Sebilah Belati yang Mengantarkanmu

0
113
Gambar: Kompasiana.com

Oleh: Arifan

Sebenarnya sudah lama Aku ingin keluar dari kantor tempatku bekerja. Aku sudah tidak betah dengan perlakuan bosku. Ya, bosku, Pak Bram, sering memperlakukanku dengan tidak sopan. Aku juga sebenarnya sudah jijik melihat kelakuan bos yang begitu. Namun apalah daya, aku butuh uang untuk membiayai kuliah S2 ku.

Hampir setiap bekerja, bos selalu memandangiku. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dan tak jarang bos mengatakan sesuatu yang membuat aku tidak nyaman. Seperti, “Kamu lebih seksi kalau pakai baju ini, May.” Atau, “Badan kamu memang bagus, May. Andai saya masih muda, saya pasti jatuh cinta padamu. Sudah badannya bagus, cantik pula.”

Pak Bram sudah menginjak usia enam puluhan tahun. Sebagai seorang bos, apapun bisa dia dapatkan dengan harta yang dia miliki. Minum, melacur, berjudi, berlibur ke luar negeri, membeli rumah mewah, membeli mobil mewah dan wah wah yang lainnya.

Bapak lima anak ini semakin saja menambah ketakutanku bekerja bersamanya, yaitu ketika dia mulai memintaku untuk melayani nafsu bejatnya. Tapi selama ini aku masih bisa menolaknya dengan caraku sendiri.

Akhir-akhir ini pak Bram juga sering colak-colek padaku. Aku sudah menanggapinya dengan marah, tapi ia tak menghiraukan itu. Malah semakin menggodaku dengan begitu menjijikkan dan membuatku sangat kesal. Apalagi sebagai asisten pribadi yang setiap hari bekerja dengannya. Dan setiap hari pula ia memperlakukanku dengan hal yang sama.

Tapi aku masih tetap menahan amarahku. Sempat juga aku ingin melapor, tapi aku takut. Aku seorang karyawan, sedangkan bosku adalah seorang yang beruang tujuh gudang. Bisa saja ketika aku melapor, dia membalikkan fakta dengan mengendalikan pihak-pihak terkait. Sudah kubilang, dia bisa mewujudkan apa yang dia mau dengan uang yang ia miliki. Tapi tidak dengan kesucianku, ia tidak bisa merenggutnya.

***

Hari itu aku mendapatkan tugas untuk mendampingi bos ke luar kota. Berhubung sampai di kota itu sudah malam, kami menginap di sebuah hotel berbintang. Tentunya bosku yang membayarkan dan memesan tidak hanya satu kamar. Aku sendiri dan pak Bram juga sendiri.

Tengah malam, suasana begitu hening. Kamar hotel itu begitu nyaman dan membuatku terlelap. Belum sempat aku memejamkan mata, bel kamar berbunyi. Aku mengira itu adalah pelayan hotel. Aku berjalan ke pintu, ku buka pintu itu. tiba-tiba seseorang menyergapku dan menutup mulutku sembari berkata, “Awas kalau kamu buka mulut soal ini. Malam ini kamu tidak bisa mengelak lagi, Maya!”

Bajingan! Tua bangka itu mendekapku erat-erat, sesekali menampar dan memukulku. Aku menangis sejadi-jadinya, berteriak sekencang-kencangnya. Namun binatang itu tidak menghiraukan teriakanku yang mengusirnya. Ia begitu buas. Menjilat, menerkam, mencabik-cabik pakaianku. Gelap. Gelap yang aku dapati selama binatang itu menikmati santapannya. Hingga kembali terlihat terang, dan kudapati tak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuhku.

Aku segera berlari ke kamar mandi, meratapi nasib yang bukan hanya malang ini. Kesucianku telah ditelan binatang buas tua yang kelaparan. Dan tak ada lagi kesucian itu.

Saat itu aku berpikir dalam-dalam. Di mana Tuhan kala itu? kenapa Ia biarkan hal itu terjadi? Katanya Ia bersama orang-orang yang sabar, lalu kurang sabar apa aku menghadapi kebusukan-kebusukan seorang Bramono itu? ah, sudahlah, yang terjadi biarlah terjadi. Aku sudah tak suci lagi. Lelaki. Ya, seorang lelaki tua bangka yang telah merenggutnya. Dasar, bajingan tengik!

Akan aku balas kesakitanku ini, saksikan saja nanti! Binatang-binatang itu akan kusembelih satu per satu. Aku jinakkan, aku beri makan, aku beri kenikmatan, aku beri kehidupan, lalu aku beri kematian!

***

Dua bulan yang lalu, setelah aku mendapatkan gaji dari pekerjaanku, aku melarikan diri dari kandang wedus itu. Lari sejauh-jauhnya, tapi masih tetap di kota yang sama. Yang penting sudah tidak lagi bersama laki-laki tua bangka itu. Dari kecamatan W, aku pergi ke kecamatan Z. Kecamatan Z yang terkenal dengan lokalisasi prostitusinya. Ya, di sana aku akan melacur. Aku akan melacur seperti wanita-wanita lain yang menjalani pekerjaannya dengan sepenuh hati. Seperti wanita-wanita karir yang nantinya jadi pensiunan yang tetap punya uang. Aku pun tak mau kalah, nantinya aku akan menjadi muncikari biar tetap dapat uang juga.

Sudah sebulan setengah aku melacur, namun laki-laki yang aku tunggu tidak segera datang. Aku mencari kabarnya, dan memang banyak yang mengatakan orang yang aku cari itu sering ke tempat ini.

Setelah kupikir-pikir, kenapa aku harus bersusah payah mencarinya? Padahal tinggal bilang saja pada atasanku biar aku ditawarkannya pada laki-laki itu.

Lalu aku menghubungi atasanku itu, Mami Mona namanya. Seorang muncikari yang handal, pandai bernegosiasi, dan punya jaringan luas tentunya. Tak hanya laki-laki hidung belang yang menghabiskan uang gajinya buat tidur di sini saja, tapi juga orang-orang pemerintahan yang suka jajan, dan tentunya bos-bos besar di kota ini dan di luar kota.

Hebat sekali Mami Mona itu, aku akan belajar pada dia, biar nanti aku menjadi muncikari yang banyak uang seperti dia. Tak perlulah aku selesaikan S2 ku, toh di sini ada Mami Mona yang bisa kujadikan dosen dalam mata kuliah “Kemuncikarian”. Apalagi biaya pendidikan mahal. Mending di sini, sudah dapat uang, juga dapat pendidikan dari dosen yang sangat mumpuni dalam bidangnya.

Aku meminta kepada Mami Mona agar menawarkanku pada laki-laki yang kunanti-nanti itu. Dan setelah bernegosiasi beberapa menit, Mami Mona mengacc permintaanku itu. Aku senang bukan main, kepuasan yang paling memuaskan dari kepuasan-kepuasan yang lain akan segera aku dapatkan.

O iya, aku juga memberitahukan pada Mami agar aku tidak bermain dengan laki-laki itu di lokalisasi ini,

“Mami kan tahu dia itu bos besar, jadi janganlah suruh main di sini. Sumpek. Aku punya tempat bagus, Mam.” Kataku ambil tersenyum pada Mami Mona.

“Di mana, Maya?”

“Di hotel Q. Hotel ini berada di kota P, kota tetangga, Mam.”

“Mengapa harus jauh-jauh ke sana?”

“Ah, Mami ini, kan aku juga ingin pergi ke luar kota. Apalagi kota P ini ada tempat wisata yang terkenal. Sehabis main, aku akan merayunya pergi jalan-jalan di sana. Belanja, ke tempat wisata, dan masih banyak lagi yang kuingin darinya. Dia kan kaya, Mam, sekalian saja aku minta yang banyak. He-he.”

“Ha-ha-ha, dasar kamu ini. Maya maya. Ya sudah, nanti Mami kabari kalau dia sudah menanggapi.”

***

Tibalah waktunya, lelaki yang aku harap-harapkan itu akan segera kutemui. Sore itu, aku berangkat sendiri dari kota B ke kota P. Memang sengaja aku datang sendiri, biar laki-laki itu yang menyambangiku ke hotel Q.

Sesuai permintaanku, Mami Mona sudah memesankan kamar hotel dengan nomor 023.

Sesampainya di hotel, aku langsung menuju resepsionis dan meminta kunci kamar hotel atas nama Mami Mona. Sesudah kudapatkan kunci itu, aku segera pergi ke kamar 023. Sebelum masuk, aku merasa begitu sedih, ingatanku pada masa hilangnya kesucianku kembali muncul. Namun aku harus tetap profesional menjalankan profesiku. Aku masuk, kulihat jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam. Masih ada waktu untuk istirahat dan menyiapkan tenagaku untuk nanti malam.

Setelah kurang lebih tiga jam aku beristirahat, aku bangun dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kembali di kamar mandi itu aku teringat, seorang wanita yang mengisak penuh luka. Luka luar, luka dalam, luka semuanya. Tapi kembali ada yang menampik kesedihanku itu. Aku tak boleh diam, harus kuselesaikan kesedihanku malam ini. Ya, harus, Maya!

Selesai mandi, aku kembali tiduran di kamar. Sambil menunggu laki-laki itu datang, aku menyalakan televisi. Belum lama aku menyalakan tv, gawaiku berdering, dan ternyata ada telepon dari sang lelaki. Hanya mengabari bahwa dia sudah di depan pintu kamar hotel itu. Dan aku langsung menyuruhnya masuk, karena pintu tidak kukunci.

Selang beberapa detik, pintu itu terbuka, kusambut lelaki itu dengan semringah.

“Hay, Bramono sayang.” Kataku menyambutnya. Bramono kebingungan, seperti tak percaya bahwa wanita yang ada didepannya ini adalah wanita yang telah direnggut hartanya yang paling berharga oleh Bram.

“Maya?”

“Ya, aku Maya. Masih ingat dengan kamar hotel ini bukan?” tanyaku pada Bram, dan langsung melanjutkan, “Mari sini, malam ini aku milikmu, tak perlu kamu paksa-paksa aku lagi. Mari sini, Bramono sayang!”

Dengan peringisan laki-laki tua itu mendekatiku. Seperti tak sabar ingin menikmati santap malamnya karena kelaparan yang teramat sangat. Begitu beringasnya Bramono menggerayangiku. Kulihat, isi kepala Bram semakin lama semakin gelap. Dilupakannya istrinya, anak-anaknya, dan cucu-cucunya. Dalam batinku berkata padanya, “Ucapkan selamat tinggal pada keluargamu yang sangat-sagat membanggakanmu itu, bangsat!”

Lalu terdengar teriakan kesakitan yang teramat dari Bramono. Sebilah belati kutusukkan pada lambungnya. Mati kamu!

Bramono masih terguling-guling kesakitan di atas kasur. Lalu aku bangun dari tidurku, kutusukkan belati itu pada lehernya, ku gorok leher itu dengan semangat yang menggebu. Mati kamu!, mati kamu!, mati kamu!