Semarang, Jutisia.com – Majelis umum PBB pada tanggal 18 Desember 2007 telah menetapkan 2 April setiap tahunnya sebagai Hari Kesadaran Autisme Sedunia (World Autism Awareness Day). Melalui Hari Peduli Autisme Sedunia, PBB menghimbau agar semua negara anggotanya untuk mengambil langkah yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran terhadap autisme di kalangan masyarakat, yang dapat dilakukan dengan diagnosis dini untuk pemberian intervensi dini.

Sehubungan dengan perayaan Hari Kesadaran Autisme Sedunia, beberapa tokoh dan para relawan yang tergabung mengadakan suatu acara Pameran Lukisan Anak Hebat di mana acara tersebut  menampilkan karya-karya lukisan dari anak-anak hebat dan istimewa dengan disertai beberapa event dan talkshow menarik mengenai dunia autisme yang diketuai oleh ibu Siwi Parwati A. Basri selaku ketua Portadin dan praktisi Autisme.

Acara dimulai dari tanggal 2 April hingga 6 April 2019 yang dilaksanakan di Gedung Monod Diephuis, Jalan Kepodang no. 11-13 Semarang.

Acara diawali dengan pembukaan oleh Bapak Partoyo dari Dinas Sosial Propinsi, dilanjutkan dengan penampilan Rama Dani Syafriyar yang bercerita tentang kesehariannya menggunakan bahasa Inggris. Rama sendiri adalah seorang anak austik berusia 18 tahun yang merupakan putra dari ibu Siwi Partiwi.

Ada yang menarik dari kisah Rama, di mana hingga sekarang dia tidak bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan lebih fasih berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, hebatnya kemampuan luar biasa ini diperolehnya sejak ia masih kecil bahkan dari orang tuanya sendiri mengaku tidak pernah mengajarkan bahasa Inggris kepada Rama.

Tak hanya itu ia juga ikut berpartisipasi dengan menampilkan 10 karyanya di acara tersebut. Tak lupa, ibu Siwi Partiwi juga memberikan kejutan serta menghibur hadirin dan beberapa sahabat anak autis beserta orang tuanya yang hadir dengan menyanyikan sebuah Autism Song yang berjudul “Through My Eyes”.

Pada tanggal 3 April acara dilanjutkan dengan kegiatan menggambar bersama pak Broto Hartono dengan ibu Ratna Sawitri. Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh masyarakat karena banyaknya peserta yang hadir dalam acara tersebut.

Ada yang berasal dari Semarang dan luar Semarang. Salah satunya adalah Laura Wijaya yang berusia 13 tahun dari Surakarta. Laura bersekolah di SD Pelita Nusantara Kasih. Ia bercerita sejak kecil sangat suka menggambar dan melukis di kanvas menggunakan cat akrilik. Kemudian ada pula Fatimah Azahra dari PLP Quantum Tegal dan adik-adik dari Sekolah Melana home Schooling.

Tanggal 4 April, acara diisi dengan menonton bersama film mengenai autism dilanjutkan dengan diskusi ringan yang dipandu oleh kak Odi, dihari berikutnya tanggal 5 April ada kegiatan talkshow yang diisi ibu Siwi Parwanti A. Basri menganai pentingnya diet bagi anak austik. Dihari terakhir pameran, ada spesial talkshow bersama ibu Kartika Sari Dewi, S.Psi., M.Psi. yang merupakan psikolog klinis di Rumah Sakit Hermina Banyumanik dan JAPSI Universitas Diponegoro dengan tema talkshow “Love and Acceptance”.

Dalam talkshow tersebut beliau menceritakan pengalamannya dengan Naris, putri beliau yang berusia 13 tahun yang menderita Asperger syndrome. Meskipun memiliki gejala autisme tetapi sebagai seorang ibu tetap harus memberikan dukungan sepenuhnya dan menggali potensi yang ada serta mengarahkan kekuranga diri agar menjadi lebih baik. Berkat dukungan dan bimbingan yang hebat dari ibunya, adik naris baru-baru ini dapat mengikuti kompetisi olimpiade sains di Romania.

“Semua anak itu terlahir tanpa membawa dosa, yang ada hanya orang tua yang mau bertanggungjawab dan sekolah atau instansi yang mau menerima,” ucap Kartika saat ditemui, Sabtu (6/4/2019).

“Anak autis bukanlah sebuah beban, mereka anak yang istimewa dan luar biasa, jangan anggap anak autis sebagai sampah masyarakat. Mereka hebat, mereka sama dengan kita haknya. Stop pembully-an terhadap anak autis, jangan sebut mereka berbeda. Berikan kebebasan hak mereka sebagai anak yang lain. Sebagai orang tua tugas kita selalu merangkul, mensupport bakat minat serta mengembangkan kemampuannya. Dan terakhir jangan pernah menggunakan istilah ‘Autis’ untuk bahan ejekan dan bercandaan. Orang-orang yang yang masih menggunakan ‘Autis’ sebagai bahan bully-an dan ejekan adalah orang yang tak berperikemanusiaan. Ingat, orang yang mengalami autisme mereka hanya bermasalah dengan cara berkomunikasi dan bersosialisasi. Tugas kita adalah berusaha untuk menerima keberadaan mereka dan membantu mereka,” Imbuh Kartika.

Acara Pameran Lukisan diakhiri dengan sambutan oleh Bapak Tommy Said, eks Kepala Dinas Sosial Kota Semarang. Harapan beliau acara yang sangat menginspirasi seperti ini harus tetap ada setiap tahunnya. Beliau juga sangat berterimakasih kepada segenap tokoh seperti Ibu Siwi dan para relawan yang telah mengadakan acara tersebut.

Relawan sekaligus mahasiswi Psikologi Unika Monica mengatakan bahwa lukisan-lukisan yang dipamerkan ini bukan hanya tentang cat minyak, kertas, pigura, dan warna saja. Lukisan ini punya cerita dan tiap lukisan punya kisahnya masing-masing.

Menurutnya, tujuan acara ini adalah hendak menunjukkan dan membuktikan bahwa autis atau orang yang berkebutuhan khusus -yang sering dipandang remeh dan hanya dijadikan bully-an oleh orang banyak- memiliki kemampuan dan bakat layaknya orang normal. Bahkan di satu hal kemampuan ‘mereka’ melebihi orang normal.

“Jadi stop merendahkan mereka yang berkebutuhan khusus, mereka hebat, mereka berbakat, mereka istimewa,” tandasnya.

Relawan lain, yang juga teman Monica, Grace menambahi temannya itu. “Bukan tentang bagaimana kamu terlahir tapi bagaimana hasil dari proses yang kamu lalui dalam hidup. Karena banyak yang terlahir “Istimewa” tapi mau berproses menjadi anak hebat,” ujarnya.

Di hari yang sama pula saya mengunjungi stand Komunitas Sahabat Difabel di acara Festival Makanan di Mal Sri Ratu. Di sana saya bertemu dengan Didik Sugiyanto dan beberapa sahabat difabel bersamanya. Didik adalah salah satu pegiat Komunitas Sahabat Difabel Semarang.

“Difabel juga bisa berkarya seperti yang non difabel lakukan asal diberi kesempatan dan kepercayaan,” ujar Didik.

Didik juga mengajak saya dan para mahasiswa lain untuk berkunjung dan melihat kegiatan yang dilakukan oleh sahabat-sahabat difabel di Roemah Difabel yang beralamat di MT. Haryono no. 266. Seberang Radio Gajah Mada FM, Semarang.

Pada sorenya saya bertolak ke Banyumanik. Tempat perbelanjaan Transmart jadi tujuan. Adalah Lokakarya Difabel Fest. Kegiatan yang menampilkan bakat dari anak-anak berkebutuhan khusus dari berbagai Sekolah Luar Biasa dan yayasan yang ada di Semarang. Ada yang menyanyi, menari, membaca puisi, bercerita atau story telling dan bahkan ada yang menghafal al-Quran.

Hal ini membuktikan, dari berbagai acara yang ada, masyarakat Indonesia semakin sadar dan peduli terhadap mereka yang istimewa. Menjadi difabel bukanlah sebuah pilihan melainkan sebuah takdir. Menjadi difabel bukan berarti tidak bisa melakukan apa-apa. Jangan memandang rendah atau menganggap difabel adalah manusia yang tidak berguna.

Karena difabel juga bisa melakukan apapun. Hanya saja cara mereka ‘melakukan’ lain dari yang biasa dilakukan orang kebanyakan. Maka, memberi kesempatan adalah “koentji”. Beri kesempatan untuk berkarya dan berkarya. Bahwa difabel bisa dan mampu. Karena sejatinya Aku, Kamu, dan Kita adalah Setara. (Rep: Lina/Red: Am)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here