Di Bawean, khususnya kampung Teluk Jati, terdapat tradisi unik dan khas yang sudah turun temurun rutin dilaksanakan setiap tahunnya, yaitu tradisi “Salamettan Labbhuan” atau jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya adalah “Selamatan Pangkalan Pelabuhan”. Pangkalan Pelabuhan yang dimaksud di sini bukan dermaga penyeberangan kapal-kapal besar untuk transit, melainkan tempat di mana kapal-kapal kecil bersandar di bibir pantai, dan diikat di tiang-tiang yang sengaja ditancapkan ke dasar laut dangkal lepas pantai yang disebut Sambhueng.

Tradisi sedekah laut khas Teluk Jati ini dilaksanan rutin saat musim katéghe tiba, yaitu musim panas di kisaran antara bulan Juni-September. Saat musim katéghe tiba, ikan yang paling banyak dan identik pada saat musim kateghe ini adalah ikan benggol, yaitu ikan kecil yang hidup bergerombol, biasanya ada di rumpon-rumpon yang sengaja dibuat oleh para nelayan.

Dalam pelaksanaanya, tradisi ini sangat kental dengan unsur-unsur Islaminya, misalnya saja ketika malam setelah Isya’ dibacakan manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jilani, dan dilanjutkan dengan acara melek-melek. Paginya dilanjutkan dengan khataman Al-Quran, barzanji, atau istighotsah ditutup dengan doa, serta dilanjutkan dengan makan bersama.

“Acaranya banyak, malamnya manaqiban, siangnya istighotsah,” kata Mahfud, salah satu remaja teluk jati, Sabtu (20/7/2019).

Uniknya, makan disediakan oleh warga sekitar per rumah, artinya satu rumah satu hidangan dengan lauk yang bermacam-macam lengkap dengan buah tangan yang disebut Bherkat.

Acara puncak dilanjutkan dengan keliling-keliling lepas pantai dengan perahu para nelayan diiringi oleh Asrakalan di satu perahu nelayan. Kemudian, para remaja dan orang tua bersama-sama menceburkan diri ke laut sambil menancapkan sambhueng (tiang) agak besar dan tinggi di perairan yang lebih dalam dan berjarak ratusan meter dari bibir pantai, dipimpin oleh tetua kampung dan dibacakan doa.

Setelah selesai menancapkan sambhueng, perahu-perahu nelayan mengelilingi sambhueng tersebut beberapa kali dengan diiringi suka cita dan rasa syukur atas terlaksananya tradisi yang mungkin hanya ada di kampung-kampung pesisir sekitar, khususnya Teluk Jati.

Tujuan dilaksanakannya acara ini adalah sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT juga permohonan doa agar penduduk di sekitar pesisir diberikan rezeki yang berlimpah dengan panen ikan yang melimpah ruah, serta memohon agar tidak terjadi anomali cuaca yang dapat mengganggu proses nelayan dalam mencari ikan.

“Sebagai ungkapan rasa syukur,” ujar Mahfud menyampaikan tanggapan tetua Teluk Jati.

Dengan diadakannya acara ini, para tetua kampung maupun tokoh masyarakat berharap, acara Salamettan Labbhuan ini merupakan salah satu bentuk dari pelestarian dari budaya dan tradisi yang secara turun temurun sudah ada. (Rep:Jek/Ed:A.M)

Reporter: M. Zakariya – Jejek
Penulis: M. Zakariya – Jejek
Editor: Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here