PT Garuda Indonesia sepertinya tengah menghadapi badai permasalahan yang tidak kunjung henti.

Setelah beberapa waktu yang lalu Dirut Garuda Indonesia ditetapkan sebagai tersangka dan diisukan terlibat kartel, kini maskapai penerbangan plat merah itu harus menghadapi sebuah permasalahan lagi.

Berawal dari postingan instastory @rius.vernandes pada sabtu (13/7/2019), sontak membuat khlayak ramai memperbincangkan maskapai nasional Indonesia tersebut. Dalam postingannya, Rius memperlihatkan bagaimana pelayanan yang diberikan oleh Garuda Indonesia dalam penerbangan bussiness class. Tentunya ekspektasi kita pasti akan membayangkan pelayanan yang cukup mewah, sebab sudah pasti harga tiket untuk kelas tersebut juga lebih mahal.

Namun hal ini terpatahkan, tidak selamanya yang mahal akan baik. Dalam rute penerbangan yang Rius naiki yaitu Sydney-Denpasar-Jakarta dia mendapatkan sebuah pelayanan yang cukup mengecewakan. Sebagai pengguna moda transportasi udara, Rius menjelaskan, baru kali ini mendapatkan pelayanan berupa daftar menu makanan yang ditulis tangan di secarik kertas. Pernyataan tersebut juga disampaikan Oleh rius dalam unggahan Vlog-nya 2 hari yang lalu.

Dalam unggahan vidoenya tersebut Rius juga menunjukkan reaksi penumpang lain atas permasalahan tersebut. Selain menu yang ditulis tangan, rius dan dua warga negara asing dalam video berdurasi 21.08 menit tersebut mengungkapkan kekecewaan atas ketersedian minuman wine, red wine, dan sampanye yang tidak ada. Dampaknya kedua turis tersebut memberikan pernyataan tidak akan lagi memprioritaskan maskapai dengan lambang burung tersebut untuk bepergian.

Dalam sela-sela videonya, Rius tidak serta merta hanya memberikan kitik atas kurangnya pelayanan yang diberikan oleh maskapai. Rius juga mengapresiasi betapa ramahnya sikap dan pelayanan yang diberikan oleh para Pramugari yang bertugas saat itu.

Sebagai penumpang yang senang mereview pesawat, Rius bisa memaklumi dan tidak terlalu mengambil hati. Anehnya ramai-ramai komentar yang diberikan oleh viewer baik Instagram maupun Youtube Rius Vernandes justru membuat pihak PT Garuda Indoensia kebakaran jenggot.

Pihak PT Garuda Indonesia melaporkan kedua vlogger Yaitu Rius Vernandes dan kekasihnya atas dugaan pencemaran nama baik. Justru layaknya senjata makan tuan, Garuda Indonesia dianggap sebagai maskapai anti kritik atas pelaporannya tersebut.

Salah seorang Influencer yang juga sering melakukan review kendaraan maupun brand ikut memberikan statementnya melalui sebuah cuitan di akun twitter @shitlicious. Pada cuitan berantainya tersebut, Alit Susanto mengritik jika sebuah brand maupun maskapai dan sejenisnya, jika tidak ingin mendapat kritik semestinya bisa memastikan produknya sudah optimal alias kualitas yang sangat bagus.

Alit menegaskan mereview bukan berarti sebuah tindakan untuk sekadar mengritik atau bahkan untuk mencemarkan nama baik. Logika yang ingin Alit sampaikan adalah, pencemaran nama baik itu jika pihak yang dituduh kurang baik tanpa disertai dengan adanya sebuah bukti.

Sebagai pengawas penyelenggaraan pelayanan publik, Ombudsman tidak luput juga memberikan komentar mengenai masalah tersebut. Mengutip pernyataan Alvin Lie anggota Ombudsman yang dimuat oleh Theworldnews.net, pihaknya menyayangkan bagaimana buruknya manajemen krisis yang diperlihatkan oleh PT Garuda Indonesia.

Menurut Alvin, pihak maskapai nasional tersebut terlalu gegabah dan justru mengambil tindakan dari informasi yang masih simpang siur. Jelasanya, menurut Alvin, tindakan pelaporan yang dilakukan Oleh PT Garuda Indonesia tersebut adalah kelemahan perusahaan dalam menyampaikan informasi ke publik. Namun Alvin juga menggarisbawahi terkait pelaporan dua vlogger yang diperkarakan tersebut bukan merupakan ranah ombudsman.

Dengan adanya masalah ini apakah masih relevan jika tagline The Airlines of Indonesia disandang oleh maskapai nasional ini? Sudah mahal anti kritik pula. Bisa jadi semakin kompleksnya permasalahan moda transportasi udara nasional akan membuat masyarakat berlaih pada suatu alat yang cukup prestisius yaitu pintu ke mana saja Doraemon.

Penulis : M. Rifqi A.

Editor : Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here