“Istriku, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya seorang suami yang menemukan istrinya duduk melamun di depan rumahnya.

“Tidak memikirkan apa-apa mas, aku hanya merasa kesepian, apalagi jika mas sedang pergi. Pasti suasana di sini sangatlah sepi.” Sang istri menghela nafasnya, mulutnya seperti ingin mengucapkan kata-kata namun tak kuasa.

“Sejujurnya mas, aku ingin sekali mempunyai anak. Aku ingin sekali merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.”

Mendengar ungkapan isi hati istrinya, sang suami mencoba mencari jalan keluarnya.

“Sudahlah, dek. Barangkali belum waktunya Tuhan memberikan kita anak. Yang penting kita harus berusaha dan terus berdoa kepada-Nya,” ujar sang suami.

“Iya, mas,” jawab sang istri sambil meneteskan air mata.

Sang suami pun tak kuasa menahan air matanya melihat kesedihan istri yang amat dicintainya itu.

Mereka berdua adalah Ki Hajar dan Nyai Selakanta yaitu sepasang suami istri yang kelak mempunyai anak seekor naga yang bernama Baru Klinting.

***

Rawa Pening adalah sebuah danau yang merupakan salah satu obyek wisata air atau rawa di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Danau/rawa ini tepatnya berada di antara Gunung Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. Rawa Pening memiliki luas sekitar 2.670 hektar yang menempati empat wilayah kecamatan, yaitu; Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru.

Di balik pemandangan danau yang indah, Rawa Pening ternyata diselimuti oleh cerita yang melegenda. Menurut cerita yang sangat melegenda itu, danau itu terbentuk akibat suatu peristiwa yang pernah terjadi di daerah tersebut. Yaitu peristiwa tenggelamnya sebuah desa menjadi rawa.

***

Dahulu, di lembah antara Gunung Merbabu dan Telomoyo, terdapat sebuah desa bernama Ngasem. Di desa itu tinggal sepasang suami-istri yang bernama Ki Hajar dan Nyai Selakanta yang dikenal pemurah dan suka menolong, sehingga sangat dihormati oleh masyarakat. Sayangnya, mereka sama sekali belum dikaruniai seorang anak. Meskipun demikian, Ki Hajar dan istrinya selalu hidup sabar dan rukun. 

Suatu hari, Nyai Selakanta duduk termenung galau seorang diri di depan rumahnya. Tak lama kemudian, Ki Hajar datang menghampiri dan duduk di sampingnya. Nampaknya Nyai Selakanta sedih akibat belum mempunyai anak turun satupun, ia pun mencurhatkannya kepada suaminya Ki Hajar hingga akhirnya Nyai Selakanta meneteskan air matanya.

“Baiklah, Dek. Jika memang kamu sangat menginginkan anak, izinkanlah aku pergi bertapa untuk memohon kepada Yang Maha kuasa,” kata Ki Hajar.

Awalnya Nyai Selakanta kaget dan bingung kepada usulan suaminya, namun akhirnya Nyai Selakanta memenuhi keinginan suaminya, meskipun berat untuk berpisah. 

Dan keesokan harinya, berangkatlah Ki Hajar ke lereng Gunung Telomoyo. Tinggal lah kini Nyai Selakanta seorang diri dengan hati semakin sepi.

***

Setelah sekian lama Nyai Selakanta menunggu hingga berminggu-minggu, bahkan sudah berbulan-bulan,  namun sang suami belum juga kembali dari pertapaannya. Hati wanita itu pun semakin khawatir dan cemas kalau-kalau terjadi sesuatu pada suaminya.

Hingga suatu hari, Nyai Selakanta merasa mual dan kemudian muntah-muntah. Ia pun berpikir bahwa dirinya sedang hamil. “Tapi kenapa tiba-tiba? apakah pertapaan suaminya berhasil?” pertanyaan-pertanyaan pun mulai melintas di benaknya. 

Ternyata dugaannya benar, semakin hari perutnya semakin membesar. Nyai Selakanta hamil. Setelah tiba saatnya, ia pun melahirkan. Namun, alangkah terkejutnya ia karena anak yang dilahirkan bukanlah seorang manusia, melainkan seekor Naga. Dan semakin terkejut lagi bahwa Naga tersebut bisa berbicara layaknya manusia.

Ia pun menamai anak naga tersebut “Baru Klinthing’. Nama ini diambil dari nama pusaka milik suaminya yang bernama Baru Klinthing. Kata “Baru” berasal dari kata bra yang artinya keturunan Brahmana, Sementara kata “Klinthing” berarti lonceng.

Nyai Selakanta pun terheran-heran bercampur haru melihat keajaiban itu. Namun di sisi lain, ia juga sedikit merasa kecewa. Sebab, ia takut jika warga mengetahui bahwa dirinya melahirkan seekor naga. Untuk menutupi hal tersebut, ia pun berniat untuk mengasingkan Baru Klinthing ke Bukit Tugur. Namun ia tidak tega karena Baru Klinthing masih kecil, alhasil ia harus merawatnya terlebih dahulu hingga dewasa.

***

Waktu terus berputar. Baru Klinthing pun tumbuh menjadi dewasa. Suatu hari, anak itu bertanya kepada ibunya tentang siapakah sebenarnya ayahnya. Nyai Selakanta tersentak kaget. Ia benar-benar tidak pernah menduga pertanyaan itu keluar dari mulut anaknya. Padahal hal tersebut telah ia sembunyi-sembunyikan darinya. Namun, hal itu telah menyadarkan dirinya bahwa sudah saatnya Baru Klinthing mengetahui siapa ayahnya.

“Iya, anakku. Ayahmu bernama Ki Hajar. Tapi, selama bertapa di lereng Gunung Telomoyo ia tak kunjung pulang. Pergilah temui dia dan katakan padanya bahwa engkau adalah putranya,” kata Nyai Selakanta.

“Tapi, Bu. Apakah ayah mau mempercayaiku begitu saja dengan tubuhku yang seperti ini?” tanya Baru Klinthing dengan ragu.

“Jangan khawatir, Anakku! Bawalah pusaka Baru Klinthing ini sebagai bukti,” ujar Nyai Selakanta, “Pusaka itu milik ayahmu.”

***

Setelah memohon restu dan menerima pusaka dari ibunya, Baru Klinthing berangkat menuju lereng Gunung Telomoyo. Setiba di sana, masuklah ia ke dalam gua dan mendapati seorang laki-laki sedang duduk bersemedi. Kedatangan Baru Klinting rupanya mengusik ketenangan petapa itu. Betapa terkejutnya petapa itu saat melihat seekor naga yang dapat berbicara berada di hadapannya.

“Siapa kamu dan kenapa kamu bisa berbicara seperti manusia?” tanya petapa itu dengan heran.

“Saya Baru Klinthing,” jawab Baru Klinthing. “Kalau boleh tahu, apakah benar ini tempat pertapaan Ki Hajar?”

“Iya, aku Ki Hajar sendiri. Tapi, bagaimana kamu tahu namaku? Siapa kamu sebenarnya?” tanya pertapa itu penasaran. 

Mendengar jawaban itu, Baru Klinthing langsung menjelaskan siapa dirinya. Awalnya, Ki Hajar tidak percaya jika dirinya memiliki anak berwujud seekor naga. Ketika naga itu menunjukkan pusaka Baru Klinthing kepadanya, Ki Hajar pun mulai percaya. Namun, ia belum yakin sepenuhnya. Ki Hajar pun memberi syarat lagi kepada Baru Klinthing untuk melingkari Gunung Telomoyo.

Baru Klinthing segera melaksanakan perintah tersebut untuk meyakinkan sang ayah. Berbekal kesaktian yang dimiliki, Baru Klinting berhasil melingkari Gunung Telomoyo. Akhirnya, Ki Hajar pun mengakui bahwa naga itu adalah anaknya. Setelah itu, ia kemudian memerintahkan anaknya untuk bertapa di Bukit Tugur.

“Pergilah bertapa ke Bukit Tugur!” ujar Ki Hajar, “Suatu saat kelak, tubuhmu akan berubah menjadi manusia.”

***

Sementara itu tak jauh dari bukit Tugur, terdapat desa bernama Pathok. Desa ini sangat makmur, namun sayang penduduk desa ini sangat angkuh. Suatu ketika, penduduk Desa Pathok bermaksud mengadakan pesta sedekah bumi setelah panen. Berbagai makanan lezat pun akan disajikan sebagai hidangan bersama dan jamuan untuk para tamu undangan. Untuk itulah, para warga beramai-ramai berburu binatang ke Bukit Tugur.

Aneh, sudah hampir seharian mereka berburu, namun belum satu pun binatang yang tertangkap. Ketika hendak kembali ke desa, tiba-tiba mereka melihat seekor naga sedang bertapa. Naga ini tak lain adalah Baru Klinthing. Mereka pun beramai-ramai menangkap dan memotong-motong daging naga itu lalu membawanya pulang. Setiba di desa, daging naga itu mereka masak untuk dijadikan hidangan dalam pesta.

***

Ketika para warga sedang asyik berpesta, datanglah seorang anak laki-laki yang tubuhnya penuh dengan luka sehingga menimbulkan bau amis. Rupanya, anak laki-laki itu adalah penjelmaan Baru Klinthing. Oleh karena lapar, Baru Klinthing pun ikut bergabung dalam keramaian itu. Saat ia meminta makanan kepada warga, tak satu pun yang mau memberi makan. Mereka justru memaki-maki, bahkan mengusirnya.

Sungguh malang nasib Baru Klinthing. Dengan perut keroncongan, ia pun berjalan sempoyongan hendak meninggalkan desa. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang janda tua bernama Nyi Latung. 

“Hai, anak muda. Kenapa kamu tidak ikut berpesta?” tanya Nyi Latung.

Baru klinting pun menceritakan semuanya.

Nyi Latung yang baik hati itu pun mengajak Baru Klinthing ke rumahnya. Nenek itu segera menghidangkan makanan lezat.

“Ternyata masih ada warga yang baik hati di desa ini.” kata Baru Klinthing

“Iya, cucuku. Semua warga di sini memiliki sifat angkuh. Mereka pun tidak mengundang Nenek ke pesta karena jijik melihatku,” ungkap Nyi Latung.

“Kalau, begitu. Mereka harus diberi pelajaran,” ujar Baru Klinthing. “Jika nanti Nenek mendengar suara gemuruh, segeralah siapkan lesung kayu (alat menumbuk padi)!”

***

Baru Klinthing pun kembali ke pesta tersebut dengan maksud untuk meminta lagi makanan kepada mereka, seperti halnya pertama kali ia kesitu, Baru Klinthing pun diusir lagi. Baru Klinthing pun mengambil sebatang lidi, lalu ditancapkanlah lidi itu di tengah-tengah keramaian di atas tanah.

“Wahai, kalian semua. Jika kalian merasa hebat, cabutlah lidi yang kutancapkan ini!” tantang Baru Klinthing.

Merasa diremehkan, warga pun beramai-ramai hendak mencabut lidi itu. Mula-mula, para anak kecil disuruh mencabutnya, tapi tak seorang pun yang berhasil. Ketika giliran para kaum perempuan, semuanya tetap saja gagal. Akhirnya, kaum laki-laki yang dianggap kuat pun maju satu persatu. Namun, tak seorang pun dari mereka yang mampu mencabut lidi tersebut.

“Ah, kalian semua payah. Mencabut lidi saja tidak bisa,” kata Baru Klinthing.

Baru Klinthing segera mencabut lidi itu. Karena kesaktiannya, ia pun mampu mencabut lidi itu dengan mudahnya. Begitu lidi itu tercabut, suara gemuruh pun menggetarkan seluruh isi desa. Beberapa saat kemudian, air menyembur keluar dari tanah bekas tancapan lidi itu. Usai mencabut lidi, Baru Klinthing segera berlari menemui Nyi Latung yang sudah menunggu di atas lesung yang berfungsi sebagai perahu.

Semakin lama semburan air semakin besar sehingga terjadilah banjir besar. Semua penduduk kalang kabut hendak menyelamatkan diri. Namun, usaha mereka sudah terlambat karena banjir telah menenggelamkan mereka. Seketika, desa itu pun berubah menjadi rawa atau danau, yang kini dikenal dengan Rawa Pening. Setelah peristiwa itu, Baru Klinthing kembali menjadi naga untuk menjaga Rawa Pening. Konon disebut rawa pening karena air dirawa kala itu sangatlah bening, maka disebutlah dengan rawa pening.

* * *

Penulis : No See
Editor : Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here