Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu Mak Sinah, hari kebahagiaan Mak Sinah karena putera sematawayangnya Baskuni pulang dari Mekah. Bagi Mak Sinah tidak ada Kebahagiaan yang bisa terkalahkan kecuali bertemu dengan anaknya sendiri. Baskuni adalah anak dari pasangan Mak Sinah dan Almarhum Kang Kasno. Kang Kasno meninggalkan Baskuni dan Mak Sinah karena kecelakaan. 

***

Cerita dari istrinya, Kasno meninggal karena lambungnya kumat di tengah perjalanan ketika hendak ke sekolah Baskuni guna melunasi administrasi anaknya. Kang Kasno izin pamit kepada istrinya. Baru 100 meter, terlihat Kang Kasno sudah jatuh tergeletak di tengah jalanan. Waktu pamit perasaan Mak Sinah tidak nyaman, dan sekejap, perasaan Mak Sinah terjawab dengan kematian Kang Kasno.

Semenjak kejadian itu, mau tidak mau Baskuni jika ingin sekolahnya tercapai ia harus bekerja sampingan. setiap setelah subuh, Baskuni harus pergi mengantarkan ibunya bekerja di pabrik setelah itu mangkal ojek di pangkalan seberang pasar. Baskuni harus mangkal sampai pukul 06.40 pagi dan ia harus ke pangkalan lagi ketika sekolah sudah usai. Pekerjaan sampingan ini ia pilih karena pembagian waktu yang tepat untuk sekolah dan mencukupi kehidupan sehari-hari.

Sudah satu tahun lamanya, Baskuni menekuni ojek sampingannya. Kini upah hasil keringatnya mampu mengantarkan ia lulus dari bangku SMA. Dengan kesabaran dan keteguhan dalam mencari ilmu Baskuni mampu mendapatkan nilai Ujian Nasional terbaik. Ia juga diberi hadiah oleh sekolah berupa Beasiswa S1 di Mekah secara gratis.

Mak Sinah senang sekali melihat anaknya sukses mendapatkan apa yang ia cita-citakan. Tetapi di balik kegembiraan Mak Sinah ada satu yang mengganjal. “Mak.. Baskuni minta restu ya mak, Baskuni ingin menjadi mubaligh terkenal, ini jalan untuk mencapai cita-citaku Mak.” Izin Baskuni sambil melihatkan map beasiswa pada Mak Sinah. “Iya Bas.. Mak izinkan” sambil melipat pakaian di atas ranjang. “Tapi Emak nanti di rumah sama siapa?”. “Sudah ndak apa-apa, Emak nanti sendiri nggak papa kok, yang penting anak Emak pintar, nanti Emak ikut senang kok”. Isak haru yang ditahan Mak Sinah membuat hatinya tak kuasa ditinggalkan anaknya, Emak Sinah mengelus-elus kepala Baskuni dan ia peluk dengan keharuan tiada tara.

Mak Sinah yang kini umurnya sudah 58 tahun harus hidup sendirian tanpa satu orangpun yang menemani. Ia ditinggalkan anak semata wayangnya pergi jauh dari kampung halaman. Sebenarnya Mak Sinah ingin melarang Baskuni untuk pergi ke Mekah. Karena Mak Sinah butuh seseorang untuk menemani hidupnya. Tapi, bagaimanapun namanya orang tua tidak tega melarang anaknya untuk menempuh masa depan dalam meraih mimpinya.

***

“Assalamualaikum.. Emak Maak, Ibas pulang mak” terdengar dari dalam rumah Emak Sinah yang sedang mempersiapkan hidangan opor ayam bergegas keluar menemui anaknya. Mak Sinah sambil membuka pintu “Wa’alaikumsalam.. ya Alloh, ini Ibas,” sambil menangis menahan haru, Mak Sinah mendapati seorang pemuda berjenggot dan memakai celana cingkrang dipeluknya erat, mencium kedua belah pipi, dan dipeluknya lagi.

“Alhamdulillah kamu baik-baik kan di sana nak?”. “Alhamdulillah Mak, Ibas malah sudah lulus”. Dilepasnya dari pelukan lantas bertatap mata antara Mak Sinah dan Baskuni. “Yasudah, ayo masuk.. sudah tak siapin opor ayam, pasti di sana nggak ada kan, ayoo..”. “Wah, alhamdulillah mak”.

Kerinduan dan kebahagiaan sang ibu bersama anaknya telah terobati, selama empat tahun setengah berpisah. Bukan hanya Mak Sinah saja yang senang melihat Baskuni pulang ke tanah air, tetangga dan sanak famili pun juga ikut merasakan kesenangan atas kepulangan Baskuni. Masyarakat memang sudah menunggu kepulangan Baskuni, karena Baskuni lah yang ia anggap bakal membimbing mereka dan kampungnya.

***

Matahari sudah tenggelam, hanya sisa sinar oranye yang masih bisa dirasakan alam seisinya. Burung-burung mulai menghentikan kicauannya. Lantas mereka berlalu-lalang mencari ranting pohon sembari istirahat dibawah dedaunan.

Baskuni yang sudah sampai di rumahnya beberapa jam yang lalu sudah bersiap-siap untuk pergi ke masjid bersama Mak Sinah, “Bas.. ini dipakai, Emak kemarin habis dari pasar belikan kamu sarung.. ayo dipakai”. “Mak tau nggak.. di Syiria itu nggak ada orang yang sholat makai sarung.. sudah, Ibas make celana saja mak” sahut Baskuni dengan wajah merengut. Ucapan Baskuni tadi membuat Wajah Mak Sinah seketika berubah, seyumannya luntur berganti kebingungan dan penasaran. Ibas yang dulu bangga dengan sarung, sekarang benci dengan sarung.

Akhirnya, mereka berdua pergi ke masjid. Memang agak jauh jarak masjid dengan rumah mereka, mereka ke masjid menggunakan motor Supra X tahun 2001 yang pernah digunakan Baskuni sebagai ojek. Selama perjalanan Mak Sinah hanya diam tidak bicara sedikitpun. Mak Sinah masih bingung apa yang terjadi dengan anaknya Baskuni.

Sesampainya di masjid, Baskuni bertanya kepada emaknya yang baru turun dari motor. “Loh mak, masjid ini direnovasi kapan?”. “Sudah lama Bas, sudah satu tahun yang lalu,” jawabnya. “Sudah ayo masuk sambil nunggu Iqomah”. Mak Sinah pergi ke dalam masjid meninggalkan Baskuni yang sedang melamun di atas motor. “Innalillahi, kiamat semakin dekat”.

Iqomah telah dikumandangkan, para jamaah yang menunggu sudah berbaris rapi membentuk shof-shof sholat. Giliran imam sholat maghrib pada hari itu adalah Kiai Rasad. Masyarakat desa sangat menghormati Kiai Rasad, bukan hanya umur yang dihormati masyarakat, namun juga keilmuannya yang tinggi dan humanis. 

Ketika Kiai Rasad mengingatkan jamaah untuk merapikan shof yang kurang sempurna, tiba-tiba Baskuni datang dan berdiri di pintu masuk. “Berhenti!” para jamaah menoleh ke sumber suara di belakang. “Ternyata zaman akan berakhir, tanda-tanda kemunculan dajjal sudah terlihat! Semua yang sholat di sini tidak sah! Antum semua bodoh! Termasuk ente pak kiai.”

Ucapan yang dilontarkan Baskuni membuat jamaah seketika marah, “Wooy bocah, sok ngerti lu, emang kenapa sholat kami batal.” Salah satu dari merka juga ada yang menyahut, “Jangan ngada-ngada lu, mending lu keluar aja deh, atau kita usir”. Begitu kata jamaah yang merasa terganggu “Dasar bodoh, begini nih kalau orang nggak pernah ngaji di luar, dungu otaknya. Kalau nggak percaya pak kiai tolong kesini”.

Dengan ejekan dan remehan dari mulut Baskuni, membuat mak Sinah seperti dilempar di sungai anaknya sendiri kemudian ia ludahi. Malu amat malu. Demi menahan malunya, Mak Sinah mengahampiri Baskuni sambil megusap air mata dan “PLAAAAK” tempolan keras untuk Baskuni karena mempermalukan emaknya sendiri. warga segera memisah dan membawa Mak Sinah ke rumah sebelah masjid untuk diistirahatkan.

Di tengah keramaian, Kiai Rasad tiba-tiba muncul didepan Baskuni, “Ada apa wong pinter? kalau ada masalah bukannya kita bicarakan dengan baik-baik?” tanya Kiai Rasad sambil merapikan rida’nya yang hampir jatuh dari bahu. “Kiai, ente itu sebagai kiai seharusnya meluruskan jika ada yang salah, bukan malah mendukung jika ada salah. Coba lihat, mihrab masjid ini berbentuk segitiga, persis dengan lambang Dajjal, berarti sama halnya antum menyembah lambang Dajjal bukan Allah. Solusinya antum harus membubarkan masjid ini, karena sudah musyrik terhadap Allah. Paham!”.

Melihat tanggapan Baskuni, Kiai Rasad malah tertawa, “Owalah itu, saya ndak mau panjang lebar menerangkan tentang Dajjal, apalagi tentang segitiga. Buang-buang waktu”. “Lihat! Lihat! Begini kiai yang antum hormati, antum jangan bodoh! Kalau kiai ya harus jawab pertanyaan ane!” Kiai Rasad malah senyum. “Baiklah kalau itu kemauanmu. Sekarang saya mau tanya kepadamu cah pinter, bordiran segitiga yang ada di bajumu itu apa? Segitiga bukan? Nah, berarti kamu itu Dajjalnya karena bajumu ada segitiganya. Sekolah jauh-jauh ke Mekah kok otaknya kosong,” jawab Kiai Rasad dengan santai. “Gimana.. ada yang perlu saya jawab lagi? Dajjalnya kamu apa tembok mihrab?” Baskuni hanya diam tidak bisa berkata sedikitpun. Ia menahan malu atas perbuatannya. Ia hanya merunduk sambil mengelus-elus bordir segitiga yang ada di baju kokonya.

“Jamaah sekalian, jangan kaget dengan orang seperti ini, ambil saja hikmahnya, yaitu kita harus berhati-hati jika ada fatwa seperti ini, karena orang yang berfatwa seperti ini tidak mengenal betul sejarah dan kebudayaan yang ada di negara Indonesia, sudah mari kita tunaikan sholat dan doakan saja semoga orang seperti ini segera diberi hidayah Allah SWT”. “Amiiin”.

Penulis: Sadad Aldiyansyah
Editor: A.M.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here