Pertemuan Pertama di Kepulanganku

0
50
Sumber: Dream

Oleh: Arifan

Sudah satu setengah bulan, kuharap-harapkan kiriman dari orang tua. Kutunggu-tunggu pesan whatsapp dari orang tua dan juga kakakku. Pesan-pesan semacam, “Jak, kau masih punya uang apa tidak?” tak kunjung muncul pada deretan pesan whatsapp-ku. Tidak biasanya sampai begini lama.

Sempat aku tanyakan pada kakakku lewat pesan whatsapp beberapa waktu lalu.

“Mbak, kira-kira bapak punya uang atau tidak sekarang ini?”

Kakakku menjawab, “Mbak nggak tahu, Jak, soalnya belum juga kelihatan bapak pergi panen ke ladang.”

Dan langsung kujawab, “Ya sudah tak apa Mbak, sekedar menanyakan saja.” Aku tahu, sebenarnya kakakku paham apa maksudku menanyakan itu. Lalu,

“Uangmu habis, Jak?” iya mbak, iya, uangku habis. Sudah lama uangku habis. Bulan lalu aku pulang, tidak dikasih uang sama bapak. Untung saja sisa gaji dari kerja sampinganku masih ada. Ya walaupun tak seberapa, tapi setidaknya masih bisa buat beli bensin. Tapi sekarag sudah benar-benar habis, dan banyak keperluan, Mbak. Sampai ngutang dari uang kas kelas. Tapi yang terjadi,

“Oh, ndak, Mbak, ndak. Uangku masih ada, yang penting masih cukup buat beli bensin.”

“Benar begitu, Jaka?” tidak benar, Mbak, tidak.

“Iya, Mbak, benar.” Tak apalah berbohong sedikit. Lalu aku melanjutkan untuk mengalihkan pembicaraan, “Oh iya, bagaimana keadaan bapak dan ibu? Kuharap mereka baik. Lebih-lebih ibu yang belum lama ini sakit.” Ya, ketika aku pulang bulan lalu, itu karena ibuku sakit.

“Alhamdulillah baik, Jak. Ibu sudah semakin membaik.”

“Alhamdulillah kalau begitu. Sampaikan salamku pada mereka, semoga selalu dalam lindungan Sang Kuasa. Mbak sekeluarga juga semoga baik-baik.” Berakhirlah kirim kabar kami dengan pesan ini.

Aku bertambah bingung, harus bagaimana lagi? Sudah tak terpikir olehku untuk minta uang pada orang tua, keadaannya tidak memungkinkan. Tapi sebenarnya apa yang terjadi di rumah? Hingga seribu rupiah pun tak bisa mengirim? Apa orang tuaku mengira di sini aku sudah begitu nyaman dan hidup enak? Ya, kuliah sambil bekerja dengan gaji yang tak seberapa, dan mendapat jatah makan dua kali sehari, serta tempat tinggal dari bosku.

Aku akan memahami jika begitu anggapan mereka. Tapi di awal perkuliahan ini, banyak kiranya uang yang harus kukeluarkan. Tagihan-tagihan seperti uang kas, seragam Orda -Organisasi Daerah, seragam HMJ-Himpunan Mahasiswa Jurusan, buku-buku kuliah yang diharuskan beli, motor yang harus segera diganti oli, iuran ini, iuran itu. Duh, Gusti, harus bagaimana aku?

Sampai akhirnya awal bulan di bulan maret 2019 tiba, gaji dari kerja sampinganku di kantin kampus aku terima hanya separuh saja. Dua bulan yang lalu, waktu pembayara UKT -Uang Kuliah Tunggal, aku bon pada bos untuk membayar UKT-ku. Kesepakatannya, aku mengembalikannya dengan dipotong gaji hingga selesai bonku itu.

Hanya beberapa hari saja uang gajianku sudah habis. Boros? Iya memang bisa dianggap begitu. Uang itu langsung kugunakan buat membayar hutangku pada kas kelas yang sampai seratus lima puluh ribu, lalu buat beli buku, uang muka seragam Orda dan seragam HMJ. Empat ratus ribu, ludes dalam tiga hari, dan sisanya hanya cukup untuk beli bensin tiga liter.

Di pertengahan bulan maret, aku benar-benar merasakan kebingungan. Aku ingin pulang, tapi sudah tak ada uang. Meghutang teman? Ah, aku kira mereka juga membutuhkannya. Bon pada bos? Aduh, bon UKT-ku saja belum lunas. Tapi kali ini aku benar-benar ingin pulang ke kampung halaman. Kerinduanku pada ibu, bapak, kakek, nenek, kakak, semua-muanya yang di sana sudah harus kucurahkan. Hingga dengan berat hati, aku hubungi kakakku untuk minta uang buat ganti oli motor dan beli bensin untuk pulang. Beruntung aku diberinya uang seratus ribu. Pas.

Akhirya pada taggal 16 aku pulang, rencananya hanya sampai tanggal 17. Saat itu bertepatan dengan hari sabtu dan minggu. Aku pun pulang membawa kerinduan yang begitu menggemaskan. Disertai perasaan yang tidak cukup tenang, bayangan-bayangan ibu yang sering datang di pikiranku. Apakah ibu benar-benar sudah sehat? Sudah sembuh benar dari sakitnya? Sudah bisa beraktivitas seperti biasanya? Sudah bisa memasakkan aku sayur jika aku sampai di rumah nanti? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar terus dalam benakku di sepanjang perjalanan pulang.

***

Udara segar pedesaan mulai kuhirup, para ibu telah menyelesaikan tugas dapurnya. Mereka sedang beristirahat bersama di depan salah satu rumah warga, sambil ngerumpi dan duduk berderet saling mencari kutu. Ketika aku lewat didepan mereka, mereka menyambutku dengan begitu sejuk seperti suasana desa siang itu, serta ramah dan penuh penghormatan.

Aku langsung bergegas meuju rumah. Sampai rumah, kudapati rumahku sepi. Sudah pasti bapak sedang pergi berladang karena cuaca hari begitu cerah. Sebentar aku masuk rumah, kudengar suara ibu dari kamarnya memanggilku, aku pergi ke kamar ibu.

Kubuka pintu dan segera ibu mengangkat tubuh dari tidurnya, lalu menyambutku dengan seyuman di bibirnya, hanya senyum di bibir, dan senyuman yang begitu memaksa namun kurasa itu benar-benar tulus dari hati. Meskipun begitu, sayup mata dan garis hitam di lengkungan mata bagian bawah itu tidak bisa ia sembunyikan. Ya, ibu masih terlihat sakit dan tak ada yang memberitahuku tentang hal itu.

Ibu mengulurkan kedua tangannya dan aku tahu maksudnya. Kupeluk ibu, aku ciumi ia. Kutumpahkan segala kerinduanku pada air mata bahagianya. Aku tak kuasa menahan ibaku pada ibu. Aku pun ikut menangis dan lama sekali komunikasai batin kami. Seperti ada yang hendak ibu katakan, namun tak bisa ia keluarkan. Aku tahu hatinya sudah banyak berkata-kata, namun tetap saja ibu belum sanggup mengucapkan kata itu dari lisannya. Akhirnya aku paksakan untuk memulainya,

“Ibu apa kabar? Benar ibu sudah baik?” kataku sambil tersenyum meski mata tak menghentikan airnya.

“Iya, ibu sudah baik, Nak. Benar-benar baik, hanya tadi ingin istirahat sebentar sambil menunggumu pulang.” Senyum memaksanya kembali menghiasi wajah yang lesu itu. Aku juga tak begitu yakin ibu benar-benar sudah baik. Tapi ibu mana pun akan selalu menutupi sedihnya demi senyum sang anak.

“Kangen denganku, Bu?” masih saja aku tersenyum dan kali ini sedikit menggodanya juga. Aku berusaha membawa ibu pada suasana yang lebih santai.

“Kukira kau tak akan kembali lagi, Nak.” Jawab ibu balik menggodaku, dan melanjutkan, “Lama kau tak pulang. Tak rindu kau dengan ibumu?”

“Siapa yang tak rindu dengan ibu? Aku sangat merindukanmu, Bu. Tapi tak ada uang buat pulang.”

“Oh, maafkan ibu, Nak! Sungguh, maafkan ibu! Gara-gara ibumu sakit, bapakmu tak bisa kirimi kau uang. Uang hasil panen Labu Siam yang tak seberapa itu habis untuk berobat ibu. Tak enak jika harus merepotkan kakakmu terus-terusan. Dia sudah berkeluarga, pasti punya kebutuhan juga.” Ya, memang ketika ibu sakit, kakaklah yang sering merawatnya. Membawa ibu ke dokter dan membelikannya obat. Tidak seperti aku yang selalu mengharap-harap uang kiriman dari orang tuaku.

Ibu kembali memeluk aku erat-erat, dan tak henti-hentinya meminta maaf padaku. Seakan ia yang salah dalam segala sekenario Tuhan ini. Aku masih saja terdiam gamang. Sedih, sedih, sekaligus sadar, kurang lebih satu bulan setengah aku tidak diberi uang orang tuaku ternyata karena hal itu. Saat ini justru aku yang merasa bersalah. Karena kemarin-kemarin mengharapkan manisnya gula pada kepahitan hidup keluarga.

“Hampir setiap hari, Wonosobo hujan terus, Jak. Hingga bapakmu kesulitan hendak pergi berladang. Labu Siam yang seharusnya sudah bisa dipanen juga sering tertunda karenanya. Dan tak jarang banyak diantaranya yang berjatuhan karena terlalu matang. Perekonomian kita memang sedang seret, Jak. Semoga kau lebih memahami kenapa kami tidak memberimu kiriman bulan lalu.”

“Iya, Bu. Aku sangat memahaminya. Toh di sana aku masih bisa makan. Itu sudah sangat cukup, Bu.”

“Syukurlah kalau begitu, Nak. Prihatin bareng-bareng ya, Nak. Bapak dan ibumu mengusahakan dari sini, kau belajar sungguh-sungguh di sana.”

“Baik, Bu. Ibu harus lebih pandai sayangi diri, jaga kesehatan baik-baik!”

“Iya, Nak. Ibu akan lebih giat jaga kesehatan.” Jawabnya sambil tersenyum. Kali ini seyum tanpa paksaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here