Tunas-tunas muda seni tari bermunculan di acara Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Walisongo Semarang, Selasa (20/8/2019).

Penari-penari muda saling unjukan kebolehanya. Mereka membawakan tarian adat daerah masing-masing sebagai bentuk rasa bangga dan cinta kepada budaya daerah.

Banyak dari mereka merupakan mahasiswa yang aktif dalam organisasi daerah (Orda). Di PBAK yang bertajuk “eksplorasi spirit kemanusiaan menuju Indonesia berperadaban”, para aktivis Orda sangat menyelami semangat dalam membawakan tarian daerah tempat lahirnya.

Laily Qodriyah (20), perempuan berhidung mancung jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang, menari tarian tradisional asal Batang di hadapan ribuan pasang mata.

“Menurut saya menari merupakan ekspresi, emosi dan ide dalam bentuk gerakan yang indah,” ujar laily .

Laily, Afifah, Hani dan Syarifah menari dengan anggun dan cantik. Mereka nampak ceria dan penuh menghayati dalam membawakan tarian khas Batang, tari petik teh.

Tari petik teh sendiri merupakan sebuah tarian yang mengekspresikan kegembiraan pemetik teh di kala pagi menyongsong.

“Tari ini diambil dari keseharian para pemetik teh, kan daerah kami dulunya banyak pohon teh”, ujar Laily dengan senyum merona.

Laily dan teman-temanya terlihat sangat cantik, raut wajah penuh keceriaan para pekerja pemetik teh ikut terpancar dari cara mereka menari.

Dengan menggendong bakul di belakang dan berbaju merah lengkap sudah keindahan budaya Indonesia. Puluhan gawai tidak pernah berhenti mengabadikan gerakan Laily yang sangat indah itu.

Laily belajar menari sejak ia melihat anak-anak Keluarga Mahasiswa batang Semarang (KMBS) menari. Setiap ada event mahasiswa Batang, tarian petik teh selalu ada, seperti acara Masa Orientasi Kader Dasar, Gerakan Pendidikan Desa dan lain sebagainya.

“Awalnya saya melihat aja dan belajar sendiri”, ucap Laily.

Perempuan yang tidak terlalu suka memakai make up tersebut, awalnya tidak punya keinginan ikut menari. Namun setelah jadi pengurus KMBS hatinya tergerak untuk memberikan sesuatu untuk Orda, salah satunya adalah tarian.

“Semakin jauh maka semakin cinta mas”, sebuah moto hidup Laily yang diucapkanya saat diwawancarai kru Justisia.

Walau dia yang hidup di tanah rantau dan jauh dari tempat lahirnya, tapi tidak menutup kecintaanya kepada daerahnya.

Lewat menari dan melestarikan budaya adalah bentuk kecintaan laily kepada kota Batang tercinta.

Perempuan tiga bersaudara itu juga mengungkapkan bahwa budaya tidak harus berupa tarian. Budaya bisa berupa gaya hidup, makanan, alat musik dan lain sebagainya. Namun tari petik teh adalah sebuah tarian yang selalu ada dalam banyak event di daerah tempat ayah Laily dilahirkan.

Feti prihatiningsih, ketua Orda Cilacap juga ikut unjuk taringnya. Dalam acara PBAK di lapangan utama pukul 10:50 WIB, Orda Cilacap membawakan tarian khas dari provinsi terpanjang di pulau jawa yakni Tari Gending Cilacap Bercahaya.

Khusnul Laily, merupakan salah satu personil dari tari Gending Cilacap Bercahaya. Ia menari dengan lincah. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi membuat tarian itu tambah unik. Khusnul menganggap penampilanya sebagai sebuah andil seleberasi dalam memeriahkan PBAK 2019.

Setidaknya, dua minggu sebelum pementasan parade budaya yang memeriahkan PBAK 2019. Khusnul sudah mulai latihan menari tari khas Gending Cilacap Bercahaya.

Lapangan UIN WAlisongo nampak hiruk pikuk dengan pertunjukan parade budaya siang itu. Mereka memikat para lembaga-lembaga pers dan sejumlah media untuk berdatangan.

Di beberapa serambi nampak jajaran dosen dan staf kampus sangat antusias menyaksikan pagelaran budaya itu. Setiap wajah seakan-akan mengekspresikan sebuah kegembiraan masing-masing
perempuan yang mengambil studi agama-agama, berperan menjadi leader di depan, di antara Khusnul dan Trimul.

Wanita asal Cilacap itu menari dengan diiringi musik beralulan gending. “Musik itu adalah perpaduan dengan mars pembangkit semangat dengan gending yang merupakan warisan budaya”, ucapnya.

Tari gending cilacap merupakan sebuah tarian yang membawa sebuah etos kerja tinggi sesuai dengan Cilacap Bercahya, yang berarti bersih elok rapi ceria hijau aman jaya.

Ia yang selalu memotivasi masyarakat cilacap dalam pembangunan, serta mengangkat citra cilacap.
Lewat baju berwarna biru berpaduan dengan merah menyala nampak jelas menggabarkan sebuah jiwa dengan semangat tinggi.

Maba terkesan

Roh-roh semangat juga ditunjukkan oleh mahasiswa baru (maba) UIN Walisongo Semarang. Walau mentari sudah hampir mencapai titik Zenit yang artinya sang raja siang mengantarkan sinarnya hampir sempurna.

Panas mentari sudah menggibas-gibas badan para maba, tapi tidak dengan apresiasinya.

Sejak awal pembukaan sampai berakhirnya acara di lapangan utama para maba tidak banyak yang keluar barisan. Mereka mengikuti dan antusias terhadap acara sampai usai.

Aisyah, perempuan asal pulau Borneo tetap standby di lapangan utama dari awal sampai akhir acara. Ia nampak begitu menikmati apa yang diberikan panitia. Walau hanya beralaskan plastik atau koran ia nampak bahagia, apalagi saat acara puncak.

“Menurut saya acara tadi menarik, terlebih saat dari daerah yang melempar-lempar sayur. Membuat maba jadi bergerak untuk meraihnya”, ucap perempuan yang lahir pada bulan Mei tersebut.

Setiap orang memang memliki pandangan yang berbeda, beda kepala maka beda pikiran walau sama-sama yang dilihat. Sama-sama melihat parade budaya namun pikiran mereka berbeda.

Menurut perempuan yang berasal dari Batang itu mengira parade budaya yang dikonsep oleh Dema akan berjalan monoton, karena alurnya bisa ditebak.

“Saya kira tadinya monoton, namun ternyata amazing!,” jelasnya saat ditanya oleh kru magang justisia.

Komentar singkatpun disampaikan oleh Thenada Af’idatul Lu’lu (18), hanya satu kata “mantap” untuk menanggapi sebuah acara yang sudah dikonsep oleh panitia lapangan ber minggu-mingu. Dengan konsep yang sangat rinci, bahkan puluhan juta harus dikorbankan untuk memeriahkan acara PBAK 2019.

Af’ida pun sempat berkomentar mengapa parade budaya tidak dilakukan di hadapan tiap fakultas saja karena yang duduk di belakang tidak bisa melihat sejelas yang duduk di bagian depan.

Puas dan tidak, menikmati atau acuh, itu semua adalah tentang rasa dan buah pikiran seseorang. Namun panitia sudah memberikan yang maksimal, para Orda juga telah andil dengan budayanya masing-masing. Mereka memeriahkan dan mencoba menyambut maba generasi Walisongo (Genwa) 2019 dengan semaksimal mungkin.

Mereka telah berussaha untuk membuat kemeriahan agar mereka bergembira. Kegembiraan yang bisa menggetarkan hati dan mencapai kepuasan. Kebanggaan yang dirasa oleh semua orang yang terbentuk secara kolektif dari mereka, pihak Universitas yang bekerja sama dengan panitia, para penari serta para Genwa 19.

Reporter: Zainul Fuad
Penulis: Zainul Fuad
Editor: Harly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here