Tahun 1998 menjadi tahun yang berat bagi bangsa ini. Krisis moneter yang melanda menyebabkan banyak kekacauan terjadi. Mulai dari perekonomian negara yang jatuh sampai demo yang anarkis.Keadaan ini berdampak besar kepada masyarakat luas. Krisis politik juga terjadi pada tubuh bangsa ini. Banyak perusahaan yang melakukan PHK secara besar-besaran karena masalah keuangan yang diderita perusahaan tersebut. Pada akhirnya, perusahaan-perusahaan itu gulung tikar. Inilah awalnya.

Tahun ini sudah menjadi tahun kedelapan seseorang tidak ada di samping kami. Tak ada surat, tak ada kabar. Kami sangat menunggu kehadirannya kembali dalam keluarga ini. Terutama ibu.

Tetapi tidak bagi adikku yang belum benar mengenalnya. Dia  tak pernah menginginkan orang itu kembali. Itu lah yang diinginkan adik kecilku. Aku tak tega melihat ibuku yang membanting tulang demi   menghidupi aku dan adikku. Aku juga belum bisa membantu ibu memikul beban keluarga ini. Ibu melarangku bekerja sambil sekolah. Ibu ingin aku fokus terhadap sekolah.

“Dik, sebenarnya apa yang kau pikirkan tentang ayah? Mengapa bisa kau sampai membencinya?” tanya Radit dengan sedih.

“Apa kakak telah lupa ayah telah meninggalkan kita? Aku, kakak dan ibu. Hal itu tidak seharusnya dilakukan oleh seorang suami dan seorang ayah,” jawab adik.  “Sebenarnya  di  mana rasa tanggung jawab  ayah sebagai laki-laki? “

“Dik, kau masih kecil saat itu, jadi kau belum mengerti sebenarnya apa yang terjadi.” kata kakak.

“Kak, bukan berarti aku masih kecil lalu aku tidak tahu apa apa tentang hal ini.”kata adik, yang diikuti dengan suara langkahan kaki.

Hari ini ibuku sakit. Beliau tidak dapat berjualan seperti biasa. Aku tak tega sebenarnya. Aku sangat ingin membantu ibuku. Tetapi ibu selalu melarangku untuk membantunya saat hari sekolah. Beliau sangat takut apabila sekolahku terbengkalai karena membantunya. Dengan uang seadanya, ibu menyuruhku untuk membelikannya obat di warung dekat rumah.

Aku dan adikku harus tetap sekolah walaupun ibu sakit. Sebenarnya kami tidak tega meninggalkannya sendirian di rumah. Tetapi, ibu terus memaksa kami untuk tetap pergi ke sekolah dan tidak mengkhawatirkannya dirumah. Maka, jika terjadi seperti ini, aku selalu menitipkan ibu kepada tetangga sebelah untuk menjaganya sampai aku dan Rena kembali ke rumah.

Setiap hari, aku selalu berangkat sekolah bersama adikku. Dia akan senang sekali apabila aku memboncengkannya menggunakan sepeda. Aku sangat senang melihat senyum yang melekat di wajah Rena yang bulat itu. Itulah salah satu kekuatanku dalam melewati semua ini. Sama seperti saat berangkat, saat pulang pun kami bersama. Walaupun umur kami terpaut tiga tahun, kami sangat dekat dan terbuka satu sama lain.

“Ren, apa kau menyayangiku?” tanya Radit.

“Apa yang kau bicarakan. Pertanyaanmu lucu sekali,” jawab Rena sembari mencubit tangan kakaknya.

“Kau kakakku. Tentu saja aku menyayangimu,” jawabnya lagi.

Dalam perjalanan ke rumah dan sekolah, kami selalu berbicara panjang lebar. Semua hal pasti kami bicarakan. Kami sama sama kelas tiga pada jenjang kami. Jadi, kami disibukkan dengan persiapan ujian akhir di sekolah.

***

Delapan tahun yang lalu.

Tahun 1998 menjadi saksi bagi tragedi perekonomian bangsa. Keadaannya berlangsung sangat tragis dan tercatat sebagai pemerintahan paling suram dalam sejarah perekonomian bangsa ini. Hanya dalam wakt setahun, perubahan dramatis terjadi. Prestasi ekonomi yang dicapai dalam dua puluh tahun terakhir runtuh begitu saja.

Krisis ini hanya berawal dari krisis nilai tukar mata uang asing. Memasuki tahun 1998, krisis ini dengan cepat berkembang menjadi krisis ekonomi, berlanjut lagi krisis sosial kemudian ke krisis politik. Krisis ini cepat meluas dalam kehidupan masyarakat dan nyaris melumpuhkan seluruh bidang kehidupan negara.

Sebelum itu keluarga kami baik-baik saja. Bisa dikatakan kami keluarga bahagia. Keluarga kami nyaris sempurna. Ayahku adalah seorang pengusaha. Ia memiliki pabrik pengolahan tekstil dengan belasan karyawan. Memang tidak besar pabrik milik ayah. Tetapi hasil dari pabrik tersebut sangat cukup untuk kebutuhan hidup keluarga kecil kami.

Saat krisis krisis itu mulai terjadi, pabrik ayah masih baik- baik saja. Pabrik kecil itu masih bertahan untuk keluarga kami dan para karyawan Setelah dua atau tiga bulan, pabrik tekstil milik ayah mulai terkena dampak buruk. Pendapatan mulai menurun, bahkan setelah beberapa saat, pabrik ayah mendapat kerugian. Ayah memecat beberapa karyawannya untuk menekan angka pengeluaran pabrik.

Keluarga kami mulai melakukan pengiritan. Ibu sebagai ibu rumah tangga sangat hati-hati dalam melakukan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga kami. Uang sakuku dan Rena juga berkurang. Bahkan sekarang ibu juga membuatkan bekal makan siang untuk  kami di sekolah agar kami tidak jajan dan uang saku kami dapat disisihkan untuk ditabung.

Pabrik ayah mulai bermasalah. Mulai dari harga bahan baku yang melambung sampai protes yang dilakukan oleh karyawan karena gaji mereka yang turun, bahkan beberapa kali ayah telat membayar hak mereka sebagai karyawan tersebut. Ibu mulai bekerja serabutan untuk membantu ayah. Ayah sungguh kecewa dan sangat kesal hal seperti ini terjadi pada keluarga bahagia kami.

Tidak menunggu waktu yang lama, pabrik ayah gulung tikar. Ayah juga terjerat hutang dimana- mana karena ayah harus membayar gaji karyawannya untuk terakhir kalinya. Hidup keluarga kami sangat sederhana. Ayah mulai bekerja serabutan seperti ibu. Penghasilannya juga sangat pas- pasan. Sama seperti ibu.

Setelah beberapa saat berlalu, ayah memiliki pemikiran untuk melakukan perantauan. Ya. Tentu saja untuk mencari pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik. Ayah sangat ingin kondisi keuangan keluaga kami kembali baik lagi.

“Apa mas benar-benar akan melakukan ini? Apa mas yakin dengan keputusan ini?” tanya ibu.

“Yaa….. tentu saja mas yakin. Cukup doakan mas saja di sana,” jawab ayah dengan yakin.

“Tolong jaga dirimu baik- baik. Jaga kedua anak kita. Setiap bulan aku akan berusaha mengirimkan sejumlah uang untukmu dan anak- anak,” lanjutnya.

“Baik mas. Jaga dirimu baik-baik disana. Kami akan selalu mendoakanmu di sini,” jawab ibu sembari memeluk ayah.

“Radit, tolong jaga Rena dan ibu untuk ayah. Ayah akan segera kembali untuk kalian,” pesan ayah sambil mendekapku.

Ayah pun memenuhi janjinya pada kami untuk selalu mengirim pesan dan uang. Ayah merantau ke Pulau Sumatera. Ia bekerja sebagai mandor di perkebunan kelapa sawit milik pengusaha setempat. Tetapi itu hanya terjadi selama satu tahun empat bulan. Setelah itu, surat dan uang tak pernah lagi sampai di rumah kami.

***

Ya. Itulah yang membuat Rena membenci ayah. Kami semua tidak tau bagaimana kabar ayah sekarang. Apakah beliau sehat? Apakah beliau masih bernafas? Apakah beliau merindukan kami? Apakah beliau mengkhawatirkan kami? Kami sangat merindukan kehadirannya di sini. Tetapi, apakah beliau akan kembali sesuaiĀ  dengan janjinya dulu?

Penulis: Sonia Khotmi Rosali

Editor: Harlianor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here