Oleh: Annisa Yuliani

Bulan Ramadhan adalah bulan ladang pahala bagi umat Islam, di mana di dalamnya terkandung serangkaian ibadah-ibadah yang apabila dikerjakan akan memperoleh pahala berlipat-lipat ganda.

Biasanya pada bulan ini manusia khususnya umat Muslim lebih merefleksikan sisi spiritual mereka, apalagi di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Semua umat menantikan malam Lailatul Qodar atau malam seribu bulan.

Selain menahan lapar dan haus puasa juga mengharuskan kita untuk mengontrol emosi. Serta mengatur kita untuk lebih sabar dan tenang saat menghadapi masalah. Puasa dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Lalu pentingkan rasa toleransi antara umat yang puasa dan tidak.  

“Menghormati orang yang sedang berpuasa”. Kenapa harus menghormati orang yang sedang berpuasa. Seperti yang digemborkan masalah toleransi beragama, maka jawaban mengapa harus menghormati orang yang berpuasa adalah jawaban yang tepat. Seperti yang kita tau jenis ibadah adalah hubungan kepada Allah dan hubungan kepada sesama manusia serta hubungan kepada alam.

Umumnya masyarakat lain agama sudah paham bagaimana cara mengormati umat Muslim yang sedang berpuasa. Mirisnya rasa toleransi sangat minim bagi masyarakat Islam sendiri, yang tidak menjalankan ibadah puasa, entah itu laki-laki ataupun perempuan. Yang lebih menyedihkan lagi adalah warung makan di sepanjang jalan yang tetap buka 24 jam secara blak-blakan tanpa rasa bersalah dan mengerti bahwa ini adalah bulan ramadhan.

Kerap kali terlihat bagaimana tanpa bersalahnya mereka menjalani hari seperti makan, minum dipinggir jalan tanpa ada rasa malu atau toleransi kepada manusia lain. Bisa dipastikan akhlak umat masa kini sudah luntur, dan ibadah yang dilakukan bernilai masing-masing. Ini bisa dinamakan individualis dalam ibadah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here