Penelitian Budaya Damai di Pesantren Antar Syamsul Maarif Raih Predikat Guru Besar

0
358
Prof Dr. Syamsul Ma'arif bersama kedua orang tua dan istri saat usai acara pengukuhan guru besar dalam bidang pendidikan Islam Audit 2 Kampus 3 UIN Walisongo. Foto : Ink
Website | + posts

Semarang, Justisia.com – Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan (Kapuslitbit) LP2M UIN Walisongo, Syamsul Maarif meraih gelar sebagai guru besar setelah teliti budaya damai di pesantren.

Syamsul Maarif dikukuhkan sebagai guru besar Ilmu Pendidikan Islam pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) di auditorium II kampus III, Kamis (4/7/2019).

Dalam acara pengukuhan tersebut, sebagai pertanggungjawaban ilmiah, Syamsul menyampaikan pidato berjudul “Pendidikan dalam Pusaran Neo-liberalisme dan Gerakan Ultra-Right: Restorasi Local Genius Pesantren”.

Pidatonya menjelaskan karakter lokal pesantren dapat mencetak santri merealisasikan tiga identitas, berupa national identification, international identification, dan culture.

“Nilai-nilai pesantren mampu dijadikan sarana berkomunikasi dan berinteraksi pada level nasional maupun internasional,” ungkapnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khawarizmi menggambarkan pesantren dapat beradaptasi dengan tuntutan globalisasi tanpa harus bermusuhan. Pasalnya, sistem keterbukaan pesantren pada siapapun tanpa harus takut kehilangan identitas.

Usaha pesantren menanggulangi gejala individualism dan radikalisme melalui budaya silaturahmi salah satu keberhasilan melawan kultur yang sedang berjalan.

“Pesantren sudah kadung berpegang teguh pada prinsip al-muhafadzatu ‘ala qadim al-shalih wa al-akhdu bi al-jadidi al-ashlah dan relevan hingga hari ini,” tegasnya.

Alumnus UIN Walisongo ini menyerukan kepada pendidik agar terus menggerakkan komponen pendidikan melalui internalisasi nilai-nilai kultur ke-Indonesian.

“Perubahan yang dibangun melalui dialog akan menggerakkan pendidikan yang bermutu dan berkualitas,” tuturnya.

Saat berpidato seisi ruangan terhenyak saat Syamsul Maarif meneteskan air mata di sela-sela presentasi. Ia sangat berterimakasih kepada pendamping hidupnya, Laylatul Indasah.

“Saat melahirkan anak, saya sedang ujian S3 jadi tidak bisa menemani,” pungkas alumnus Doktoral UNY menutup pidatonya dihadapan ratusan hadirin.

Pengangkatan menjadi guru besar Syamsul Maarif merupakan professor ke- 22 di UIN Walisongo Semarang. Rencananya pihak kampus akan menambah guru besar sejumlah 30 hingga tahun depan.

“Tahun ini sudah ada 4 calon. Dua di antaranya sudah turun. Insyaalloh bisa sampai target,” terang Rektor UIN Walisongo Muhibbin. (Rep:Rs/Ed:A.M)

Reporter: Rais
Penulis: Rais
Editor: A.M

Baca juga:  Mahasiswa KKN mandiri Direlokasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here