Judul : Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis : Tere Liye
Tahun Terbit : 2011
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 299 halaman
Peresensi : Riska Nurfadila

Novel yang memiliki tebal buku 299 halaman ini menceritakan tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.

Novel ini ditulis oleh Tere Liye atau nama aslinya adalah Darwis.  Meskipun Tere Liye adalah penulis terkenal, tapi jika kalian mencari biodata Tere Liye pasti kita akan menemukan sedikit karena hampir tidak ada informasi mengenai kehidupannya serta keluarganya.

Terdapat tokoh-tokoh yang menarik dalam novel ini. Salah satunya adalah Dam, dia adalah tokoh utama dalam novel ini. Dam adalah tokoh yang sangat sederhana. Ia bahkan tak mengeluh sama sekali dengan keadaan keluarganya itu. Pernah sekali ia bertanya pada ibunya mengenai mengapa mereka ke mana-mana harus menaiki kendaraan umum, dan ibunya hanya menjawab “Bukankah itu lebih keren? Kita jadi punya mobil banyak sekali bukan?”.

Selain orang sederhana, ia juga seorang yang pantang menyerah. Singkat cerita saat ia sedang berada pada lomba renang. “Celaka! Meski aku yakin bisa bertahan lima menit lagi, entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan celana renangku. Simpul karet pinggangnya seperti terlepas. Sambil tersengal terus mengayuh kaki, tanganku bergegas hendak memeriksa. Astaga? Talinya terputus sebelum aku sempat meraihnya, dan dengan cepat celana itu melorot lepas, tertinggal dibelakang. Baiklah, aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan berhenti hanya karena  celana sialan ini. Maka, sambil tangan kiriku memegangi celana, aku meneruskan berenang.”

Sekilas cerita tadi, membuat kita membayangkan bagaimana menariknya novel ini. Novel yang sangat membangunkan semangat kita yang lama terpendam. Ayah Dam lulusan master hukum luar negeri, meski begitu ayah Dam hanya menjadi pegawai negeri golongan menengah. Ayah Dam terkenal jujur dan sangat sederhana. Dam memiliki dua orang anak. Zas dan Qon namanya. Mereka adalah salah dua yang antusias dengan cerita kakeknya.

Namun di sisi lain, Dam sangat membenci hal tersebut. Ia tak suka bahkan sangat membenci suara ayahnya saat bercerita dongeng-dongeng yang menurutnya bohong besar itu. Dam mulai tak mempercayai dongeng-dongeng ayahnya saat ia berumur dua puluh tahun. Dam hanya tak mau anak-anakanya tumbuh dengan cerita-cerita dusta, seperti yang dilakukan ayahnya dulu padanya.

Novel karya Darwis, atau yang lebih dikenal dengan Tere Liye ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Dimana Dam langsung menceritakan kisah hidupnya. Novel Ayahku (Bukan) Pembohong ini menggunakan alur campuran atau maju mundur. Yang sering kali Dam menceritakan kembali mengenai masa lalunya. Jika kalian tak cermat atau kurang serius, kalian mungkin akan kurang paham mengenai novel ini. Novel ini mengangkat tema kasih sayang.

Novel karya Tere Liye ini menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami, sehingga semua kalangan dapat menikmati novel ini. Novel Ayahku (Bukan) Pembohong ini sangat menarik untuk dibaca. Karena kita akan banyak menemukan kejutan dari novel ini. Selain itu, novel ini juga sangat mendidik bagi kita dan mengajarkan bagaimana cara kita bersikap terhadap siapapun. Banyak kejutan-kejutan menarik yang tak terduga saat anda membaca novel ini. Sehingga kita akan lebih semangat menanti tiap judul-judulnya.

Tentang Novel

Dam adalah seorang lelaki yang amat teramat sederhana. Namun, kebaikannya itu tertutup oleh kebenciannya sendiri kepada Ayahnya. Ia mulai membenci Ayahnya karna tak mempercayai dongeng-dongeng Ayahnya sejak ia berumur 20 tahun. ia percaya bahwa dongeng–dongeng ayahnya terlalu berdusta. Dari ia bercerita bahwa ia mengenal dengan baik Sang Kapten. Ia bercerita bahwa dulu ia berteman baik dengan Sang Kapten saat kapten berumur delapan tahun.

Saat itu Ayah Dam sedang sekolah diluar negeri tempat Sang Kapten tinggal.  Lalu mengenal si Nomor Sepuluh yang jago melewati tiga bek lawan sekaligus. Lalu Ayah Dam mengarang cerita lagi bahwa Sang Kapten adalah paman dari si Nomor Sepuluh. Yang lebih-lebih lagi, Ayah Dam bercerita bahwa Ayahnya juga bersahabat dengan Suku Penguasa Angin. Tetapi itu malah membuat Dam membenci Ayahnya, yang yakin sekali bahwa cerita itu adalah nyata. 

Saat itu Dam sedang berada pada masa SMA di Akademi Gajah. Ketika ia sedang membereskan ruang perpustakaan akibat ia dikenai hukuman karena merayakan ulang tahun di asrama bersama teman sekamarnya, Retro. Saat itu Retro sedang asik membaca sebuah buku besar yang sudah terlihat rusak dan kuno. Karena rasa ingin tahu Dam, ia pun mendekat pada Retro. Ia pun terbelak, setelah melihat apa yang sedang dibaca Retro. Ternyata adalah buku dongeng yang pernah Ayah Dam ceritakan.

Bahwa Ayah Dam pernah bersinggah ketempat itu, dan memakan sebutir apel emas langka. Namun Retro tak percaya akan cerita Ayahnya Dam, dan bersikeras bahwa itu adalah hanyalah sebuh dongeng. Bagaimana mungkin, Ayah dam dapat masuk dalam tempat tersebut. Namun Dam tetap teguh pada pendiriannya,bahwa ayahnya tak pernah berbohong.

Dengan nekatnya, Dam dan Retro mengambil dua buku kuno itu untuk dibawa pulang Dam. Namun sayangnya, saat ia berada gerbong kereta yang hendak jalan, Dam ketahuan. Dan dengan terpaksa ia mengembalikan buku tersebut. Saat berada dirumah, Dam menyempatkan bertanya pada ayahnya mengenai dongeng tersebut. Namun tak disangka-sangka, Ayah Dam malah marah terhadap Dam. Hinga akhirnya libur panjang Dam selesai dan Ayah Dam masih tetap marah dan diam seribu kata pada Dam.

Libur panjang selesai. Namun Dam malah terkena hukuman lagi karena ia mencuri buku yang sangat berharga tersebut. Ia diberi kesempatan untuk membayar denda atas buku itu. Ia diberi pilihan berbagai macam pekerjaan di dalam asrama. Namun,Dam memiliki ide cemerlang sendiri. Ia memilih untuk bekerja di luar asrama. Ia bekerja pada penduduk sekitar Akademi Gajah. Dari mengurus ladang, memeras susu sapi dan lain lain. Pekerjaan yang membuahkan hasil yang banyak itupun membuat teman-teman asrama Dam tergiur ,termasuk Retro.

Saat umur Dam sudah menginjak usia empat puluh tahun, ia mulai lebih tak nyaman karena keberadaan Ayahnya di rumahnya. Ayah Dam bercerita kepada cucu-cucunya, anak Dam. Ayah Dam menceritakan seluruh dongeng-dongeng yang sama seperti dulu Ayah Dam bercerita pada Dam. Hingga akhirnya, sabar yang dimiliki Dam sudah terlewat batas. Dan akhirnya, dengan terpaksa Dam mengusir Ayahnya agar tidak tinggal di rumah Dam. Namun setelah selang beberpa tahun, Ayah Dam bersedia kembali lagi ke rumah Dam atas bujukan Taani, istri Dam.

Semua kebencian itu ternyata sangat membuat Dam menyesal. Di hari kematian Ayahnya. Ia baru tahu bahwa selama ini cerita Ayahnya ternyata adalah nyata. Semua orang yang diceritakan oleh Ayah Dam dalam cerita-ceritanya, melayat ke kuburan Ayah. Termasuk suku penguasa angin yang sangat mustahil. Namun kemustahilan itu terbantahkan akan datangnya orang-orang spesial itu, termasuk Sang Kapten, idola favorit  Dam semasa kecil. Dan dihari itu pun Dam jadi tahu. Bahwa, Ayahnnya bukan pembohong. 

Novel ini mengajarkan kita mengenai memahami satu sama lain, sehingga novel ini tepat sekali untuk belajar budi pekerti. Lalu, buku ini juga mengajarkan kita mengenai kesederhanaan hidup, yang dapat kita aplikasikan dalam kehidupan nyata. Mengajarkan semangat juang, kasih sayang, kejujuran dan masih banyak lagi.

Lalu, saat kalian membaca novel ini dan kalian berada pada halaman terakhir. Berlarilah secepat mungkin menemui Ayah kalian, sebelum semuanya terlambat, dan kita tak sempat mengatakannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here