namun kedatangan bangsa Belanda menjadi salah satu ancaman tujuan bangsa Portugis untuk menguasai Indonesia. Bangsa Belanda mulai ikut menjajah daerah-daerah di Indonesia, tidak lain karena kekayaan berupa rempah-rempah yang tumbuh subur di tanah Nusantara.

Tempat-tempat bersejarah seperti bangunan, rumah, benteng, dan lain-lain menjadi bukti bahwa bangsa asing pernah mendiaminya untuk menjajah bumi Nusantara pada masa itu. Salah satu bangunan bersejarah yang ada di tanah Jawa adalah Benteng Portugis. Bangunan yang kini menjadi objek wisata ini terletak di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, sebelah Timur Laut Kota Jepara. Bertempat di atas bukit di bibir pantai dan mengarah langsung pada pulau Mandalika.

Di dalam benteng hanya menyisakan puing-puing bangunan yang sudah menua di makan usia. Beberapa yang hampir rusak diperbarui kembali demi menjaga keaslian bentuk salah satu cagar budaya tersebut. Di bawah ini akan membahas mengenai sejarah awal Benteng Portugis.

Baca juga:  Pengumuman Peserta Pelatihan Jurnalistik Dasar LPM Justisia 2018

Sejarah
Pada tahun 1619, Bangsa Belanda (VOC) memasuki Sunda Kelapa. VOC mulai menjajah di Batavia yang awal mula bernama Sunda Kelapa. Hal itu membuat khawatir Sultan Agung Prabu Hanyoko Kusumo yang saat itu memimpin kerajaan Mataram. Pasalnya, saat itu Batavia sudah jatuh pada tangan Bangsa Belanda.

Sultan Agung Hanyoko Kusumo pun membentuk peperangan untuk mengusir VOC. Namun, angkatan perang yang dibentuk oleh Sultan Agung Prabu Hanyoko Kusumo kurang meyakinkan untuk mengusir penjajahan Belanda. Akhirnya, pada tahun 1628 sampai 1629 masa peperangan melawan Bangsa Belanda, pihak Mataram mengalami kekalahan.

Sultan Agung Prabu Hanyoko Kusumo tidak menyerah begitu saja. Pemimpin Mataram tersebut akhirnya berpikir kembali bahwa VOC hanya bisa dikalahkan jika mendapat serangan dari laut dan udara secara bersama. Namun, pada masa itu pihak Mataram tidak memiliki perlengkapan serangan laut yang memadai. Maka dari itu, Sultan Agung memiliki strategi untuk meminta bantuan pada pihak yang juga berseteru dengan VOC yaitu Bangsa Portugis.

Benteng Portugis pertama kali dibangun pada tahun 1632 oleh pemerintahan Mataram Islam yang dipimpin oleh Sultan Agung Prabu Hanyoko Kusumo berdasarkan awalan kesepakatan kerjasama antara Mataram dengan Bangsa Portugis untuk menjatuhkan VOC. Benteng ini dibangun di tempat strategis sebelah Timur Laut kota Jepara, bertepatan di atas bukit dekat bibir laut yang mengarah langsung pada pulau Mandalika.

Baca juga:  Perizinan Santri Ma'had Walisongo Harus Melewati Prosedur yang Jelas

Tujuan dibangunnya Benteng ini untuk keperluan militer dan memantau kapal-kapal dagang VOC agar tidak merapat di laut Timur Jepara. Selain difungsikan sebagai tempat tinggal para tentara Portugis, benteng juga digunakan untuk melatih tentara dalam hal kemiliteran.

Pada tahun 1642 pusat Portugis di Malaka akhirnya dikuasai oleh VOC Belanda. Hal itu menyebabkan bangsa Portugis meninggalkan benteng untuk membantu perang dengan VOC di Malaka. Namun, kemenangan memihak pada VOC Belanda. Akhirnya benteng yang pernah didiami oleh bangsa Portugis itu diambil alih oleh pihak VOC dan difungsikan kembali oleh bangsa Belanda untuk hal kemiliteran. Namun, hanya selang beberapa tahun saja, Benteng tersebut dikosongkan.

Saat masa penjajahan Jepang memasuki Indonesia dan mulai menguasai beberapa wilayah Jawa Tengah, termasuk Jepara, benteng tersebut pun difungsikan kembali oleh bangsa Jepang. Benteng ini digunakan oleh Jepang sebagai tempat pengintaian keadaan laut. Benteng dibuat lebih besar dan dibangun tembok-tembok pengintai disertai meriam-meriam.

Bangsa Jepang mendiami Benteng sampai mengalami kekalahan pada perang dunia ke II. Akhirnya, Benteng ditinggalkan begitu saja. Setelah kemerdekaan Indonesia. Pemerintah daerah kota Jepara menetapkan Benteng sebagai tempat wisata bersejarah yang dinamai dengan ”Benteng Portugi”.

Baca juga:  Penambang Data Pengaruhi Pengguna Media Maya

Mitos Pusaran Air
Setelah sempat kosong dan beberapa kali pindah tangan, benteng Portugis terkenal cukup angker oleh masyarakat setempat. Dipercaya para arwah korban masa penjajahan Portugis sampai Jepang bergentayangan dan mendiami Benteng. Hal tersebut membuat kesan singup sangat kentara ketika melewati rute menuju puncak bukit tempat bangunan berada.

Tak hanya itu, mitos adanya pusaran air yang terletak di dekat pulau Mandalika juga cukup terkenal di masyarakat daerah. Menurut warga setempat, pusaran air tersebut adalah pintu gerbang menuju Keraton Luweng Siluman yang dikuasai oleh Siluman Bajul Putih.

Konon, jika terlihat seseorang berkulit putih yang menyerupai bangsa Portugis melintas di perairan tempat pusaran air berada, maka secara otomatis akan terseret dalam pusaran air dan menghilang begitu saja. Siluman Bajul Putih pernah bersumpah jika ada orang yang berkulit putih menyerupai bangsa Portugis, maka akan diseret kedalam pusaran air Gerbang Keraton Luweng Siluma. (Rep:Winda/Ed: Sst)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here