justisia.com Gegap gempita berbagai kegiatan yang dilakukan demi memeriahkan perayaan hari santri telah berlalu beberapa hari silam, mulai dari upacara, pawai, istighotsah, syukuran dan lain sebagainya digelar sebagai upaya mengingat memoar sejarah hari santri yang bermula dari seruan resolusi jihad oleh HadrotusSyaikh Hasyim Asy’ari.

Ruh resolusi jihad 71 tahun silam sebagai tonggak perlawanan terhadap penjajah menjadi titik tekan untuk menggelorakan kembali semangat juang dengan mengkontekstualisasikannya dalam era ini, bukan malah terjebak pada acara peringatan seremonial belaka tapi nir-refleksi, semoga saja tidak begitu!. Nah, langsung saja, dalam momen hari santri kali ini juga kurang patut kiranya, jika tak sekalian membicarakan pasangan mereka (santri), yaitu Santriwati.

Meski kata santri juga sudah mencakup santriwati. Umumnya yang sering kali dibicarakan hanya kaum laki-laki (santri), maka kami di sini akan sedikit mengulas sosok-sosok tokoh perempuan (santriwati).

Asmah Sjacjrunie, seorang wanita yang dikenal sebagai sosok “wanita baja” karena sifat tegas dan kerasnya, dilahirkan dari pasangan Bahujar dan Imur pada 28 Februari 1927 dan merupakan anak pertama dari 9 bersaudara. Latar pendidikan Asmah sangat kental sekali dengan Islam aliran Nahdlatul Ulama’, pernah mengenyam pendidikan sekolah rakyat (SR).

Menikah dengan Sjahrunie yang merupakan seorang guru pada umur 16 tahun, sedangkan Sjahrunie berumur 19 tahun. Setelah menikah berjuang sebagai seorang guru, akibat kekalahan Jepang menjadikan situasi tak menentu, peran Asmah sebagai guru kemudian dipakai menjadi penghubung antara pasukan pedalaman dan pasukan kota, dan penghubung makanan untuk orang yang peduli dengan perjuangan. Konsekuensi dari hal tersebut menjadikan status guru pegawai negrinya dicopot dengan tidak hormat. Asmah dipercaya untuk memimpin Muslimat NU Kalsel sejak tahun 1952, dan pada tahun 1954 ketika Muktamar NU di Surabaya Asmah memutuskan melepas karir mengajarnya karena kiprahnya terhadap Muslimat NU amat mendalam.

Pada tahun 1956 Asmah sempat menjadi anggota DPR sehingga tempat tinggalnya pindah ke Jakarta, sebab peristiwa G30S/PKI situasi politik makin kacau dan diadakanlah sidang istimewa pada tanggal 7 sampai 11 Maret, Asmah mewakili Muslimat NU sebagai pembicara. Pada tahun 1979 Asmah terpilih menjadi ketua Muslimat NU setelah melalui beberapa perdebatan. Jatuh bangun berjuang bersama Muslimat NU sampai berakhir masa jabatnnya saat kongres Muslimat NU di Jakarta tahun 1995. Meninggal 2 Juni 2014. (Sumber Tebuireng Online).

Mahmudah Mawardi, wanita kelahiran Solo 12 Februari 1912 – meninggal di Solo 18 November 1987. Mahmudah merupakan anak pertama dari lima bersaudari. Kelima Putri ini dilahirkan dari rahim istri pertama kyaiMasjhud. Mahmudah mengawali kiprah perjuangannya dengan menjadi guru di tempat belajarnya dahulu, Sunniyah, sejak tahun 1930.

Bakatnya sebagai seorang pemimpin sudah terlihat sejak ia ikut membidani berdirinya NDM, di Muslimat NU seperti rilis nu.or.id. Ketika diselenggarakan Muktamar NU ke-XVIII di Jakarta pada tahun 1950, Mahmudah terpilih sebagai ketua umum Muslimat NU dan sejak saat itu, ia memimpin hingga 8 periode (1950-1979). Selain berjuang di Muslimat, Mahmudah juga dipercaya di berbagai jabatan amanah. Dalam ranah politik, sampai-sampai ia dijuluki sebagai “politisi wanita besi brilian dari NU”. Karir politiknya berawal dari menjadi anggota DPRD kota besar Surakarta. Tahun 1952 duduk sebagai anggota Liga Muslimin Indonesia dari NU.

Berlanjut pada masa pemerintahan RIS, ia menjabat sebagai anggota DPR RIS di Jogjakarta (1959),kemudian sebagai anggota DPR RI (1956-1971), anggota DPR/MPR RI mewakili NU dan PPP (1971-1977) dan anggota MPR RI dari PPP (1977-1982). Pada perhelatan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) pada tahun 1965 dan 1970 dipercayai sebagai salah satu delagasi dari Indonesia.

Djuaesih, perempuan kelahiran Juni 1901 ini tercatat memiliki keberanian yang sangat besar dan rasa percaya diri yang tinggi dengan ukurannya sebagai seorang perempuan. Lahir dari keluarga sederhana tak membuat R Djuaesih minder.

 Sejarah mengatakan bahwa dialah permpuan NU yang menyuarakan hak-hak kaumnyasaat Muktamar ke-13 NU di Menes, tahun 1938 dengan lantang, dia berapi-api menyuarakan suara hatinya terkait kesetaraan perempuan NU dan dia juga yang menyadarkan bahwa peran perempuan Nahdliyin juga memiliki tanggung jawab yang sama dengan kaum laki-laki NU.

 Cuplikan pidatonya di Menes rilisan nu.or.id “di dalam Islam bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik mengenai pengetahuan agama dan pengetahuan lain. Kaum wanita pun wajib mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak tuntutan agama. Karena itu, kami wanita yang tergabung dalam NU mesti bangkit”. Tak ayal pidatonya ini membuat banyak orang terpesona. Isi pidato tersebut menjadi rintisan pandangan dan cikal bakal lahirnya Muslimat NU. Meski menjadi perintis Muslimat NU, nyai Djuaesih tak begitu menonjol sebagai organisatir dalam kepengurusan Muslimat, dia lebih populer dikenal sebagai mubalighat dalam kepengurusan Muslimat NU Jawa Barat, pun pada awal kepengurusan Muslimat tahun 1946, Nyai Djuaesih belum masuk susunan pengurus pusat. Baru pada periode 1950-1952, Nyai Djuaesih didapuk menjadi ketua Muslimat. ).

R.Hindun, tak banyak catatan sejarah yang bisa dirujuk terkait biografi Hindun. Pada tahun 1940 PBNU menunjuk Hindun sebagai ketua NOM yang berkedudukan di Surabaya. NOM (Nahdloetoel Oelama Moeslimin)  sendiri adalah cikal bakal dari berdirinya Muslimat NU. Dugaan kuat, ia adalah seorang ibu asal Surabaya yang memahami tulis menulis. Meskipun PBNU baru mengakui secara bulat dan resmi berdirinya NOM sebagai bagian dari lembaga organik NU pada tahun 1946 melalui kesepakatan forum Muktamar ke-16 di Purwokerto, Jawa Tengah.

 Namun, dalam sebuah versi sejarah dinyatakan, Hindun dan rekan-rekannya menjadi pelaksana keputusan kongres NU Surabaya yang mengesahkan NOM lengkap dengan anggaran dasar dan pengurus besarnya diterima NU tahun 1940 di Surabaya. Dapat dikatakan bahwa Nyai Hindun adalah salah satu di antara tokoh penting dalam sejarah Muslimat NU generasi awal, bahkan saat organisasi perempuan NU ini masih prematur. Ia memberikan pondasi-pondasi bagi berdirinya Muslimat NU pada Maret 1946 atau 26 Rabiul Akhir 1365 yang kemudian diperingati tiap tahun sebagai hari lahir Muslimat NU (Sumber NU Online).

Siti Walidah atau lebih dikenal Nyai Ahmad Dahlan kelahiran 3 Januari 1872 lahir dari keluarga pemuka agama Islam dan penghulu resmi Keraton, Kyai Haji Fadhil. Menikah dengan sepupunya sendiri yang tak lain adalah sepupunya yang baru pulang dari Tanah Suci, yaitu Kyai Ahmad Dahlan. Sebagai seorang isteri dari seorang pemuka agama yang berpemikiran revokusioner, Siti Walidah sering dikecam dan ditentang karena pembaharuan yang dilakukannya bersama sang suami.

Keterlibatan Nyai Ahmad Dahlan dalam Organisasi Muhammadiyah bermula saat ia ikut merintis kelompok pengajian wanita Sopo Tresno (siapa Cinta) pada tahun 1914. Kegiatan pengajian agama di dalamnya disampaikan secara bergantian oleh pasangan suami isteri tersebut.

Setelah kelompok pengajian seperti dirilis suaramerdeka.com, berjalan lancar dan anggotanya terus bertambah, Nyai Ahmad Dahlan mempunyai inisiatif untuk mengembangkan Sopo Tresno menjadi sebuah organisasi kewanitaan berbasis agama Islam yang mapan. Akhirnya, didirikanlah Aisyiyah sebagai organisasi Islam bagi kaum wanita pada malam peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad pada 22 April 1917. Kemudian lima tahun setelah didirikan, Aisyiyah resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah.  

Penulis : Rusda
Editor : Rais

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here