Papenre’ Doi’ Perempuan Bugis, Mahal Kah?

0
192
Keakraban reporter Justisia.com Yusuf (kanan) dengan salah satu tokoh masyarakat Bugis, Pu Tini di sela-sela wawancara./Foto: Yusuf Justisia

Sidenreng Rappang, Justisia.com – Minggu (10/2/2019) tim Justisia.com menjumpai salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Sidenreng Rappang atau Sidrap (di mana orang biasa menyebut) Sulawesi Selatan. Namanya Hj. Kartini Mursyid. Wanita yang sudah menginjak usia kepala enam tersebut kerap disapa Pu Tini.

“Karena saya asli sini biasanya orang memanggil saya Pu Tini,” ungkapnya.

Ia adalah masyarakat asli dari Kecamatan Baranti. Ia mengaku sudah sekitar 55 tahun tinggal di Beranti Sidrap.

“[…] saya tinggal di sini sekitar 55 tahun,” jelasnya.

Wanita yang mengenakan busana serba hitam tersebut menjelaskan kepada kami bahwa Bugis sebagai suku di sana memiliki cara tertentu sebagai adat-istiadat yang selalu ditunaikan oleh kedua pasangan ketika akan melangsungkan pernikahan.

Hal Itu adalah papenre’ doi’ atau yang biasa disebut sebagai mahar. Yaitu uang belanja yang ditanggungkan kepada mempelai laki-laki untuk “membeli” mempelai perempuan.

Papenre’ doi’ itu sama dengan uang belanja ataupun mahar karena kalau di sini anak perempuan itu ibarat dagangan,” kata Pu Tini menjelaskan.

Harga papenre’ doi’ na itu kata Pu Tini disesuaikan dengan harga pangan ataupun barang pada periode tertentu saat melangsungkan pernikahan yang mana akan digunakan untuk menghidupi mempelai perempuan.

Wanita berkacamata itu juga megatakan bahwa “harga” mahar akan semakin tinggi atau meningkat jika mempelai perempuan memiliki riwayat pendidikan yang tinggi atau berkualitas.

“[…] kalau di sini […] semakin tinggi jenjang pendidikannya semakin mahal papenre’ doi’,”.

Pu Tini memberi contoh jika semisal yang mau dilamar adalah seorang lulusan SMP maka papenre’ doi’ na 30 juta.

Untuk menentukan mahar Pu Tini mengatakan biasanya akan ada pertemuan dan kesepakatan yang dilakukan kedua mempelai.

“[…] sebelum penentuan mahar ada pertemuan dan kesepakatan antara kedua belah pihak,” imbuhnya.

Sejauh ini ia pernah menyaksikan pemberian papenre’ doi’ yang terbilang fantastis mencapai 100 juta rupiah ditambah dengan sepaket emas.

“Pernah saya lihat itu 100 juta papenre’ doi’ na ada juga cincin kalung pokoknya tambah satu stel perhiasan,” jelasnya.

Ketika ditanya apa yang menyebabkan sehingga harga mahar relatif mahal, wanita 55 tahun tersebut menjawab ada beberapa faktor. Contohnya pihak laki-laki yang ingin dianggap kaya, pihak perempuan yang gengsi apabila maharnya kecil dan sebagainya.

“Masalah papenre’ doi’ itu […] umpama pihak laki-laki yang ingin dikatakan kaya. Pihak perempuan yang tinggi gengsinya. Dan memang ini sudah menjadi […] turun-temurun,” jawab Pu Tini.

Untuk sekarang Pu Tini mengatakan bahwa kalau sekarang yang paling sedikit papenre’ doi’ na sekitar 25 juta rupiah.

“Memang mahal […] sebenarnya orang sini juga menyadari tentang hal itu tetapi masih kalah sama rasa gengsi ingin dikatakan kaya,”.

Terkadang kata Pu Tini jika kepepet tidak memiliki cukup uang untuk membayar papenre’ doi’ na untuk mempelai perempuan maka bisa sampai ada yang memilih kawin lari.

“Ya begitulah terkadang kalau kepepet bisa sampai kawin lari,”.

Dan terakhir Pu Tini juga berpesan kepada masyarakat luar bugis yang ingin melamar perempuan bugis harus mempersiapkan mahar dengan semaksimal mungkin.

“Kalau ada masyarakat luar bugis mau melamar orang bugis kasih siapkan papenre` doi` na,” pungkasnya. (Rep:Yusuf/Red:Am)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here