Rekam Dialog Dalam Ruang Rektorat Pada Aksi Jilid II

0
545
Rapat pimpinan kampus bersama perwakilan mahasiswa pada aksi jilid 2 di gedung Rektorat kampus 1 lantai 2 UIN Walisongo (foto : Arif)

Rekam Dialog Dalam Ruang Rektorat Pada Aksi Jilid II

Justisia.com- Aksi jilid II Keluarga Besar Mahasiswa Walisongo (KBMW) untuk mengusut tuntas persoalan ujian toefl-imka,  akhirnya menemukan titik temu yang disepakati oleh segenap pimpinan kampus beserta tujuh perwakilan dari mahasiswa yang tergabung dalam masa aksi, di ruang Rektorat kampus 1 lantai 2 pada Senin, (06/05).

Sebelumnya, Rektor UIN Walisongo Semarang, Muhibbin menjelaskan bahwa setelah mendapatkan tuntutan dari mahasiswa pada hari kamis sebelumnya, pihaknya telah melakukan rapat pimpinan kampus pada Jumat lalu, (03/05).

Ia menjelaskan, terkait tekhnis, mekanisme, hingga penambahan kuota yang diprioritaskan bagi mahasiswa yang berindentitas NIM lama sebanyak 40 kuota.

“Mahasiswa lama akan didata secara manual oleh Fakultas, nanti akan dicarikan solusi terbaik untuk mengikuti ujian toefl-imka, kalau emang angkatan lama masih banyak, kita akan lakukan ujian secara massal” jelasnya di depan pimpinan dan perwakilan mahasiswa.

Di sela-sela penjelasan Muhibbin tersebut, Kordinator aksi, Aghisna Bidikrikal Hasan menyangkal penjelasan Muhibbin. Menurutnya, keputusan yang disampaikan oleh Rektor tersebut bersama pimpinan kampus lainya yang dibacakan adalah keputusan sepihak yang tidak melibatkan sama sekali mahasiswa.

“Aksi hari ini yang kita lakukan, bukan untuk audiensi ataupun mendengar tanggapan, kami di sini datang dengan segala tuntutan dan harapan yang dialami mahasiswa. Alangkah baiknya kita mahasiswa menyampaikan terlebih dahulu baru diputuskan, bukan mendengar keputusan dari pimpinan kampus secara sepihak yang mahasiswa tidak tahu, karena emang tidak dilibatkan,” sangkal mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik tersebut.

Lalu ia menambahkan perihal kampus yang mempunyai lembaga DEMA dan SEMA Universitas dan merupakan represenstasi dari mahasiswa. Ia menuntut segala peraturan yang dibuat oleh kampus harus melibatkan mahasiswa yaitu SEMA dan DEMA.

“Karena SEMA dan DEMA adalah representasi dari mahasiswa, selanjutnya saya persilahkan kepada Priyo selaku Ketua DEMA U untuk membacakan terlebih dahulu tuntutan mahasiswa yang sudah tertulis. Kalau bisa satu point satu pembahasan, jangan sampai ada yang terlewatkan, biar tuntas sekarang juga” tegasnya.

Mendengarkan usulan Aghisna, Rektor UIN Walisongo, Muhibbin mempersilahkan Ketua DEMA U membacakan poin-poin tuntutan mahasiswa dalam aksi itu.

Dalam kesempatan ini Priyo hanya membacakan tiga dari total tujuh tuntuntan mahasiswa, yaitu pertama mengadakan simulasi toefl dan imka secara gratis.

“Alasan pengadaan simulasi itu disebabkan banyaknya mahasiswa yang belum faham dan mengerti untuk mengikuti ujian toefl-imka, sementara mata kuliah bahasa sendiri hanya sekedar pengetahuan dasar saja,” kata Priyo selaku Ketua DEMA U

Menanggapi hal itu, Muhibbin mengatakan: sesungguhnya Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) telah memberikan kesempatan 3 kali secara gratis. Kesempatan itu kata ia hendaknya dijadikan peluang agar pengetahuan bahasa dikuasai terlebih dahulu, sehingga ujian toefl-imka bisa lolos.

Baca juga:  Pdt. Izak Latu: Lebaran Sebagai Sarana Recharging Identity

“Tiga kali ujian secara gratis, itu saking baiknya PPB, dimanapun ujian adalah bayar,” kata Muhibbin.

Kemudian ia menyarankan kepada mahasiswa yang hendak mengikuti ujian toefl-imka, harus dipastikan benar-benar siap.

“Kalau seandainya diminta ujian simulasi secara gratis tentu PPB harus berfikir ulang, karena ini kaitanya dengan tenaga dan materi yang perlu dipersiapkan,” kata pria kelahiran Demak itu.

Selanjutnya kepala PPB, Saifullah mengatakan bahwa pihaknya sudah sering diminta oleh lembaga yang konsen di bahasa untuk menjadi narasumber di berbagai pelatihan toefl dan imka yang digelar.

“saya sudah sering diminta oleh lembaga yang konsen di bahasa untuk menjadi narasumber di berbagai pelatihan toefl dan imka yang digelar,” tegasnya.

Pernyataan tersebut diamini oleh salah satu staf pengajar di PPB, Fakhruddin Aziz, ia mengakui pihaknya sudah terlalu sering memenuhi undangan untuk memberikan pelatihan-pelatihan kepada mahasiswa.

“Saya sendiri sudah tidak terhitung lagi mengisi pelatihan imka di UIN seperti yang digelar UKM Nafilah, Ma’had, tapi persoalanya di situ apakah ada koordinasi dengan SEMA dan DEMA atau tidak, saya tidak tahu, jadi masalah simulasi sudah sering dilakukan,” ungkap laki-laki yang juga menjadi dosen FSH tersebut.

Selanjutnya, Muhibbin menimpali dengan menyimpulkan bahwa simulasi sudah sering dilakukan selain memberikan ujian toefl-imka secara gratis.

Namun, koordinator aksi, Aghisna mempertanyaan mengenai gelontoran dana tiga kali ujian toefl-imka yang dikatakan gratis oleh Muhibbin tersebut.

“kalau secara gratis, anggaranya dari mana ? apakah tanpa melibatkan mahasiswa juga? Biar tidak jadi pertanyaan juga bagi teman-teman, tolong bisa dijelaskan,” pinta mahasiswa semester 8 itu.

Menanggapi hal itu, Saifullah membeberkan masalah dana dan pembayaran yang kaitanya dengan PPB, semua tarifnya berasal dari Badan Layanan Umum (BLU). Berdasarkan tarif BLU, sekali ujian, tarif  mengikuti ujian toefl-imka sebesar 150 ribu. Tetapi pihak PPB tidak menerapkan pembayaran tersebut kepada mahasiswa secara kaku, mengingat mayoritas mahasiswa yang mendaftar banyak tidak lulus ujian.

 “Jika lulus ya sudah, jika tidak lulus diberikan rukhsoh kedua kalinya sampai tiga kali, meskipun pada hakikatnya merepotkan kampus,” tegas Saifullah.

Terkait pertanyaan pendanaan tersebut, Wakil Rektor 2 bagian keuangan, Imam Taufik angkat bicara, bahwa dana yang ditarik atas dasar regulasi.

“Tidak ada penarikan apapun kecuali berdasar regulasi, apalagi kaitanya dengan mahasiswa, jadi bahasa kita sama, kita menggelar kegiatan kampus untuk kebutuhan mahasiswa, tanpa harus dijelaskan secara rinci dana itu mengalirnya kemana” Ujar pria yang juga menjadi pengasuh ponpes Darul Falah Be-Songo itu.

Baca juga:  Millenial Digandeng Kampanyekan Inovasi Meningkatkan Perekonomian

Pendaftaran Offline dan 40 Kuota Khusus Angkatan (2012-2015)

Setelah mendengar tanggapan para pimpinan kampus, selanjutnya ketua DEMA U, Priyo Ihsan Aji membacakan tuntutan mahasiswa point berikutnya, yaitu mata kuliah bahasa agar menjadi syarat mengikuti ujian toefl-imka.

Ia beralasan bahwa mahasiswa UIN Walisongo sekarang tidak hanya dari kalangan pesantren dan lulusan Madrasah Aliyah, tetapi lulusan SMK dan SMA banyak yang melanjutkan di UIN Walisongo.

“Agar menjembatani mereka mengerjakan ujian toefl-imka, mata kuliah bahasa menjadi syarat,” jelasnya

Mendengar tuntutan mahasiswa tersebut, Muhibbin menanggapi dengan mengacu pada SK Rektor No. Un. 10.0/R/PP.00.9/754/2016. Dalam SK tersebut menurutnya telah memberikan kesempatan pada mahasiswa lulus lebih cepat.

“Kalau yang sudah siap lulus, ngapain harus ikuti mata kuliah bahasa, tentu keputusan ini dikeluarkan biar tidak merugikan mahasiswa lain,” imbuhnya.

Persoalan yang sebenarnya menurut Muhibbin adalah ada pada mahasiswa yang berindentitas NIM lama (2012-2015) yang tersendat dan terhalang mengikuti ujian lebih cepat, karena harus berebutan dengan mahasiswa semester di bawahnya.

Bersama pimpinan kampus, ia berusaha mencari solusi terbaik sebagai alternatif lain dengan cara mendaftar secara manual lewat fakultas masing-masing dan juga penambahan kelas yang diprioritaskan kepada mahasiswa berindentitas NIM lama.

“Kalau SK itu dicabut yang juga menjadi tuntuan mahasiswa, akan timbul masalah baru, pasti mahasiswa ber NIM baru menuntut untuk dikembalikan pada SK Rektor 2016 yang semula. Saya kira substansi persoalanya sudah selesai,” jelas Muhibbin.

Tanggapan itu ditanggapi balik oleh mahasiswa yang diwakili Aghisna, ia ngotot persoalan yang berkaitan dengan online yang dikhususkan angkatan tua untuk diselesaikan sesuai kesepakatan pada rapat tersebut.

“Jumlah perkelasnya berapa kursi dan satu bulan berapa kelas? Dan kapan bisa direalisasikan? Tentu terkait ini perlu diselesaikan sekarang juga, tolong bisa jelaskan secara detail.” pintanya dengan tegas.

Menjawab pertanyaan itu, Saifullah menjelaskan: Jadwal tes toefl-imka bulan Mei saat ini dilaksanakan pada 10 dan 24 Mei. Kapasitasnya 60 kuota, sementara untuk ujian imka dilaksanakan pada  7, 14, 21, dan 28 Mei. Kuota pada pagi dan siang dibuka sebanyak 60 kuota.

Demikian pula toefl, mulai 8, 15, 22, dan 29 Mei. Saat ini yang sudah masuk di daftar online ada 1080, sementara di luar itu akan diselenggarakan tes kursus sebanyak 240. Jadi dalam sebulan kita buka mahasiswa mengikuti tes sebanyak 1320.

Baca juga:  Wakil Dekan II FSH Kecewa Atas Kinerja Petugas Kebersihan

“Kemudian ia menambahkan bahwa mengingat bulan Mei kemungkinan Full, akan ada penambahan ruang. Setiap ruangnya memilki kemampuan 40 kursi, penambahan 10 kelas yang dituntut mahasiswa, PPB segera memenuhi tetapi hanya sampai pada tiga kelas. Sebab kalau 10 kelas PPB mengakui belum mampu. Jadi tiga kelas kita evaluasi lagi, cukup ataukah tidak,” jelas Saifullah.

Terkait teknis penambahan kuota 40, Saifullah mempersilahkan kepada forum untuk disepakati secara bersama-sama. Sesuai yang disepakati bersama pimpinan, kuota 40 diprioritaskan pada mahasiswa angkatan lama (2012-2015) tanpa persyaratan apapun dan dilakukan secara manual melalui masing-masing Fakultas

“Kalau dalam minggu ini ada pendaftar dari fakultas tentu melalui edaran pak Rektor terlebih dahulu, kami siap melakukan ujian untuk 40 kuota tersebut, sehingga dalam sekali tes ada 100 mahasiswa di pagi, dan siang 100. Saya kira kuota ini lebih dari cukup, nanti semisal ada yang kurang kita evaluasi kembali,” imbuhnya.

Saifullah menambahan kuota 40 akan diberlakukan mulai Minggu depan sebanyak 100 kursi pada pagi dan siang hari pada bulan Mei. kemudian terkait pendaftaran manual secara teknis yang dikhususkan bagi angkatan 2012-2015 ia menyerahkan kepada forum.

Musahadi selaku wakil Rektor 1 mengambil alih untuk menengahi sekaligus mempertegas problem yang menjadi masalah. Ia mengatakan, sebenarnya persoalanya bersifat psikologis ketika mahasiswa mengakses website PPB secara bersamaan dalam satu waktu hingga kemudian menyebabkan lemot mengakses secara online.

“Karena lemot, akhirnya situasi menjadi ras, sebanyak apapun server disediakan kalau ras melampaui batas pasti ada masalah. Jadi kita menyelesaikan persoalan bersifat sementara sesuai yang disepakati pak Rektor,” ujar dosen yang akrab dipanggil pak Musa.

Musahadi kemudian mengulang kembali penyampaian Rektor, yaitu pertama membuka pendaftaran secara manual khusus angkatan beridentitas NIM lama dengan tanpa syarat apapun. Sebanyak berapapun pendaftar, pihak kampus akan sediakan slot ujian. Kemudian menambah kuota 40 khusus mahasiswa angkatan lama secara online. Dan ketentuan penambahan kuota ini berlaku sepanjang persoalan menumpuk belum selesai.

“Mungkin nanti angkatan lama sudah habis, mungkin saja kuota 40 kita alokasikan normal semula,” jelas Musahadi.

Lalu Musahadi menambahkan, di PPB Akan ditambahi tenaga kerja sebanyak 9 petugas baru.

Menanggapi masalah kegelisahan mahasiswa, terkait lemotnya saat mengakses portal PPB ketika melakukan pendaftaran toefl-imka, Muhibbin mengatakan: server UIN Walisongo sudah besar sesuai ukuran Universitas. Hanya saja persoalanya ketika website tersebut diakses secara bersama-sama dalam satu waktu.

“Sebesar apapun servernya pasti akan lemot, seandianya dibanding dengan kampus lain, server kampus kita tidak kalah,” klaimnya.

Terkait masalah server petugas PTIPD menyampaikan bahwasanya server di UIN Walisongo sebenarnya tidak ada kendala selain kendala mendaftar toefl-imka. Lemotnya mengkses disebabkan karena satu aplikasi diakses oleh banyak mahasiswa secara bersamaan dalam satu waktu, akhirnya akses lemot.

“Mau tidak mau bukan karena jaringan kita, tetapi karena emang numpuk di satu titik yang kebetulan diakses secara bersama-sama. Itu sepengetahuan kami dari PTIPD,” tuturnya.

Seusai berhasil menemui pimpinan kampus UIN Walisongo Semarang di gedung Rektorat kampus 1, keputusan secara tertulis akan ditandatangani pada selasa (07/05). (INK. Ed. Rri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here