Oleh: Ahmad Zainul Fuad

Selalu berakhir sama, setiap orang yang telah sukses dan punya pengaruh akan mengumbar janji. Lalu ia lupa dengan semua yang pernah dia janjikan, dan akan ingat kala susah. Inilah suratan tabir yang disuratkan tuhan pada diri manusia kala punya kedudukan. Laki-laki itu dengan sabar dan tekun penuh empati membangun seseorang agar menjadi sesuatu yang ia harapkan bisa membangun bangsanya, ia selalu menanamkan moral di setiap ilmu yang ia ajarkan. Tapi, laki-laki itu tak pernah menjumpai moral pada orang-orang yang telah ia besarkan dan ia didik. Muridnya menjadi congkak dengan ilmu dan kebaikan gurunya, ia lupa dengan laki-laki yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Orang-orang itu juga tidak jarang mempermalukan laki-laki itu di hadapan teman-temanya yang duduk di kursi penting negara.

“Sudah banyak yang berhasil”, rajuk rekan sejawat laki-laki itu.

“Mereka cukup pandai menyerap pelajaran yang kamu sampaikan, dan kau tidak pernah sia-sia mendidik mereka, mimpi Soekarno sang idolamu benar-benar akan terwujud. Manusia Indonesia berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala”.

Setelah bertahun-tahun ia mendidik banyak manusia, mereka banyak berkemajuan baja, bersemangat elang rajawali dan berjiwa api yang menyala-nyala, tetapi belum ada yang hatinya putih. Gerakan yang dicanangkan revolusi ala Soekarno sudah ia lakukan, seperti gerakan pemberantasan buta huruf, gerakan mendisisplinkan dan mengefisiensi kerjasama, pembangunan rohani dan penguatan jiwa nasionalisme. Sudah ia lakukan, namun ketika melihat realitanya jiwa individualisme, nihilisme dan sinisme tetap ada, seharusnya cara berfikir mereka berubah.

Laki-laki itu mulai putus asa, yakin usahanya selama ini telah sia-sia. Tidak ada yang berarti semua yang telah ia perjuangkan, pupus sudah harapannya pada masa depan. Terbayang olehnya negara yang dipimpin oleh orang pandai namun menjerumuskan, orang yang pandai bermain kata-kata tujuannya untuk menipu, para staf ahli yang kerjaanya membodohi penguasa yang jujur, para penegak hukum yang pura-pura adil, keadilan itu tinggal sebatas wacana, kesejahteraan sebatas ucapan para juru kampanye, yang ada hanya, dehumanisasi, penderitaan, kesengsaraan, kebodohan dan akhirnya negara akan mati pelan-pelan.

Namun ia masih tetap mengajar orang-orang yang mau belajar dan berguru padanya, setidaknya masih ada manusia yang berhati putih sehingga negara ini tidak akan hancur begitu saja. Sering ia melamun akankah suatu fase orang yang diajarnya menjadi manusia yang baik, manusia yang memang ditakdirkan leluhur untuk merawat tanah pertiwi, orang yang seperti Soekarno atau bung Hatta, orang yang berhati baja layaknya Tan Malaka, atau berjiwa api yang menyala-nyala layaknya Gajah Mada?.

Laki-laki itu pun jadi hafal dengan tipikal orang, sudah beribu-ribu orang yang mendatanginya dan berguru padanya, ada yang cuma satu kali seumur hidup, seminggu sekali, satu bulan sekali atau ketika ada masalah saja, tidak jarang ada yang menemui dia ketika musim politik. Ia pun acap kali dimintai wejangan, dan menjadi penasihat penting dalam tataran pemerintahan. Ia yang memberi wejangan untuk membikin Indonesia cerdas dan jaminan kesehatan nasional agar rakyat sejahtera. Beberapa orang yang berguru padanya kebanyakan hanya mencari muka dan simpatinya, sebab teman sejawatnya banyak yang menduduki kursi penting di pemerintahan dan lainnya. Di pulau Komodo, temannya seorang sultan. Di pulau Borneo temannya seorang kepala suku. Dan jangan tanya tentang temannya di tanah Jawa. Hampir semua orang penting mengenalnya, staf kepresidenan dan jajaran menteri banyak yang menaruh hormat padanya.

“Pak, benarkah orang lain tidak benar-benar peduli dengan diri kita? Hanya diri kitalah yang dengan jujur dan ikhlas peduli dan menerima kita apa adanya”, tanya seorang murid.

“Jika kata Sartre manusia mengatakan hal-hal baik tentangmu bukan apa yang mereka pikirkan sebenarnya, kadang karena alasan sopan santun dan kadang karena mereka tidak tahu bagaimana mereka harus bersikap”

“Maksudnya bagaimana pak?”

“Jadi mereka peduli atau baik kepadamu mungkin karena alasan sopan atau mereka tidak tahu mesti berbuat apa kepadamu”.

Sejak itu ia mulai berniat untuk menjauh dari khalayak umum, ia mengasingkan diri dan pergi ke lereng gunung di mana ia dulu punya tanah warisan orang tuanya. “Mungkin benar hanya diriku sendiri yang bisa benar-benar peduli pada diriku”, kata hati lelaki itu. “Mungkin takdir hidupku di tanah warisan orang tuaku yang hendak aku jual untuk keperluan para aktivis”.

Lelaki itu pun menjual rumahnya yang di ibu kota. Dia juga menjual rumahnya yang di kota-kota lainya, seperti Semarang, Surabaya, namun ia tidak menjual tanahnya di Bali. Sebab di sana masih ada orang yang bergantung pada tanah itu. Keluarga itu menggantungkan hidupnya dari menjual bunga lalu keuntungan 35% akan diberikan kepada lelaki itu.

Setelah satu minggu, dan benar-benar meninggalkan ibu kota, awalnya ia ragu sebab ia harus menembus belantara. Ia menjadi pecinta alam, menggendong ransel setelah turun di terminal lereng gunung tertinggi di Jawa. Dibuka ingatannya tentang tanah yang pernah diwariskanya, dekat sungai dan di situ ada pohon beringin putih yang ia tanam dari hadiah sultan Jogja. Kala ia mencari tanahnya ia mengambil rute untuk menyusuri sungai, lelaki itu tak jarang bermalam di hutan. Paling sering ia tidur di tepi sungai beratap tenda seperti seorang pramuka. Ia merasakan makna hidup yang sesungguhnya, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Udara yang segar, tanpa polusi dan pemandangan yang indah. Tapi, kakinya sudah tidak bersahabat lagi setelah berjalan ratusan kilometer, dicek persediaan logistik juga sudah mulai habis. Namun tanahnya tak kunjung ketemu, sudah berhari-hari ia di hutan namun pohon beringin putih tidak juga terlihat.

Lelaki itu mulai putus asa. Kadang muncul fikiran buruknya, apakah Tuhan menakdirkannya mati di hutan, ketika ia sudah tidak punya harapan untuk hidup. Ia terus menelurusi belantara, lewat jalan setapak yang penuh dengan pohon perdu di kanan kiri, seperti seorang pengelana yang sudah tidak punya tujuan. Tujuh kupu-kupu ungu yang terbang mengitari pohon jambu Alas dengan buah merah ranum menyambutnya.

Laki-laki itu dengan rasa lapar, tanpa pikir panjang dipanjatnya pohon jambu itu. Rasa lapar sedikit terobati, naluri survivalnya menuntun ia untuk memetik jambu itu dan dimasukannya ke dalam tas. Namun laki-laki itu penasaran kenapa kupu itu masih di sekitarnya, ia terbang sedikit merendah dan berputar sebelum akhirnya beriringan menjauh, memberi tanda agar lelaki itu mengikutinya. Laki-laki itu sedikit malas untuk melangkah dan kupu itu juga terbang melambat. Jika laki-laki itu melangkah bergegas, kupu-kupu itu mempercepat gerakan melaju ke depan.

Sampai pada sebuah tempat dengan sabana luas, kupu-kupu itu kembali terbang merendah seperti sebuah tanda ingin menyampaikan sesuatu. Lelaki itu mendekat dan dilihatnya sebuah mata air yang darinya mengalir air segar, dengan batu-batu besar berserakan. Dari ujung seberang datang seorang perempuan tua memikul kayu bakar. Lelaki itu bertanya, “adakah pemukiman warga dekat sini, nek?”.

Si nenek mencoba menegakan tubuhnya yang bungkuk. “Di ujung mata air ini nanti ada desa Banyu Mili, kira-kira tiga kilo dari sini nak”, ujar si nenek sambil mengangkat tangannya yang sudah keriput menunjuk arah timur.

Kupu-kupu itu kembali terbang dan mengitari sebuah pohon yang menjulang tinggi, seakan-akan menyarankan laki-laki itu memandangnya. Dilihatnya ke atas, terlihat pohon beringin putih yang pernah ia tanam waktu itu. Ini tanah warisan orang tuanya. “Tidak salah lagi ini tanah itu”, pikir lelaki itu. Walau sudah nampak ada perubahan namun ia masih sangat hafal dengan pohon beringin yang ia tanam. Ia tidak akan pernah lupa dengan dahan yang bercabang lima itu, ia namai Panca.

Laki-laki itu menuju pohon itu dan meletakanya ransel di bawah pohon. Dipandanginya pohon itu sambil memastikan benar-benar pohon yang ditanamnya 20 tahun yang lalu. Matahari hampir terbenam maka bermukimlah ia di rumah warga dengan berniat mencari bantuan untuk membuat rumah di tanah warisanya.

*****

Mulailah hidup baru lelaki itu di tanah warisan orang tuanya. Dibangunnya rumah dengan kayu-kayu dari hutan. Laki-laki itu sangat gembira tidak menyangka semua tumbuhan yang ditanamnya tumbuh. Dia pun berinisiatif ingin bertani dan mulai merawat semua tumbuhan yang telah besar itu. Akhirnya ia minta kepada kepala desa itu untuk menjadi bagian dari warganya.

“Ooo silahkan, tidak apa-apa. Nanti saya akan uruskan surat-suratnya”, ujar kepala desa yang seluruh rambut, janggut dan kumisnya telah berganti warna.

Lelaki itu kini mulai memesan pupuk kandang warga yang tidak diberdayakan. Wargapun sangat senang. Tidak jarang ada warga yang bekerja di ladang baru lelaki itu, para warga banyak simpati dan menaruh hormat kepadanya. Dengan ilmu dan pengalamanya ia mengolah tanah warisan itu menjadi perkebunan bermacam-macam, mulai dari cengkeh, kopi, jeruk, pala, kemiri, ketumbar, dan bumbu dapur serta bermacam-macam buah.

Tahun ini dengan menegerjakan seratus orang ia berencana menanam 1500 pohon nanas, dan 1000 alpukat madu yang lembut dan lezat. Seiring pohon-pohonya tumbuh besar dan berbuah, ia pun berniat mencoba menanam buah lain seperti strawberi karena dirasa udaranya di sini cocok, maka diajaknya lima orang warga ke kota dan belajar bagaimana cara menanam dan merawat strawberi .

Berita tentang lelaki itupun pelan-pelan merayap menyebar. Panennya tidak pernah berhenti, ditambah lagi buahnya yang berkualitas karena tidak menggunakan bahan kimia memikat para bos-bos buah. Semua swalayan minta suplai buah kepadanya. Namun jiwa nasionalis lelaki itu masih ada. Ia pun tidak mau menjual buahnya pada pengepul, sebab dialah yang selalu mematian perekonomian negara dan sering menyiksa rakyat kecil. Maka matilah para pengepul.

Rumah lelaki itu sepanjang hari sesak orang, mulai dari pekerja kampung Banyu Mili sampai para bos-bos buah serta para pengunjung yang ingin membeli buah padanya. Mereka kadang mesti menunggu berhari-hari menunggu giliran untuk bisa merasakan buah yang tanpa bahan kimia itu. Banyak orang berkomentar bahwa buahnya, buah paling enak sedunia. Tapi tidak sedikit orang yang tidak suka dengan dirinya, mereka pun banyak menyebar berita buruk, dan menyebar hoaks.

Namun yang puas senantiasa mempromosikan buah di kampung sebelah sangat enak, buahnya juga sangat berkhasiat. Mereka berkabar kepada kerabat, mengajak orang-orang untuk menjaga kesehatan dengan cara memakan makanan yang sedikit bahan kimianya. Mereka berkumpul di rumah lelaki itu dan bercerita, serta berjalan-jalan mengelilingi kebun. Semua orang sepakat atas pandangan seorang rekan yang menjelaskan bahwa pohon itu pohon rahmat.

Sebab pohon itu berarti pohon yang membawa keberkahan. Karena banyak orang yang datang dan lama menunggu giliran, laki-laki itu pun berfikiran untuk menanam lebih banyak pohon lagi dengan fariasi yang bermacam pula, ia juga berniat ingin membeli lahan kosong yang ada di sebelahnya. Tujuh hektar dikiranya kurang luas untuk seribu variasi tanaman dengan satu variasinya sepuluh ribu pohon. Dari sinilah yang nantinya ia harapkan membuka lowongan pekerjaan, menyehatkan rakyat, dan sekaligus memajukan pendapatan negara. Kini jumlah pekerja yang terserap sejumlah lima ratus orang, mereka yang bekerja rata-rata punya penghasilan satu bulanya dua juta rupiah.

Makin banyak warga yang bekerja, lelaki itu semakin menaikan gajih mereka. Semua warga makin sejahtera dan perkebunan milik petani itu kini makin luas. Ia berniat menambah variasi tanaman namun ia merasa sudah habis jenis tanaman yang cocok dengan iklim dan keadaan di sini. Rumah lelaki itu telah menjadi sorotan dunia, bahkan banyak orang-orang asing melamar pekerjaan di sana dengan membawa ijazahnya bergelar doktoral, namun tidak ada sarjana Indonesia melamar pekerjaan di rumah lekaki tersebut. Orang-orang Indonesia kebanyakan memilih menjadi politikus praktis dan bekerja kantoran, mereka tidak ada yang berminat ke pertanian.

Hampir semua yang bekerja di rumah lelaki itu umurnya lima puluh tahunan, tidak ada anak muda yang mendaftar kerja di sana. Tidak ada regenerasi Indonesia yang bisa bertani, para pemudanya jarang yang bisa mencangkul, mengarit dan menanam. Para pekerja berbincang-bincang di rumah lelaki itu, mengapa anak kita tidak mau ikut kerja di sini. Mereka memilih merantau ke Jakarta dibanding bertani di daerahnya sendiri?

“Di Jakarta itu, semuanya terjamin karena ada BPJS, Kartu Indonesia Cerdas, dan dekat dengan presiden”, ujar seorang warga yang istrinya baru melahirkan.

“Tukang bubur saja di sana bisa naik haji”, ujar kang Manto yang sering lihat sinetron.

“Di Jakarta itu enak kang, apalagi bisa jadi pejabat pemerintah atau wakil rakyat. Lihat DPR aja bisa gonta-ganti mobil tiap hari, harga mobil gak murah loh?”, ucap Jarmin.

Laki-laki yang tadinya sedang duduk melamun di depan teras rumah tiba-tiba tersadar dan termenung. Tak terasa hampir sepuluh tahun ia meninggalkan ibu kota. Ia sudah hampir satu dasawarsa di tanah ini. Ia menyaksikan alpukatnya sudah berbuah kembali, starawberinya sudah siap dipasarkan, pala dan cengkeh sedang berbunga. Ia pun mulai menyadari betapa bedanya tumbuhan dan manusia, ketika kita mengasihi dengan tulus dan tanpa pamrih ia akan membalas kasih dengan sangat luar biasa. Ia tidak pernah mengkhianati siapapun, berbeda dengan manusia yang selalu egois inginnya selalu diberi ketika telah besar maka tumbuh sikap congkaknya, namun kala tumbuhan itu makin besar dan lebat, maka semakin banyak yang ia kasihi. Ketika semakin rindang maka ia akan semakin menyejukkan, berbeda dengan manusia kala ia semakin rindang pamornya semakin semena-mena ulahnya.

Lama ia berfikir hingga ia menemukan teori baru. Filosofi tumbuhan, ia berniat mengajarkan filosofi tumbuhan itu pada anak-anak muda yang ada di desa Banyu Mili dan sekitarnya sambil langsung praktek bertani, lama ia memikirkan hal itu. Berhari-hari ia mulai menulis buku sebagai bahan kurikulum dan memudahkan anak-anak belajar. Di buku itu ia juga membuat seperti komik agar anak-anak senang dan tidak bosan dengan tulisan yang memberatkan saat dibaca. Dalam menyiasati tulisan ia juga menggunakan bahasa sehari-hari tanpa ada sedikitpun bahasa ilmiah. Sebab bahasa ilmiah atau bahasa Inggris baginya bahasa yang digunakan untuk keren-kerenan saja.

Setelah selesai mengarang buku, laki-laki itu mendatangi kepala desa yang tampilannya tak banyak berubah dengan janggut, kumis dan rambutnya berubah warna dengan alisnya juga berwarna putih. Penuh semangat kepala desa itu bercerita, para pemuda merantau ke kota.

“Semua?”

“Semuanya, bahkan mereka berencana memboyong keluarganya”

“Untuk apa?”

“Kata mereka, agar mereka lebih sejahtera di kota, dengan kartu Indonesia Pintar yang menjamin anak-anaknya, dan BPJS yang menjamin keluarganya”

“Bapak percaya omongan mereka?”

“Si Karno yang baru bekerja satu bulan di Jakarta, pulang membawa keluarganya supaya pindah ke Jakarta menggunakan mobil pik up dari Jakarta, dan para pemuda akhirnya banyak yang merantau ke Jakarta”.

Laki-laki itu pulang dengan perasaan kacau. Ia menyesal telah mengajar banyak manusia di ibu kota, dia yang menjadikanya mereka menjadi public speaker, menjadi praktisi-praktisi politikus, ia lupa berpamitan pada para muridnya yang mungkin ketika mengangkatnya menjadi dewan penasihat masih mau menerima masukannya. Inilah ilmu yang tanpa kontrol bisa sangat berbahaya, ia menerima karma buruk.
Tapi laki-laki itu tak kuasa menyembunyikan kekesalanya. Ia sangat dongkol ketika melihat manusia, maka benarlah bahwa tumbuhan lebih baik dari manusia dalam satu sisi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here