Puasa Sebagai Etika Pembebasan

0
152

Oleh: Abdullah Faiz

“Jika kita muslim terhormat maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa” – KH Abdurrahman Wahid

Ramadhan adalah bulan yang sangat ditunggu tunggu oleh umat islam dibelahan dunia ini, termasuk indonesia dengan jumlah muslim terbesar sedunia. Bagi ummat islam momentum bulan Ramadhan adalah saat saat penting untuk bersilaturahim dan saling menjaga perasaan antar kelompok masyarakat.

Tradisi silaturrahim pun dilakukan dengan para pendahulu yang sudah meninggal dunia melalui ziarah ke makam mereka , oleh karena itu makna puasa memiliki makna yang amat relevan bila di Artikan sebagai ajang ibadah perdamaian dan pembebasan lahir dan batin.

Pesan perdamaian

Indonesia di tengah ancaman intoleransi baik dalam hubungan antar ummat beragama atau antar kelompok yang sedang memanas pasca pilpres, sejatinya di bulan ini mampu mendinginkan jiwa yang berkobar akibat dari ambisi tertentu. Semangat dan kesadaran keberagaman bukanlah langkah kongkrit untuk saling membenci dan langkah konflik yang berkelanjutan.

Setidaknya banyak pesan perdamaian yang sering sekali diajarkan oleh orang tua kita dan selalu menjadi peringatan di bulan puasa sepertihalnya, “tidak boleh marah, tidak boleh dendam saat puasa nanti puasanya batal”. Pesan itu sangat melekat pada hati anak anak yang baru memulai belajar puasa. Apabila kita lihat dalam konteks syariat tidak ada satupun redaksi yang menyebutkan dendam atau marah termasuk hal yang membatalkan puasa.

Dalam pembahasan ini dengan sederhana ada pesan damai dan pesan moral yang ditanamkan sejak dini oleh para orang tua kita. Tujuannya hanya tidak ingin menodai bulan yang suci ini.

Ritual Puasa di samping didefinisikan sebagai menahan lapar dan haus juga didefinisikan menahan amarah dan dendam karena dengan menahan amarah dan dendam akan lebih memudahkan untuk saling memaafkan.

Sebagaimana tersurat dalam Al Quran Surat Ali Imran ayat 134. Memaafkan didahului dengan menahan amarah. Karena orang yang tidak bersedia memaafkan kesalahan orang lain biasanya masih memendam amarah atau menyimpan dendam.

Refleksi terhadap nilai kemanusiaan

Dalam berpuasa kita dianjurkan untuk selalu menebarkan kebaikan dalam aktifitas hidup keseharian. Kebaikan itu adalah kristalisasi dan refleksi seorang hamba terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Idealisme kebaikan dapat terlihat saat kita bisa menghargai orang lain yang tidak berpuasa. Entah karena mereka non muslim atau orang muslim yang sedang udzur puasa sehingga mereka tidak berpuasa.

Ketika itu pula hati nurani tergugah sehingga lahir empati ,dengan segenap akal dan jiwa bersungguh sungguh melakukan upaya pembebasan (liberasi) .orang yang berpuasa dengan akal dan hati akan memahami kehidupan sebagai ajang melaksanakan amal sholeh dan menebarkanya agar bermanfaat untuk orang lain.

Pada dasarnya puasa dilaksanakan bukan hanya berkutat pada menahan diri dari rasa lapar dan dahaga tapi juga menahan diri dari amarah, serakah, dan perkara hati lainnya dengan berupaya mengenal hakikat kemanusiaan di dalam diri.

Dalam konteks ini puasa akan dijadikan sebagai sekolah rohani dan prosesi aktif menemukan posisi eksistensi diri di tengah kehidupam masyarakat sekitar .sehingga nilai kolektif terbangun ketika kita mampu menangkap hakikat kemanusiaan dalam melaksanakan ibadah puasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here