Argumentasi prinsip egalitarianisme dalam Islam mungkin cukup bisa menyangkal pembenaran tindakan rasial, fasis, represif terhadap beberapa orang Papua di Surabaya, Malang dan berbagai daerah lainnya yang dilakukan oleh beberapa ormas, masyarakat, tokoh masyarakat bahkan aparatus negara beberapa hari yang lalu menjelang perayaan kemerdekaan.

Pada dasarnya, Islam diturunkan ke muka bumi ditasbihkan sebagai rahmat bagi semesta alam. Sebagaimana juga ketika Allah SWT menunjuk manusia menjadi khalifah di dunia ini untuk merealisasikan kesejahteraan, kesetaraan, keadilan di dalamnya. Secara jelas dalam ajarannya, Islam menegaskan hukum jahiliah yang sarat akan penindasan serta pemihakan terhadap golongan tertentu.

Baginda Rasulullah SAW telah memberikan uswah, setiap perkataan, tindakan dan ketetapannya patut menjadi acuan dalam menjalani kehidupan, tak terkecuali dalam kehidupan bernegara. Realitas bahwa manusia diciptakan Allah berbeda-beda , bersuku-suku, berbangsa-bangsa. Nabi pada saat di Madinah sebagai pemegang otoritas tertinggi pimpinan umat muslim tak serta-merta menghilangkan perbedaan itu menjadikan satu. Namun, nabi menghadapi perbedaan-perbedaan tersebut dengan mengelolanya agar tidak terjadi benturan maka dirumuskanlah sebuah kesepakatan bersama yang kelak dikenal sebagai piagam Madinah.

Piagam Madinah atau konstitusi Madinah ialah sebuah rumusan yang disusun kanjeng nabi SAW, yang merupakan kesepakatan-kesepakatan, perjanjian formal antar kaum-kaum dan suku-suku yang ada di Yatsrib pada tahun 622.

Dalam kesepakatan tersebut sejelas-jelasnya tujuan utamanya adalah menghentikan perseteruan sengit antara bani ‘Aus dan bani Khazraj oleh karena itu maka substansi dari piagam Madinah untuk menentukan hak dan kewajiban kaum muslim, kaum Yahudi dan suku ataupun kelompok-kelompok yang lain, sehingga menjadikan mereka dalam suatu kesatuan komunitas yang disebut ummah, tetapi tetap tidak menolak perbedaan, hanya saja hak dan kewajiban diatur di dalamnya.

Tampaknya kanjeng nabi SAW telah meneladankan ajaran egalitarian namun kenapa masih banyak tindakan berbau rasial, tindakan bernada fasisme dalam negara yang bermayoritas sebagai muslim?

Secara etimologi, egaliter berasal dari bahasa Prancis egal, egalite, egalitaire yang maknanya sama, tidak ada perbedaan. Kata itu muncul saat revolusi Prancis bergejolak tahun 1789, sehingga memunculkan declaration des droits de i’homme et du citoyen (pernyataan hak-hak dan warga negara) yang mengandung semangat liberte, egalite, fraternite (kemerdekaan, persamaan, persaudaraan) dan akhirnya pernyataan mengenai HAM dicantumkan dalam konstitusi Prancis.
Sebenarnya dalam kehidupan bernegara, substansi piagam Madinah juga adalah prinsip egalitarian.

Kemudian, kerusuhan yang terjadi di Surabaya beberapa hari yang lalu menjelang dan pasca perayaan kemerdekaan sungguh pembenaran legislasi apapun nihil. Tindakan berbau rasial seperti makian nama-nama binatang yang ditujukan kepada orang Papua di dalam asrama menandakan sebagian orang yang mengaku berideologi Pancasila masih menganut prinsip rasial. Jika dipikir secara sehat maka tidak masuk akal dan paradoks, bertentangan dengan nilai yang terkandung dalam sila ke-2 dan ke-3.

Tindakan bernada fasis pun juga begitu kental, mendobrak, merusak pagar asrama orang Papua tanpa mengetahui apa sebenarnya duduk permasalahan juga telah mencederai prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mungkin, sebagian dari kita banyak yang masih mengimani primordialisme, sebagai konsekuensi menganggap ras kulit putih lebih terhormat daripada ras kulit hitam, menganggap tanah Jawa lebih berperadaban daripada tanah Papua, menganggap yang tak seiman sebagai orang kafir yang wajib dimusuhi padahal itu semua oleh para founding fathers, perbedaan suku, ras, agama, budaya telah disepakati menjadi satu kesatuan bernama NKRI dalam bingkai Pancasila sebagai ideologi. Pancasila tak mengenal status privilage dalam bernegara.

Doktrin NKRI harga mati, memang betul. Tapi jika hanya dimaknai secara sempit dengan mengandaikan simbol merah-putih sebagai suatu yang dikultuskan tanpa melihat aspek yang lain, maka tak heran kejadian kemarin menjadi bukti doktirn NKRI harga mati direduksi maknanya gara-gara pemahaman yang sempit.

Akhirnya kesempitan perspektif meracuni pola pikir masyarakat. Yang semestinya makna doktrin nasionalisme NKRI harga mati dilandaskan pada prinsip kemanusiaan, dan kesetaraan hilang diterjang otak cingkrang.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, sudah seharusnya kesadaran melindungi hak golongan minoritas ditanamkan dalam pranata bernegara.

Dalam kitab suci Al-Qur’an surat Al Hujurat (49) ayat 13 yang artinya “hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”.

Tak sekalipun Allah menilai hambanya melainkan dari amalnya. Bukan dari kekayaan, kekuasaan, suku, ras ataupun kecerdasannya.

Lalu, pembenaran Islam bagaimana yang kau anut wahai orang-orang rasis? pembenaran nasionalisme seperti apa yang kau imani wahai orang-orang fasis?

Penulis: Rusda Khoiruz
Editor: Harly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here