Oleh: Bang sad

Bulan suci Ramadhan telah tiba. Sudah setengah tahun lamanya aku tak pulang. Aku sudah rindu dengan keadaan kampung halamanku. Aku rindu dengan candaan Kang Sarmin ketika ronda malam, Jalil yang suka ngajak mancing di sungai, dan sama keluargaku terkhusus orang tua ku yang sudah menyuruhku pulang dua bulan lalu. Tapi bagaimana aku bisa pulang jika seluruh tugasku belum selesai.

Sebenarnya aku sudah mengatur tanggal untuk aku pulang, tapi keadaan berkata lain. Selalu saja ada kabar dadakan di mana aku harus datang dan tidak bisa diwakilkan. Karena selama setengah tahun ini aku yang mengurusi proyek bangunan yang harus goal dalam kurun waktu satu tahun.

Pak Ardi yang kini sebagai direktur utama perusahaan tidak mau mengecewakan pelanggannya. Maka dari itu aku yang dipercaya pak Ardi untuk menghandle proyek yang sedang berjalan ini.

Alhamdulillah selama tiga tahun silam, aku bekerja di perusahaan ini dengan doa orang tua dan kerja kerasku selama ini, aku sudah menyelesaikan 2 proyek dengan memuaskan. Itulah alasan pak Ardi memberiku kepercayaan untuk mengerjakan proyek ini, dan pak Ardi pun berjanji bila hasil kerjaku ini lebih memuaskan maka aku akan dijadikan asistennya.

***

Pagi ini aku harus berangkat ke kantor lebih awal, karena kemarin aku dikabari bahwa perusahaanku akan bekerjasama dengan perusahaan lain untuk mempercepat pembangunan proyek gedung. Setelah sahur sudah siap siap berpakaian rapi untuk pergi ke kantor, karena perjalanan dari kosku sampai kantor lumayan jauh, sedangkan aku hanya memakai motot butut, aku memutuskan salat Subuh di masjid pinggir jalan biar tak tergesa-gesa saat perjalanan.

“Pagi sekali kau berangkat mat,” seloroh Satpam proyek Pak Anton menyapaku. “iya Pak Anton, ada meating dengan perusahaan lain” jawabku seadanya.

“Owalaaahh… Yasudah Mat, silakan”. “Iya pak. Permisi ya… Saya mau ke ruang Pak Ardi dulu,” aku berlalu meninggalkan Pak Anton.

Pak Anton memang begitu, ia sangat ramah dengan semua pekerja di sini. Aku sempat heran dengan Pak Anton. Padahal yang datang lebih awal Pak Anton kenapa saya dianggap lebih pagi dengannya.

Sambil menunggu meeting dimulai aku sudah berbincang-bincang dengan pak Ardi terkait kelanjutan proyek. Aku pun menunjukkan beberapa data dan analisisku tentang proyek tersebut. “Yaa… bagus mat, nanti Rahmat mempresentasikan perjalanan proyek ke depan bagaimana dan apa saja langkah-langkah kita, jangan lupa sebaik mungkin kau tampilkan ya”. “Siap pak, InsyaAllah saya usahakan sebaik mungkin”.

***

Tepat pukul 12.00 siang meeting selesai dan berjalan dengan lancar. Aku bisa sempurna dalam presentasi. Hebatnya perusahaanku dengan perusahaan lainnya lansung memutuskan deal dalam bekerjasama. “Rahmat, terimakasih sudah bantu perusahaan ini,” perasaan bahagia mengembang di wajah Pak Ardi. “Iya pak sama-sama,” timpalku.

Alhamdulillah, aku bersyukur hari ini aku sangat beruntung. Tugasku sudah selesai dan aku bisa pulang ke kos lebih awal.

“Loh Bu Jum, tumben di depan kamar saya”. “Ehh… Rahmat, tumben datang siang biasanya malam kok”. “Ohh iya Bu Jum, tadi ada rapat tapi kebetulan selesai awal”. “Owalah… ini ada surat untukmu, tapi Bu Jum nggak tau dari siapa, ayo dibuka,” ajak Bu Jum.

Assalamualaikum

Anakku Rahmat,

Lee… wes setengah tahun kok gak ono kabar kanggo emak bapak, ditelfon mbakyu mu kok gak iso lee… Saiki piye kabarmu…bapak emak kangen…kang Sarmin, Jalil nakokno koe kok ratau muleh lee… muleh kapan lee…nek gak muleh yo gak opo opo…tapi ojo lali bapak karo emak yo… pesen e emak ojo lali wethon, ojo lali akhirat. Cukup semene wae yo lee…

Bapak & Emak Rahmat

Wassalamualaikum…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here