Semarang, Justisia.com – Kesuksesan Desa wisata Umbul Ponggok dan Desa wisata Kandri menginspirasi banyak orang untuk lebih peka dan lebih berkontribusi bagi desanya agar nama desa yang selama ini terbelakang dapat menghasilkan perekonomian yang menggiurkan dan menyejahterakan masyarakat.

Hal itulah yang menjadi topik menarik pada Seminar Nasional guna memperingati hari ulang tahun yang ke 11  Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (FORSHEI) dengan tema “Revitalisasi Peran Pemuda dalam Menstimulus Kemajuan Desa” yang digelar di Aula Wisma Perdamaian Semarang, Rabu (3/7/2019) sekaligus peluncuran “Majalah Falah” dan buku riset “Indifes”.

Dengan digelarnya acara ini Ketua Umum FORSHEI Mohammad Ikhsan berharap agar para pemuda mampu menstimulus kemajuan desa masing-masing.

Dalam sambutannya, Taj Yasin Maimoen Wakil Gubernur Jawa Tengah yang diwakili oleh Adi Santoso, M.S.I selaku Kepala Bidang Pemberdayaan Desa memaparkan, sebanyak 14 kabupaten di Jawa Tengah masuk zona merah kemiskinan. Padahal Jateng masih punya banyak potensi untuk dikembangkan yang mampu mengurangi kemiskinan seperti pengembangan desa wisata. Pengembangan desa wisata merupakan cara tepat untuk menghasilkan pendapatan lebih pada desa. 

“Selain itu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) lebih ditingkatkan, diperkuat, dan dimajukan. Memaksimalkan pemanfaatan dana desa adalah kunci keberhasilan, sehingga mampu memberi spirit membangun desa dan memakmurkan masyarakatnya. Jadi dana harus dikelola dengan baik, harus diprioritaskan ekonomi, maka akan semakin sejahtera.  Saya sangat mengapresiasi dana desa berjalan baik sehingga dapat meningkatkan kompetensi,” ujarnya. 

Beliau juga berpesan agar pemuda harus mampu menciptakan lapangan kerja, jangan habis lulus nganggur, malah menjadi parasit.  Dalam konteks kekinian pemuda harus kreatif, inovatif, peka terhadap masyarakat, mampu menginspirasi, dan membantu aspek pembangunan. Harus bisa memanfaatkan teknologi dengan baik.  

Direktur utama BUMDes Umbul Ponggok Joko Winarno, S.Pt menjelaskan, di desa Ponggok sendiri mempunyai potensi dua sumber mata air salah satunya yang sekarang menjadi tempat wisata Umbul Ponggok. Dulu desa Ponggok itu masyarakatnya mayoritas petani yang miskin, ketika dibangun menjadi tempat wisata status ekonomi warga membaik, dibalik itu juga perlu waktu 2 bulan untuk melatih masyarakat desa agar dapat tersenyum yang bagus guna menerima wisatawan dengan baik. 

“Mulai dari mimpi mau dibuat seperti apa desa kalian lalu segera tuangkan didalam rencana dan bagaimana cara nya kemudian eksekusi, karena percuma kalau sudah punya mimpi dan rencana tapi takut mengeksekusi. Yang penting eksekusi, hasil belakangan, karena sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil”.

Banyak masyarakat yang majemuk dengan kerangka berpikir masing-masing sehingga terjadi benturan permasalahan. Kecenderungan masyarakat desa untuk keluar dari zona nyaman saja malas. Untuk memulai mengembangkan potensi desa perlu adanya pembuktian lebih dulu dari kita.

Beliau juga menambahkan, bahwa untuk memulai langkah tidak perlu banyak orang, yang penting ada beberapa orang yang loyal dalam mengembangkan potensi tersebut. Ketika sudah muncul bukti yang nyata masyarakat sedikit demi sedikit akan tertarik sehingga mau untuk bergabung. Gambaran tersebut juga tidak semudah yang dibayangkan. Perlu adanya proses dengan memulai membuang jauh-jauh mindset “susah” kemudian mengusulkan ide lalu memperlihatkan rencana secara terbuka. 

“Setiap desa itu potensinya berbeda maka kita harus jeli melihat potensi desa yang dapat menjadi nilai lebih seperti di desa saya yang dapat mengolah ketela menjadi produk yang bagus dan menjanjikan. Kemudian ada tempat wisata yang sangat potensial yaitu waduk Jatibarang dan goa Kreo,” ujar Sartono Mulyo Suwito selaku ketua UMKM Kampung Telo desa wisata Kandri, Gunungpati.

Beliau menambahkan, untuk masalah kesulitan dalam hal infrastruktur, yang pertama adalah menjadikan tempat tersebut ramai dulu lalu di buat destinasi. Jadi masalah infrastruktur itu nanti, yang terpenting kalian bergerak dulu untuk menghidupkan destinasi tersebut. Ketika sudah hidup dan dikenal banyak orang infrastruktur akan mengiringi. Perlu juga adanya kolaborasi antar pemerintah desa maupun kota agar dapat lebih mendorong pengembangan tersebut.

“Jika terkendala masalah infrastruktur sebenarnya kita bisa menanganinya dengan cara kreatif yang luar biasa, bagaimana mengemas semenarik mungkin karena saat ini kan yang harus menonjol itu casingnya karena untuk foto-foto kemudian mem blow up bagaimana agar mengena ke masyarakat luas,” kata Ignatius Adi Nugroho selaku perwakilan Bank Indonesia yang juga turut menjadi narasumber di acara tersebut. (Rep:Mukti/Ed:A.M)

Reporter: Mukti
Penulis: Mukti
Editor: A.M

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here