Penangkalan Radikalisme, Polda Jateng Gandeng UIN Walisongo Gelar Seminar Kebangsaan

0
194

Semarang, justisia.com-Bertepatan dengan hari santri, Polda Jateng menggelar seminar kebangsaan dengan tema penguatan karakter generasi millenial anti hoax, narkoba, dan radikalisme menuju masyarakat Jawa Tengah yang damai dan sejahtera.

Acara ini diselenggarakan oleh Polda Jateng bekerja sama dengan UIN Walisongo Semarang dalam upaya sosialisasi tantangan bangsa dan penangkal radikalisme yang bertempat di Audit 1 Kampus 1 UIN Walisongo Semarang pada Selasa (22/10/2019).

Acara dihadiri oleh Prof. Budi Utomo DIRBINMAS Polda Jateng, AKBP Drs. Agung Prabowo KASUBDIT V/ SIBER Polda Jateng, dan Prof Dr. Imam Taufik, M.Ag rektor UIN Walisongo Semarang.

Peserta seminar dikhususkan kepada mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi, pengurus inti Sema Universitas, pengurus inti Dema Universitas, pengurus inti UKM universitas, pengurus inti Sema Fakultas dan pengurus inti Dema Fakultas.

Dalam acara Prof. Dr. Imam Taufiq, M.Ag. sebagai pemateri pertama menjelaskan bagaimana karakter utama generasi millenial, disebutkanan bahawa generasi millenial adalah generasi yang selalu berhubungan dengan gawai (gadget), dengan kirasan umur antara umur 18 sampai 34 tahun dengan ciri millenial yang creative, connected, dan confident.

Baca juga:  Wali Wisudawan Tidak bisa masuk ruang Audit, Adnan: Mereka 'kan Terlambat

Dalam materinya juga Prof. Dr. Imam taufik, M.Ag. menyinggung disrupsi yang terjadi saat ini, sebuah tantangan mentalitas atau cara pandang yang berbeda. Contohnya fenomena hijrah yang menjadi tren dan popularitas versus keilmuan mengenai indentifikasi kyai zaman sekarang yang berubah. Popularitas dijadikan sebagai tolak ukur banyaknya jamaah.

“UIN Walisongo sebagai garda benteng penangkal radikalisme dengan cara mengedepankan moderasi dan tasamuh (berpikir terbuka dan toleransi),” tutur rektor UIN Walisongo untuk para mahasiswa.

“Ada perubahan penyebutan 4 Pilar Kebangsaan, yang terbaru 4 Pilar Kebangsaan disebut 4 Konsensus Dasar Bangsa yaitu Bhineka Tunggal Ika, Pancasila, UUD NRI 1945 dan NKRI. Jika dianalogikan bangunan 4 Konsensus Dasar Negara seperti rumah yang berdiri, Pancasila sebagai tanahnya sebagai ideologi bangsa, Bhineka Tunggal Ika sebagai orang-orang yang menempati bagungan tersebut dengan corak dan perbedaan, UUD 1945 sebagai ruang-ruang di dalam sebuah rumah dan NKRI sebagai bangunan yang melingkupi semua unsur,” terang DIRBINMAS Budi.

Dalam wawasan kebangsaan Prof. Budi Utomo menjelaskan tantangan bangsa yang dihadapai saat ini yaitu pemahaman empat konsesus dasar bangsa masih rendah, rasa memiliki terhadap bangsa masih lemah, generasi muda yang hedonisme individualisme dan matrealisme, pembelaan terhadap negara belum optimal.

Baca juga:  Masa Aksi Dari UNWAHAS

Prof. Budi Utomo juga menyampaikan pesan dari Presiden Joko Widodo mengenai perbedaan tantangan bangsa masa dulu dan masa sekarang, zaman dulu tantangan bangsa adalah perang, lain dengan zaman sekarang, zaman sekarang tantangan bangsa berasal dari dalam bangsa itu sendiri yaitu terorisme, hoax, radikalisme dan rasa memiliki terhadap bangsa dan negara lemah.

Teknologi sangat berpengaruh dalam perilaku sehari-hari manusia. Perkembangan teknologi komunikasi dan kecanggihannya sangat berpengaruh dalam menghadapi tantangan bangsa. Bahkan tantangan bangsa itu sendiri salah satu penyebabnya adalah kecangggihan teknologi. Salah satu tantangan bangsa saat ini adalah masalah hoax.

Strategi penanganan hoax antara lain self ciber awareness yaitu kesadaran terhadap kejahatan siber, literasi, dissaminasi. Mengingat dampak hoax sendiri sangat berbahaya menyebabkan permusuhan dan pembunuhan karakter seperti yang telah dipaparkan AKBP KASUBDIT V/SIBER Polda Jateng dalam mengakhiri acara seminar.

Reporter: Anisa, Pepi
Penulis: Anisa, Pepi
Editor: Harly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here