Judul Buku : Tuhan Itu Maha Santai Maka Selowlah
Pengarang : Edi Ah Iyu Benu
Penerbit : DIVA Press
Tahun Terbit : September 2019
Tebal Buku : 180 halaman; 20 cm
Peresensi : Nur Khasanah

Konflik-konflik yang bermunculan di dunia modern ini sudah sangat kompleks. Apalagi jika melihat perbedaan-perbedaan pendapat dalam suatu agama (terutama islam). Hal ini menjadi konflik yang gempar karena Islam kelompok garis keras (Radikal) yang terlalu mentah-mentah dalam menilai suatu ayat Al-Qur’an, juga kelompok liberal yang terlalu menggampangkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Buku karya Edi Ah Iyu Benu ini cukup memberikan wawasan yang lebih luas lagi tentang betapa Allah dan ayat-ayat Nya sangat santai, jika kita mau memahaminya secara luas.

Sifat-sifat Allah itu tidak terbatas, dan cara-cara manusia dalam mendekati Allah juga tidak terbatas. Ada yang diistilahkan “mabuk syariat” karena melakukan amal-amal lahiriyah tetapi menyingkirkan batin atau rohaninya. (hal.16)

Tetapi jika dikaji lebih dalam, batin atau rohani ini sangat menentukan tingkat kesalehan seseorang, mungkin bisa dikatakan, semakin batinnya itu taqarrub ilallah semakin khusyuk suatu perbuatan yang dilakukan.

Perbedaan-perbedaan tersebut membuat adanya ketegangan yang bermunculan. Menurut buku ini, ketegangan yang ada terjadi karena keberagaman yang tadinya adalah sebuah rahmat, menjadi akar perselisihan ketika sudah masuk ke dalam ranah ideologis. (hal 34) Artinya, perbedaan-perbedaan itu adalah hal yang boleh-boleh saja, tetapi yang tidak diperbolehkan adalah ketika tidak bisa menerima perbedaan, dan menganggap dirinya paling benar.

Sebenarya akar-akar dari perbedaan ini sudah muncul sejak zaman perang Siffin. Ketika itu Abdurrahman bin Muljam setelah membunuh Ali bin Abi Thalib, ia berkata “tidak ada hukum kecuali hukum hukum Allah”. (hal.41)

Artinya Abdurrahman disini tidak memperluas pengertian itu. Ayat-ayat Al-Qur’an sendiri ada yang perlu ditakwilkan, seperti ayat yang mengandung majas, dan lainnya. Penakwilan disini lah yang kemudian memunculkan perbedaan pandangan antara satu orang dengan yang lain. Hal tersebut diperbolehkan saja, yang terpenting yaitu tujuannya yaitu sama-sama mencari ridho dari Allah semata. Untuk urusan benar atau tidaknya itu adalah urusan Allah.

Jika kita melihat zaman dahulu, ketika masa Abbasiyah, bahkan Imam Syafi’i yang begitu alim nya, beliau berguru kepada Imam Malik, Imam Syafi’i yang ahli berguru kepada orang yang ahli. Mereka pun juga sering berbeda pendapat tentang suatu hal, dan mereka tidak memperselisihkan hal itu. Berbeda dengan zaman sekarang yang justru pesantren salafiyah dilupakan, dan menggunakan pesantren google, kitab google, ulama google, dakwah google, dan lain-lain. Seharusnya, yang dijadikan sumber saat ini bukan google saja, tetapi lebih menggunakan kitab-kitab seperti Tafsir Al-Mishbah karya Prof. Quraisy Syihab, atau kitab lain yang sudah jelas sanadnya.

Sekarang, justru banyak sekali bahkan hampir setiap orang itu melakukan dakwah dengan landasan ayat “sampaikanlah dariku walau satu ayat”. Perlu digaris bawahi, bahwa dakwah itu bukan sembarang dakwah, dakwah itu harus mencakup hikmah, mauidzah hasanah, jidal yang ahsan, dan menjaga kerukunan. Nah, bagaimana bisa memberikan point-point tersebut jika hanya mengetahui satu ayat saja. Dalam hal berdakwah tentang suatu ayat misal, harus diketahui ushul fiqihnya, sejarahnya, ilmu sosialnya dan lain-lain. Maka dari itu diperlukan memahami al-Qur’an secara tematik, yaitu dikumpulkan, kemudian dikaji, baru disimpulkan.

Realita sekitar, tentang taubat misal, sekarang taubat disini sering diartikan sebagai hijrah. Sebenarnya hal tersebut shahih saja, tetapi jika rujukannya adalah ketika Nabi berhijrah dari Makkah ke Madinah, maka hal tersebut salah. Nabi dan kaum muslimin berpindah bukan karena taubat, tetapi karena menghindari intimidasi sosial-politis. Yang menjadi permasalahan utama sebenarnya bukan pada hal tersebut. Tetapi taubat yang seharusnya menanamkan iman di hati dan ketaqwaan yang justru pada zaman sekarang ini hanya sebatas perpindahnya pakaian yang ketat menjadi hijab yang lebih syar’i dan hal tersebut tidak lupa malah diglorifikasi.

Seperti candaan Gus Muwafiq “Taubat ala-ala kiai dan santri menjadi tidak menarik lagi hari ini dikarenakan bungkusnya sederhana rajin beristighfar dan memperbanyak mal sholih belaka. Ini berbeda dengan fenomena hijrah yang membingkai taubat melalui perayaan-perayaan entertraining, dari pakaian-pakaiannya hingga aktivitas-aktivitas kesehariannya yang ditawarkan meriah melalui sosial media”. (hal 111) Intinya, bertaubat itu seharusnya bukan hanya berhenti di sebuah gerbang, tetapi harus ada ketaqwaan, kerohanian yang harus diperdalam lagi.

Selain tentang pemaknaan Al-Qur’an yang sangat santai seperti yang dipaparkan diatas, juga ada materi-materi pelengkap lain, seperti kesegeraan menikah. Yang mana sebetulnya, “ya ma’syaros sabab” diartikan sebagai kesiapan terhadap suatu pernikahan tersebut, bukan untuk menyegerakan menikah semata-mata.

Jika membaca buku ini, tentu menambah wawasan baru yang sangat luas bagi pembacanya. Buku ini memberikan sebuah manfaat, sebuah pelajaran baru tentang bagaimana seharusnya pemaknaan Al-Qur’an itu, tentang sikap-sikap santai Rasulullah dan para tokoh-tokoh Islam, tentang sebab-sebab perselisihan, sampai pada pemaknaan taubat secara lebih dalam. Dalam hal judul, memang menarik, tetapi ketika sekilas dilihat oleh orang-orang awam, mereka akan berfikir buku ini terlalu liberal untuk dibaca. Makna Tuhan Maha Santai dalam buku ini tidak digambarkan secara jelas, tetapi secara tersirat, dalam setiap bab ada sebuah makna yang menjelaskan bahwa Tuhan memang Maha Santai, yaitu dengan cara apa yang ada dalam buku tersebut dari awal sampai akhir menjelaskan tentang kesantaian Tuhan, dengan segala penjelasan ayat-ayatnya yang sangat luas dan santai, dan dengan kisah-kisah dan cara tokoh-tokoh dalam bersifat santai.

Dengan diambil dari satu sudut pandang, buku ini cukup mudah dipahami, tetapi sayangnya, buku ini bahkan tidak merujuk kepada buku-buku yang lain, sehingga bisa saja menjadi kontroversi kebenaran-kebenaran yang ada di dalam buku ini.

Meskipun ada beberapa kekurangan, buku ini tetap menarik untuk dibaca. Pemaknaan yang sangat santai dalam buku ini membuat pembaca menemukan hal baru yang tadinya dimaknai secara langsung, menjadi lebih luas dan tematik. Hal ini sangat berguna bahkan untuk memperbaiki niat seseorang, untuk memperbaiki akhlaknya, dan lain-lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here