Justisia.com – Jika kalian cermati, ada yang berbeda di pintu masuk Masjid Agung Demak. Di sana terdapat pintu utama yang dikenal dengan nama “Lawang Bledheg” (pintu petir). Ternyata pintu tersebut ada kaitanya dengan Ki Ageng Selo. Lalu siapakah Ki Ageng Selo itu ?

Ki Ageng Selo adalah keturunan Raja Majapahit, Brawijaya V. Pernikahan Brawijaya V dengan Putri Wandan Kuning melahirkan Bondan Kejawen atau Lembu Peteng.

Lembu Peteng yang menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub, menurunkan Ki Ageng Getas Pendawa. Dari Ki Ageng Getas Pendawa lahirlah Syekh Abdurrahman alias Ki Ageng Selo. (dapat dilihat pada papan silsilah Ki Ageng Selo yang terdapat di pusat informasi makam Ki Ageng Selo, Desa Tawang, Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah)

Cerita tentang penangkapan petir oleh Ki Ageng Selo itu dituturkan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Alhasil ada beberapa versi, bahkan banyak versinya, karena bersumber dari orang yang berbeda-beda. Namun kali ini adalah cerita yang berhasil di tangkap oleh kru magang Justisia dari salah satu juru kunci makam Ki Ageng Selo (Sabtu, 4 Mei 2019).

Kisah ini terjadi pada jaman Kasultanan Demak, yaitu pada masa Sultan Trenggono masih hidup. Alkisah, suatu sore sekitar habis ashar, Ki Ageng Selo yang tinggal di Desa Tawang, Purwodadi, pergi ke sawah untuk mencangkul karena memang Ki Ageng Selo hidup dengan cara bertani.

Kebetulan hari itu cuaca sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar-benar hujan lebat turun. Petir datang saling sambar menyambar. Sampai-sampai petir atau bledheg menyambar persawahan, membuat warga desa yang disawah pontang-panting menyelamatkan diri karena ketakutan.

Tetapi Ki Ageng Selo tetap mencangkul sawah. Tiba-tiba dari langit muncul petir menyambar Ki Ageng Selo. Cangkul yang dipegangnya pun disambar oleh petir. Namun, ia tetap berdiri tegar, tubuhnya utuh, tidak hangus (gosong), tidak koyak sedikitpun. Malahan petir itu berhasil ditangkap oleh Ki Ageng Selo. “Petir itu konon berwujud seorang kakek-kakek,” ujar salah satu penjaga Makam yang berkalungkan sarung.

“Wahai petir !!! berhentilah mengganggu penduduk sekitar,” kata Ki Ageng Selo kepada petir yang berada di tangannya. “Baiklah, aku tidak akan mnengganggu penduduk lagi, juga beserta anak cucumu,” jawab petir.

Oleh ki ageng selo petir itu kemudian diikat di pohon gandrik (pohon yg berada disekitar makam Ki Ageng Selo). Lega hati penduduk desa, mereka tidak takut lagi disambar petir jika pergi ke sawah. Penduduk desa menyambut Ki Ageng Selo dengan penuh rasa haru lalu mencium tangannya.

Sebagian masyarakat Jawa sampai saat ini apabila dikejutkan dengan bunyi petir atau bledheg akan segera mengatakan bahwa dirinya adalah cucu Ki Ageng Selo, dengan harapan petir tidak akan menyambarnya.

“Masyarakat di Jawa, khususnya di pedesaan masih percaya pada mitos ini, bila terdengar bledheg atau petir menyambar, mereka berteriak, “Gandrik ! aku putune Ki Ageng Selo” (Gandrik, aku cucunya Ki Ageng Selo) sambil berdiri tegak mengacungkan kepalan tangan ke langit” ujar juru kunci makam Ki Ageng Selo, Priyo.

Ia tetap meneruskan mencangkul sawahnya. Selesai mencangkul, dia pulang sambil membawa petir tadi. Keesokan harinya, dia pergi ke Kerajaan Demak. Petir yang tadi ditangkap dihaturkan kepada Sultan Trenggono.

Oleh Sultan Trenggono, bledheg ditaruh didalam jeruji besi yang kuat lalu ditaruh ditengah-tengah Alun-alun. Banyak orang-orang yang berdatangan untuk melihat wujud bledheg itu. Ribuan orang perpangkat besar dan orang kecil datang berduyun-duyun ke Alun-Alun untuk melihat petir hasil tangkapan Ki Ageng Selo.

Namun suatu hari, datanglah seorang nenek-nenek. Tak disangka ia adalah penyusup yang menyelinap dibalik kerumunan orang-orang yang igin melihat petirnya Ki Ageng Selo. Nenek itu membawa air kendi. Air itu pun lalu diberikan kepada kakek bledheg dan diminumnya. Ternyata Nenek itu adalah pasangan dari kakek petir yang berhasil di tangkap Ki Ageng Selo.

Setelah diminum, terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu, lenyaplah kakek dan nenek bledheg tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek bledheg hancur berantakan.

Untuk mengenang kejadian itu, dibuat gambar kilat pada kayu berbentuk ukiran sebesar pintu Masjid. Lantas mereka menyerahkannya kepada Ki Ageng Selo. Dengan senang hati, Ki Ageng Selo menerimanya dan dipasang dipintu depan Masjid Agung Demak. Pintu itu hingga kini masih bisa dilihat menjadi pintu utama Masjid Agung Demak.

Kisah yang melegenda ini masih menjadi tanda tanya sampai sekarang. Apakah kisah ini kisah nyata, ataukah hanya sekedar dongeng, atau hanya sebuah cerita yang mempunyai makna tersirat.

Adapun Pepali atau larangan Ki Ageng Selo yang dinarasikan dalam Dandanggula salah satu jenis sekar macapat. Pepali itu seperti berikut :

Pepaliku ajinen mberkati tur selamet serto kuwarasan, pepali iku mengkene :

  1. Aja agawe angkuh
  2. Aja ladak lan aja jail
  3. Aja ati serakah
  4. Lan aja celimut
  5. Lan aja mburu aleman
  6. Aja ladak, wong ladak pan gelis mati
  7. Lan aja ati ngiwa

Yang kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia :

Laranganku hargailah, supaya memberkahi. Lagi pula selamat serta sehat, larangan itu seperti berikut :

  1. Jangan berbuat angkuh
  2. Jangan bengis dan jangan jahil
  3. Jangan hati serakah (tamak, loba)
  4. Dan jangan panjang tangan
  5. Dan jangan memburu pujian
  6. Jangan angkuh, orang angkuh lekas mati
  7. Dan jangan cenderung ke kiri

(Rep:Noosy/Ed:Rais)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here